يارسول الله سلام عليك ، يارفيع الشان والدرج

عطفة ياجيرة العلم ، ياأهيل الجود والگرم

Alkisah, berbarengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 2 September 1960, Masjid Baiturrahim diresmikan secara sah. Besok harinya diselenggarakan sembahyang Jum’at. Al-Mukarrom KH. Wahab Chasbullah, Rois Aam Nahdlatul Ulama (NU) secara special meminta Presiden Bung Karno jadi imam shalat Jum’at pertama di masjid itu. Permohonan Kiai Wahab Chasbullah sangat penting bagi Proklamator Kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno, langsung menjawab insya Allah bersedia jadi imam shalat, ikut perintah Kiai. Ia merasa permintaan sang penggerak NU itu seperti ijazah perihal keislaman dan ketaatannya dalam menyembah Allah dan cintanya kepada Sang Rasul. Apalagi yang komando adalah KH. Wahab Chasbullah, ketua organisasi Islam terbesar di dunia. Kiai yang pernah malang melintang dalam dakwah, pernah menemui langsung, face to face dengan Raja Saudi Arabia yang berencana membongkar makam Rasulullah SAW. Raja Saudi akhirnya tunduk dan terkapar di hadapan Sang Kiai dari Nusantara.

Yang ngeri, terasa ada rasa buncah di jiwa, ada gelegak airmata yang mengalir di pipi pemimpin besar revolusi. Bung Karno terharu, meneteskan airmata pada peristiwa itu, mengharu-biru kala menjadi imam shalat.

Siapakah Bung Karno?

Mohon izin sahabat, sruputt kopi dulu! Mantab.

Saya kemarin nonton film yang keren dan top berjudul Long Walk to Freedom, mengisahkan perjalanan dan perjuangan Nelson Mandela dari Afrika Selatan. Menarik, ada pepatah dari bumi Afrika: Berjalanlah sebagaimana seorang pria. Seorang pria di bumi Indonesia yang kita banggakan bersama adalah Soekarno.

Dahulu rakyat Indonesia pernah berteriak, Hidup Soekarno, Hidup Soekarno? Dipuja setinggi langit di angkasa. Difanatikkan sefanatik-fanatiknya. Siapa yang bisa mengingkari gaung istilah “hidup mati untuk Soekarno”, yang kemudian oleh penggerak NU Kiai Wahab Chasbullah “diluruskan” kepada santrinya menjadi “Hidup dan mati untuk Allah Bersama Soekarno”, agar tidak menimbulkan salah paham ummat.

Adalah Bung Karno, pendiri bangsa yang mantab dan keren, bareng Moh. Hatta. Ia yang membangun Masjid Istiqlal bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1960-an.

Kita menghadirkan Bung Karno untuk milenial, untuk bangsa. Bung Karno yang cinta kepada Rasulullah Saw. Pastinya kita mendengar kisah Bung Karno merangkak menuju pusara kekasih utama Allah Taala. Soekarno adalah pengikut Sang nabi yang sholeh, nasionalis dan cinta marhaen. Ia melaksanakan firman-firman Tuhan di bumi manusia dengan segenap problemnya.

Bung Karno, Presiden pertama Indonesia, pemimpin yang besar dan terkenal dengan kesederhanaannya itu, pernah mengatakan dalam pidato terakhir kepresidenannya saat memperingati HUT RI tahun 1966,”djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!”  (Jas Merah). Bung Karno adalah bapak revolusi bangsa. Siapa yang tidak mengenal sosok beliau? Dunia mengenalnya sebagai pemimpin yang diperhitungkan.

Dalam buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno (2019), kita bisa menyaksikan bersama, kebesaran namanya. Pemimpin suatu negara dunia ketiga, yang keberadaannya tidak pernah dilirik, dipandang sebelah mata, menjadi diperhitungkan. Keakraban Bung Karno dengan pemimpin-pemimpin besar, seperti John F. Kennedy, Nikita Khruschev, dan Mao Zedong. Menjadi sejarah nyata, bahwa Bung Karno adalah pemimpin besar dan menjadi panutan tokoh-tokoh revolusi negara-negara dunia ketiga.

Ya, tentang Soekarno. Ia pernah berkata: Aku dipuja layaknya dewa dan dikutuk layaknya bandit. Ia sangat kontroversial, jasa besarnya untuk bangsa, dan pengabdiannya untuk tanah air tiada terkira. Banyak orang yang sudah membahasnya dari sudut tergelap dan terang benderangnya Bung Karno. Tentunya, akan sangat mendapatkan perhatian. Begitulah Bung Karno, hidupnya untuk rakyat kecil, demi marhaen, melawan penjajah yang menindas. Kaum marhaen adalah nama petani di Bandung Selatan. Sejak saat itulah Soekarno menyebut semua rakyat yang bernasib malang adalah rakyat marhaen. Mereka yang diperjuangkan Bung Karno dari awal hingga wafatnya. Marhaen masa lalu, masa kini dan masa depan, semua manusia yang tertindas, yang bernasib malang. Itulah tantangan pemimpin bangsa saat ini.

Jalan hidupnya untuk semua anak bangsa, begitulah Bung Karno. Bahkan hingga kini dan masa depan, Bung karno masih ada, tetap hidup di sini dan diziarahi.

Pemimpin Islam

Soekarno adalah pejuang yang bisa menyakinkan rakyat dan pejuang Kemerdekaan waktu itu, untuk Merdeka, 17 Agustus 1945. “Gorong leher saya, kalau besok pagi bangsa ini tidak merdeka,” teriak Bung Karno kepada Sukarni, tokoh kepala geng yang menculiknya di Rengas Dengklok, tempat legendaris.

Hanya Soekarno yang mungkin digandrungi saat ini, pemimpin besar yang selalu dikenang rakyatnya. Bung Karno sering dituduh oleh aktivis Islam sebagai pemimpin sekular. Ia tidak dianggap sebagai pemimpin Islam. Dalam politik ia dianggap mewakili nasionalis dan  nasionalis dianggap lawan Islam. Bung Karno adalah Muslim nasionalis yang ideologi Islamnya ditegakkan di atas pembelaan pada orang-orang tertindas. Bukan pada jidat yang terkelupas; pada perjuangan para Nabi, yang kesalehannya ditampakkan dalam perkhidmatan pada orang-orang miskin bukan pada rajinya sembahyang di malam yang dingin, dan senyap.

Tanggal 24 April 1960, Universitas al-Azhar al-Syarif di Kairo memberikan gelar doctor honoris causa dalam filsafat pada Presiden Soekarno.  Prof  Dr Mahmud Syaltut, rektor Al-Azhar berkata,“ Universitas al-Azhar pada hari ini menyambut Paduka Yang Mulia selaku salah seorang Pemimpin Besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Islam. Menyambut seorang pejuang yang telah berkecimpung dalam perjuangan untuk membebaskan tanah airnya, rela berkorban demi keluhuran bangsanya, tanpa memperdulikan segala akibat, baik penjara, pengasingan dan pahit getir penderitaan dalam membela bangsa, menegakkan kemerdekaan dan mempertahankan kejayaan hidup.”

Sebuah anugerah gelar doktor sangat layak diberikan kepada Bung Karno oleh lembaga pendidikan Islam yang paling terhormat sepanjang sejarah Islam. Al-Azhar menyebut Bung Karno sebagai Pemimpin Besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Islam. Bung Karno adalah pemimpin besar umat Islam Indonesia yang masih dikenang di Mesir dan negara Asia, Afrika, tetapi dilupakan di negerinya sendiri. Yuk, kita kenang kembali Pemimpin Islam yang besar karena pengabdiannya kepada sesama umat manusia, bukan karena kekhusyukannya dalam berzikir dan berdoa seperti kita semua. Atau mungkin ngga ketiganya; berdzikir, berdoa dan berjuang. Ampunn!

Pikiran-Pikiran Besar

Kemerdekaan adalah pikiran besar Bung Karno. Merdeka baginya, tidak sekadar lepas dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme belaka. Namun, jauh lebih dari itu, kemerdekaan tak lain dan tak bukan ialah jembatan, satu jembatan emas, yang di seberang jembatan itulah disempurnakan masyarakat Indonesia. Disempurnakan, dalam artian menempa masyarakat kita dengan pengetahuan, kesadaran, dan pendidikan menuju hilir jembatan yang indah.

Bung Karno adalah sosok pemimpin yang peka terhadap bangsa dan rakyatnya. Dalam jiwanya terpatri magnet semangat dan kebangsaan yang menggelora dan menggema.

Ada satu kata yang harus kita ingat, setiap kali kita menghadapi masalah bangsa. Kata itu ialah Merdeka. Tanpa kemerdekaan tidak akan ada kesejahteraan. Tanpa kemerdekaan kita tidak dapat mengatur jalannya bernegara. Tanpa kemerdekaan kita tidak bisa ikut serta mengatur negara. Pada pidato 17 Agustus 1945, Bung Karno berkata, “Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah-air kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka! Negara Republik Indonesia. Merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita!”

Merdeka adalah membebaskan diri kita dari belenggu kekuasaan orang asing. Dalam negara merdeka, kita bebas menyusun negara kita baik ekonomi, politik, masyarakat, budaya seperti yang kita kehendaki, bukan seperti yang dikehendaki negara lain. Merdeka bukanlah tujuan. Merdeka hanyalah alat agar kita mengelola tanah air, negara dan bangsa Indonesia seperti yang diinginkan rakyat Indonesia, bukan seperti keinginan rakyat negara lainnya.  Lalu, untuk apa kita mengelola tanah air, negara, dan bangsa kita? Untuk membahagiakan seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk segelintir orang yang mengatas-namakan rakyat. Kenang kembali Bung Karno,“bagi saya kesejahteraan umum itu sumber kebahagiaan rakyat, negara tidak boleh menjadi tempat bagi penggarong atas nama kapital, atas nama komoditi.”

Pada pidato 17 Agustus 1965, yang diberinya judul “Capailah Bintang-bintang di Langit”, Bung Karno menyebutkan Trisakti, tiga karakteristik bangsa yang merdeka: berdaulat dalam politik,berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan.

Dalam ngopi senja ini, marilah kita lihat apakah kita sekarang jadi bangsa yang merdeka dengan ukuran Trisakti Bung Karno? Karena saat ini ekonomi mendikte politik dan kebudayaan. Marilah kita mengukur situasi kita dalam kriteria kedua saja dahulu: berdikari dalam ekonomi. Apalagi berdikari dalam medis di tengah wabah pandemi Covid-19. Mampukah? Mohon jawabannya, segera.

Ketahuilah, bangsa Asia oleh Kishore Mahbubani dalam The Great Convergence, Asia, The West and The Logic of One World (2013) dikatakan memiliki takdir sejarah, yakni geografi, geography is destiny. Indonesia salah satunya yang ditakdirkan bernatur maritim, lautan, berbudaya bahari. Kekayaan alam, dari mulai hasil laut dan hasil darat, semuanya ada di bumi Nusantara, bahkan ragam seni budayanya.

Berapa luas tanah, luas daratan di Indonesia? 195 juta hektar. Kalau peta Indonesia dihamparkan di atas peta dunia, besarnya hamparan negeri ini terbentang sejak kota London, di Inggris, sampai Teheran, di Iran. 195 juta hektar. Lebih dari seluruh Negara Eropa. CATAT, dari 195 juta hektar itu, sekitar 178 juta hektar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing; perusahaan kelapa sawit, perusahaan minyak dan gas, pertambangan mineral dan batu bara, dan kehutanan. Mereka menguasai 93 persen dari tanah. Sisanya sekarang sedikit demi sedikit diambil mereka untuk pabrik, mal-mal, supermarket, hotel, dan sebagainya. Ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan ini, menangislah: Indonesia, tanah airku! Ah, tanah air itu bukan lagi milik kita!

Negeri kita belum merdeka. Menurut Bung Karno, kita harus melakukan aksi massa, menyadarkan mereka, bahwa tujuan perjuangan kita ialah menumbangkan stelsel kapitalisme, membebaskan negeri ini dari Neokolonialisme, menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang berdikari secara ekonomi. Itu baru namanya merdeka.

Tantangan dan ancaman abad 21 telah memancar di penjuru negeri. Apakah kita punya kesadaran lebih, ingin memerdekaan negeri dari penjajahan ekonomi, politik, dan budaya! Berat dan ampunnn! Presiden Jokowi dan KMA sepertinya bisa.

Sang Rasul dan Bung Karno

Sejarawan Barat bernama Will Durant dalam The Story Civilization(1939), pernah berucap kala itu,”jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, dia seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu mana pun; belum pernah ada orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia”.

Thomas Caryle, pakar sejarah juga yang sering dikutip Bung Karno berkata dalam On Heroes and Hero Worship,” Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi ke Granada.”   

Mereka berdua melukiskan kebesaran Sang Rasul. Padahal tak pernah ketemu dengan suami tercinta Khadijah al-Kubra. Tak pernah mendengar dan memandang paras wajah Sang Nabi. Mereka juga tak beriman terhadap apa yang disabdakan.  Hanya lewat lembaran-lembaran sejarah yang dibacanya, mereka tahu sosok ponakan Sayyidina Abu Thalib. Apa yang mereka sampaikan cukup berhasil menggambarkan kemuliaan Sang Nabi?

Bagaimana dengan kekaguman dan cinta Bung Karno kepada Sang Rasul?

Dulu ada pertanyaan dan kritik keras kepada Bung Karno, bahwa Pancasila yang ia temukan, digalinya kurang dalam. Kalau ia menggali terus pasti menemukan Islam. Bung Karno menjawab, Pancasila yang ia gali sangat dalam dan mendalam, dipersembahkan untuk bangsa. Kemudian dasar negara Pancasila distempel oleh Hadratussyaikh, dibarengi dengan salat tahajud, puasa, dzikir dan lainnya. Pancasila sangat Islami. Karena Bung Karno mengimani, mendalami Al-Quran dan teladan utama yakni Muhammad Sang Nabi. Mengapa al-Qur’an dan mengapa Nabi Muhammad SAW?

Karena Soekarno mengaku beragama Islam dan pencinta Nabi Muhammad SAW. Sebagai Muslim, ia banyak merujuk, dan menyandarkan pikiran besarnya, perbuatanya kepada kitab suci. Dan sebagai pengagum berat Sang Rasul, ia terus menggali pelajaran hidup dari beliau agar bisa dikontekstualisasikan dengan tantangan-tantangan yang dihadapinya, baik dalam mengelola negara (sebagai pemimpin, bapak bangsa) dan mengelola jalan hidupnya (sebagai pribadi). Bung Karno aktif menggali hikmah al-Quran dan hikmah melalui sosok Nabi. Ia cinta habaib, ulama dan Kyai dalam hidupnya. Sebagaimana kisah Pancasila yang resmi distempel oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Islam bagi Bung Karno adalah api revolusi, agama revolusioner untuk membebaskan penjajahan. Islam is center of revolution, jika tuntutan zaman memang menghendaki. Revolusi bukan barang baru dalam Islam. karena sejarah kelahiran Islam melalui figur Nabi Muhammad SAW adalah revolusi itu sendiri, ucap penuh semangat Bung Karno.

Bung Karno adalah seorang nasionalis yang selalu menempatkan agama Islam yang dibawa Sang Rasul sebagai bagian penting dalam sejarah bangsanya.

Dari tahun 1920 Bung Karno berpikir perihal Islam yang dinamis dengan zaman. Waktu kuliah di ITB tahun 1925, ia punya rancangan bikin masjid besar, di Bengkulu masa pengasingan juga membangun masjid, masjid syuhada di Jogja, masjid Maimun di Sumatera Utara. Kemudian ia bermusyawarah dengan Kiai Wahid Hasyim, Kiai Agus Salim, KH. Anwar Cokroaminoto, 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Sang Rasul, tiang pancang pertama pembangunan masjid Istiqlal dimulai. Istiqlal artinya Merdeka. Kode keras bahwa umat Islam di Indonesia adalah fondasi penting dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa. Dan Istiqlal juga adalah simbol kebhinekaan dan toleransi antar umat beragama.

Jadi kurang pas dan kurang tepat mas bro, kalau saat ini ada yang menuduh Soekarno adalah PKI, tokoh komunis, anti Islam, anti agama dan sekuler. Yang pasti Bung Karno adalah pecinta Rasulullah SAW, nabi kita semua yang penuh cinta kasih.  Ia takzim kepada Sang Rasul, saat ibadah haji dan berziarah ke pusaranya, ia merangkak melepaskan tanda-tanda kebesarannya sebagai Presiden dan hatinya luluh, bersimpuh merendah di hadapan Sang Rasul. Merebahkan diri sayap-sayap ketenarannya sebagai pemimpin besar revolusi yang menginspirasi negara-negara Asia dan Afrika untuk melawan penjajahan Barat. Ternyata Bung Karno, hanyalah debu di depan Sang Rasul, itulah adanya dan nyatanya, sebagaimana ucapan Maulana Rumi,”Aku hanyalah debu tanah di kaki Muhammad Sang Terpilih”.

Sekali lagi guys, Islam yang dibawa oleh Sang Rasul bagi Bung Karno adalah api revolusi, energi pergerakan dan daya juang perlawanan terhadap penindasan. Rasulullah SAW menurutnya adalah seorang revolusioner, hadir untuk merobohkan bangunan hitam sosial, politik, dan ekonomi di Jazirah Arab yang kacau balau dan jancuk. Sebuah kawasan tanpa nurani, tanpa kasih sayang terhadap sesama manusia. Penuh peperangan dan anarki tribalisme. Bahkan bayi-bayi perempuan yang baru lahir dengan tega dikubur hidup-hidup. Sebuah era jahiliah yang jangan sampai terjadi di era kekinian. Sungguh Mengerikan!

Sang Rasul mengajak manusia mencipta dunia baru berdasarkan ketakwaan, kemuliaan sebagai hamba, keadilan dan cinta. Pointnya adalah jika ummat manusia d zaman abad 21 ingin menemukan api revolusi melalui Islam, lihatlah kepada sejarah kehidupan Sang Rasul. Jejak langkah godam revolusinya meluluhlantakan berhala-berhala tirani dan cinta dunia. Kisah hidup Sang Rasul adalah drama nyata revolusi. Sangat terang benderang bahwa Sang Rasul adalah orang yang dinamis dan revolusioner. Di frekuensi inilah Bung Karno berjumpa dengan Sang Rasul di dalam atmosfer zaman dan waktu yang berbeda. Bahkan bisa disebut, Bung Karno ingin menjadi pelanjut revolusi para nabi.

Seluruh lekak-lekuk perjuangan para nabi, membuat Bung Karno terilhami, kepincut dalam hati. Akhirnya, menuju, melabuhkan cintanya kepada Sang Rasul panutan utama. Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah! Lalu berilah peringatan! Agungkan Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu! Dan tinggalkanlah perbuatan dosa! (QS. Al-Muddatsir [74]:1-5).

Bung Karno sebagai seorang Muslim, sudah menempatkan Sang Rasul sebagai role model dalam bergerak, membebaskan bangsanya dari penjajahan berabad-abad lamanya. Ya, bangun dari selimut. Itulah ayat al-Qur’an yang ia suka, mendarah daging dalam nadinya untuk melakukan perjuangan, sebagaimana sang Rasul. Bung Karno sudah mendamba dan mencinta Sang Rasul. Meneladaninya.

Lalu dimanakah cinta kita kepada Sang Rasul di zaman kemarahan abad 21?. Sebuah zaman yang kini diuji oleh saudara-saudara kita di Perancis yang belum tahu siapa sebenarnya Rasulullah SAW, seperti kasus karikatur Charlie Hebdo. Ketidaktahuan dunia Barat terhadap sosok mulia Sang Rasul menjadi tantangan tersendiri bagi ummat Islam di Indonesia.

Apa yang harus kita lakukan? Akankah kita marah-marah dan ekstrim melawannya? Boikot produk-produk Perancis? Ataukah kita galang manuver pencerahan untuk mengenalkan kembali Rasulullah SAW di seluruh dunia dengan cara-cara yang baik dan elegan? Bukan dengan cara memenggal kepala, yang jelas-jelas tak pernah dilakukan para Nabi dalam hidupnya. Tapi ternyata itu yang terjadi!

Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan, ucap Bung Karno. Mereka warga Perancis adalah saudara-saudara kita juga yang tidak tahu tentang sejatinya Sang Rasul sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Dengan momentum mengerikan di Perancis, yuk kita buktikan kabar gembira perihal cinta Sang Rasul kepada sesama manusia. Sang Rasul utusan untuk semua manusia, pemberi syafa’at di hari Kiamat kelak.

Khatimah

Sahabat fillah, meresapi ucapan Bung Karno itu penting. Ya, sesungguhnya untuk kita semua, untuk generasi milenial nasionalis: Saya tidak tahu akan diberi umur oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepada-Nya ialah supaya hidupku itu jadi hidup yang manfaat. Manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini aku panjatkan pada tiap tiap sembahyang.

Khairunnas anfaahum Linnas, demikian sabda Nabi Muhammad SAW yang wajib kita kenang dan laksanakan. Dan Bung Karno sudah lebih dulu melaksanakan piwulang sosok yang dicintainya sepanjang masa. Ia adalah Muslim yang taat. Tak heran ada pepatah: pejah gesang dherek Bung Karno. Kemudian diluruskan oleh Kyai Wahab Chasbullah:  Hidup dan mati untuk Allah, Bersama Bung Karno.

Karya besarnya bernama Pancasila, tak lain adalah anugerah Tuhan, Tuhannya semua makhluk. Yuk jangan abai dan jangan sampai generasi muda milenial terputus dengan sejarah pendiri bangsa, jadi generasi ahistoris. Ngga kenal siapa Bung Karno, Moh Hatta, Hadratussyaikh, Tan Malaka. Jangan sampai mereka tahunya Blacpink, Soju, BTS, Lee Min Ho, Gong Yoo dan Won Bin, Shah Rukh Khan, Erdogan, Donald Trumph, serta Kim Jong Un.

Bahkan jangan sampai anak cucu, adik-adik kita, tetangga sebelah ngga tahu siapa sebenarnya Sang Rasul. Dunia Barat juga tidak mengenal Sang Nabi. Serta warga penjuru dunia takut, phobia terhadap sosok agung kekasih Tuhan pencipta alam. Jika itu terjadi, maka sia-sialah kita hidup di dunia. Muspro! Kan ngga lucu guys!

Dalam buku berjudul Indonesia Merdeka, yang disusun berdarah-darah oleh Bung Karno, ada hal penting yakni:,“ Kenang-kenanglah pesan seorang pejuang nasional di Digul yang terdapat pada sebuah batu nisan di tempat pembuangannya, yang jauh dari sanak-keluarganya. Kata-kata itu ditulis di atas batu nisan yang sangat sederhana, tercantum syair yang mengharukan hati, ditulis saat detik-detik terakhir hidupnya:“De Toors, Onstoken In Den Nacht, Reik Ik Voorts, Aan Het Nageslacht”. Artinya: Obor yang Kunyalakan di malam gelap ini, Kuserahkan kepada generasi kemudian.

Generasi kemudian itu adalah kita semua dari Sabang sampai Merauke. Generasi milenial nasionalis yang berdzikir menyiasati angin neo-imperialisme dan oligarki global. Melanda Indonesia seperti halnya Covid 19, wabah bangsa. Seperti halnya wabah kebencian, kemarahan dan kemurkaan terhadap sesama atas nama identitas, harkat  dan agama yang saat ini melanda dari India sampai Amerika, menyebar di lintas benua.  

Hanya kepada Sang Rasul, kita meneladani jejak langkahnya dalam menjawab prahara di bumi manusia. Tentunya dengan sayap-sayap cinta. Seperti nyanyian keren dan merdu John Lenon,”all you need is love.”

Ala kulli hal, dari Bung Karno kita semua bisa belajar, bisa tahu, sadar diri dan bertekad meneladani Muhammad Sang Nabi di masa kini.

Selalu jaga kesehatan kawan-kawan,
tetep ngopi ya saudara-saudara se-bangsa.
Jangan lupa bahagia; dengan berbuat baik,
berempati kepada makhluk ilahi.

Salam ngopi, Shollu alannabiy.[]

%d blogger menyukai ini: