“Sesungguhnya Aku diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan makarim al-akhlak”. Perkataan Nabi Muhammad SAW yang tidak diragukan lagi kualitasnya ini begitu populer di kalangan masyarakat. Namun, hanya sebagian umat Islam saja yang benar-benar memahami dan meneladani akhlak Rasulullah SAW, salah satunya akhlak Rasulullah SAW saat menghadapi haters.

Rasulullah SAW yang selalu menghiasi perkataan dan perbuatannya dengan akhlak al-karimah dalam berdakwah, tidak hanya memiliki sahabat dan pengikut yang menjalankan ajarannya, tetapi juga mempunyai haters, sekelompok orang yang membenci dan menolak ajaran yang dibawanya dengan cara memaki dan menyakiti, bahkan dalam beberapa waktu bermaksud membunuh.

Haters Rasulullah SAW pada saat itu tidak hanya terdiri dari orang-orang musyrik dan munafik (konglomerat Quraisy). Lebih dari itu, keluarga dekat Nabi SAW, Abu Jahal sang paman dan istrinya Ummu Jamil kerap menjadi dalang dari penderitaan yang dialami Nabi SAW. Kisah-kisah tersebut valid tertuang dalam kitab Shahih Bukhari, tepatnya dalam bab tentang penderitaan yang dihadapi Nabi SAW dari orang-orang musyrik dan munafik.

Salah satu kisah diceritakan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. “Kami tengah bersama Rasulullah SAW di Masjidil Haram. Ketika Rasulullah SAW mengerjakan shalat, Abu Jahal berkata, adakah seseorang di antara kalian yang mau mengambil kotoran unta dari Bani Fulan, lalu ia mau melemparkannya kepada Muhammad yang sedang shalat itu?

Kemudian, berdiri Uqbah ibn Abi Mu’ith ibn Abi Amr ibn Umayyah,mengambil kotoran unta dan melemparkannya ke punggung Rasulullah SAW yang tengah bersujud. Rasulullah SAW tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fathimah, putrinya, bergegas membersihkan kotoran dan membuangnya. Rasulullah SAW berdoa, “Wahai Tuhanku, kuserahkan Quraisy kepada-Mu” sebanyak tiga kali. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW berdoa, “ya Allah, turunkan laknat-Mu kepada segolongan kaum Quraisy”, lalu beliau menyebutkan beberapa nama. Ibnu mas’ud, sahabat Nabi SAW menutup ceritanya dengan pernyataan, “maka aku melihat mereka semuanya terbunuh dalam perang Badar.”

Sungguh, betapa hancur hati para sahabat saat menyaksikan penghinaan terhadap Rasulullah SAW itu. Ketidakmampuan menolong Rasulullah SAW menyingkirkan kotoran unta dari punggungnya ketika itu disebabkan kekuatan quraisy yang masih mendominasi. Namun, kekuatan kaum Quraisy musyrik dan munafik tidak lantas membuat iman para sahabat goyah, justru menguat berkat akhlak Rasulullah SAW yang tidak membalas perilaku mereka dengan cara melemparkan kotoran unta.

Jika ditarik ke masa kini, umat Islam yang benar-benar menerapkan akhlak al-karimah Rasulullah SAW saat menghadapi perilaku haters dapat dihitung jari. Salah satu fenomena yang dekat dengan kita, antara pendukung Persib dan Persija yang saling berbalas kebencian berupa hinaan dan tak jarang berbentuk kekerasan. Padahal, jika semua pihak meneladani akhlak Rasulullah SAW, niscaya kebencian menjelma kebaikan dan kasih sayang.

Tidak hanya kebencian dalam bentuk perilaku, cacian dan hinaan di awal masa dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan juga bertubi-tubi dilontarkan. Masih dalam kitab Shahih al-Bukhari dalam bab Adab, dikisahkan Rasulullah SAW kerap menerima hate speech (ujaran kebencian) dari haters sekelompok Yahudi. Diceritakan bahwa mereka sengaja mendatangi rumah Rasulullah SAW hanya untuk menghinanya, bahkan menyumpahi mati. Tertulis al-sam ‘alaik! Yang berarti, Muhammad matilah kau! Mendengar ini, Aisyah sebagai istri Nabi SAW marah dan membalas, celaka kalian! Semoga Allah melaknat dan membenci kalian!

Akan tetapi, bagaimana respons Nabi SAW? Apakah beliau terpancing emosinya dan ikut membalas seperti yang dilakukan Aisyah istrinya? Nabi SAW berkata kepada Aisyah, “mahlan ya ‘Aisyah, alaiki bi al-rifqi wa iyyaki wa al-unf aw al-fuhsy”. “Tenang Aisyah, tetaplah berperilaku lembut, tak usah emosi dan berkata kotor”, begitu nasihat Nabi SAW kepada istrinya untuk tetap berkepala dingin. Demikian kebesaran hati Rasulullah SAW saat menghadapi cacian dan makian haters.

Rasulullah SAW yang paling baik akhlaknya saja masih memiliki haters sampai saat ini, apalagi kita yang masih berusaha menerapkan akhlak al-karimah dalam setiap ucapan dan tindakan. Siapa saja haters yang beraksi menyerang diri, hendaknya kita meneladani sikap Nabi SAW dengan cara bersabar, tetap berperilaku baik dan lembut, serta mendoakan agar ia diberikan petunjuk oleh Allah SWT. Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW merupakan teladan (role model) paling ideal bagi seluruh umat manusia saat menghadapi haters. Hinaan tidak dibalas hinaan, cacian tidak dibalas dengan cacian, ujaran kebencian tidak dibalas dengan ujaran kebencian pula. Namun, keburukan dari haters dibalas dengan kebaikan, sehingga terlihat jelas, mana yang berakhlak al-karimah dan mana yang tidak.

%d blogger menyukai ini: