Islam di negeri ini mempunyai wujud yang bermacam-macam, ada yang moderat bahkan radikal. Islam radikal tidak jelas keberadaannya, ada yang menampakkan rupa, ada juga yang bersembunyi dibalik muka. Namun, NU menawarkan kemoderatan Islam yang menghargai semua perbedaan dan menjunjung kebudayaan. Hal ini karena proses akulturasi antar agama. Tak heran jika NU menjadi kiblat toleransi oleh dunia.

Sejak 94 tahun yang lalu, Nahdlatul Ulama lahir di atas keberagaman negeri. Saat ini, NU adalah organisasi terbesar di negeri ini, yang para pengikutnya tersebar di seluruh pelosok ibu pertiwi, bahkan terdapat di berbagai sebagian penjuru bumi. Mulai dari awal berdirinya, NU sudah menjadi organisasi moderat yang memperjuangkan keanekaragaman ini.

Berdirinya NU diprakarsa oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan para kiai termasyur se-Jawa dan Madura, yang menggelar pertemuan di Surabaya, yakni kediaman KH. Wahab Chasbullah. Berkumpulnya para kiai itu adalah untuk mengupayakan agar Islam tradisional di Nusantara dapat dipertahankan, maka dirasa perlu untuk dibentuk suatu wadah khusus, dan terbentuklah NU.

Namun jauh sebelumnya, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Mas Mansyur sudah mempelopori upaya yang sama. Saat itu, kiai Wahab mendirikan organisasi bernama Nahdlatul Wathan yang berarti kebangkitan Tanah Air, pada 1914 (Ahmad Zahro, 2004). Menurut Martin van Brulnessen dalam buku, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) menyebutkan, Nahdlatul Wathan merupakan sebuah lembaga pendidikan agama bercorak nasionalis moderat pertama di Nusantara.

Sementara itu, organisasi Islam NU merupakan representasi Muslim Tanah Air yang memiliki pandangan mendasar tentang konsep bernegara. NU adalah organisasi yang berpegang teguh dengan pandangan Islam moderat sebagai arus utama Islam yang mendukung penuh Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Mayoritas warga NU pada umumnya mempunyai paham keagamaan yang moderat (tawassuth) tanpa mengesampingkan keadaan sosial masyarakat yang multikultural.

Walakin, NU sedang diuji oleh kondisi sekarang yang dibentur-benturkan dengan isu keberagaman oleh kelompok gerakan radikal yang tidak menginginkan kehidupan damai umat. Saat ini, banyak muncul gerakan radikal yang membahayakan NKRI. Kelompok yang mencap, bahwa dirinya paling benar. Hal itu tidak dibenarkan, karena kelompok seperti itu tidak menghargai perbedaan yang telah terjalin selama ini. Untungnya NU selalu hadir, ketika intoleransi muncul dan toleransi diusik.

Dalam realitasnya, NU telah berjuang menebar toleransi dan selalu berusaha untuk terus kembangkan ajaran toleransi. Negara-negera di dunia sangat mengagumi situasi aman, rukun, dan saling menghormati dikalangan masyarakat Indonesia, yang dalam hidupnya dikelilingi dengan berbagai macam perbedaan. NU yang mengajarkan sikap toleran sangat berperan dalam mewujudkan situasi seperti itu, karena nilai-nilai toleran selalu diamalkan oleh warga NU (H Helmi Faisal Zaini, pada sambutan pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah, Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, di Purbalingga, Jumat 20 April 2018 lalu).

Di sisi lain, dalam bermasyarakat, NU mempunyai empat prinsip utama. Pertama, Tawasut dan I’tidal, yaitu moderat dan menjunjung keadilan. Kedua, Tasamuh, yaitu toleran terhadap perbedaan. Ketiga, Tawazun, yaitu seimbang dalam sikap khidmat pada Allah serta khidmat pada kemanusiaan dan lingkungan serta seimbang dalam menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Keempat, Amar makruf dan nahi munkar, yaitu mendorong perbuatan baik dan menolak atau mencegah semua hal yang merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Sementara itu, salah satu contoh ulama Nusantara pejuang toleransi adalah KH. Maimoen Zubaer. Mbah Moen merupakan tokoh ulama NU yang tak pernah lelah mendorong anak-anak muda NU untuk terus memperbaiki diri. Ia tak pernah berhenti memotivasi kader-kader muda NU untuk memajukan diri, terutama memajukan kiprahnya dalam membangun bangsa dan negara. Di sisi lain, dalam dakwahnya, Mbah Moen selalu memberikan siraman ceramah tentang indahnya bertoleransi dan menjaga keberagaman.

Dengan demikian, sudah jelas NU telah berjuang menjaga NKRI dari gerakan radikal yang mulai timbul, yang umumnya kelompok itu memandang non-Muslim sebagai musuh dan Muslim yang tidak sejalan juga sebagai musuh. Maka dari itu, dapat disimpulkan, sikap yang dimiliki NU jelas, bahwa NU adalah organisasi pejuang toleransi di negeri ini. Keberadaan NU yang selalu menjaga hubungan baik yang harmonis dengan menyelaraskan perbedaan antar agama adalah sikap asli NU.

%d blogger menyukai ini: