Membicarakan etos kerja Nabi, sama dengan membahas bagaimana beliau menjalankan peran-peran selama hidupnya. Apapun yang beliau lakukan selalu dilengkapi dengan kebaikan sikap dan pandangan yang positif. Menyandang peran sebagai utusan Allah SWT, tidak lantas menjadikan Rasulullah SAW bebas dari aktivitas ekonomi. Pun demikian, dimensi kemanusiaan beliau ini sama sekali tak mengurangi derajat kemuliaannya.

Etos kerja ialah refleksi dari sikap hidup yang mendasar dalam bekerja. Hal tersebut juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai transenden (utama) sebagai pembentuk karakter dalam hidup. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang diyakini.

Bisa dibilang, Nabi sejak kecil telah terkonstruk menjadi pribadi yang mandiri dan tahu diri. Sepeninggal ibunda dan kakeknya, beliau diasuh oleh sang paman, Abu Thalib, yang tak cukup kaya dengan beban hidup yang relatif besar. Muhammad kecil tergerak hatinya untuk turut ambil bagian dalam meringankan tanggungan keluarga pamannya.

Di usia sekitar delapan tahun, Nabi menjadi penggembala kambing milik salah satu kolega Abu Thalib yang terkenal kaya. Menjadi buruh gembala adalah pilihan pekerjaan yang paling memungkinkan dan realistis kala itu karena tak perlu mengeluarkan modal. Nabi menerima upah yang tak seberapa setelah memulangkan gembalaan kepada empunya. Nabi amat giat dan menikmati pekerjaannya. Padang terbuka tempat gembalaan, sekaligus menjadi wahananya bermain. Bekerja sejak belia tak menjadikan Nabi kehilangan kebahagiaan masa kecilnya. Sembari menggembala, Nabi memiliki momen untuk menikmati dan menghayati keindahan apa yang terhampar di hadapannya.

Kelak di kemudian hari, beliau menyabdakan kebanggaannya atas profesinya sebagai penggembala, seperti Nabi-nabi sebelumnya. Layaknya Nabi Daud dan Musa yang seprofesi dengannya. Ibnu Hajar al-Asqalani menuturkan bahwa hikmah dari profesi penggembala ialah sarana untuk melatih karakter kepemimpinan sebelum bertugas sebagai pembimbing umat.

Lepas dari fase itu, Nabi memutar haluan. Pada usia 12 tahun, beliau turut serta dalam perjalanan bisnis pamannya menuju Syam. Seperti diceritakan dalam Q.S. Al-Quraisy, masyarakat Quraisy memang kerap mengadakan perjalanan dagang menuju wilayah berbeda di tiap musim panas dan musim dingin. Menggeluti dunia perdagangan, karakter mulia Nabi semakin menonjol. Beliau dikenal sebagai pedagang yang cakap, jujur, ulet, dan profesional. Nabi mengantongi predikat al-Amin (yang terpercaya) berkat watak amanah dan kejujurannya yang diakui seantero Mekkah.

Ditilik dari aspek sosio-geografis, Mekkah memang menjadi tanah kelahiran saudagar dan para pebisnis ulung. Suatu ketika, Sayyidah Khadijah, konglomerat kenamaan Mekkah tengah membutuhkan pekerja. Ibnu Hisyam mengisahkan dalam Tarikh-nya, bahwa Khadijah tertarik untuk bekerja sama dengan beliau setelah tahu kemuliaan akhlak dan kejujurannya. Nabi Muhammad pun kemudian bekerja kepadanya.

Untuk kali kedua, Nabi bersafari dagang menuju Syam dengan ditemani Maisaroh (budak laki-laki Khadijah). Kali ini dalam misi dagang sebagai utusan Khadijah. Nabi sukses besar dan meraup banyak untung. Di bawah kendali Muhammad, grafik neraca penjualan bisnis Khadijah pun melonjak naik. Hal ini, secara pribadi membuat Khadijah kagum kepada Nabi.

Menurut informasi dari Maisaroh, banyak pembeli yang terkesan dengan kejujuran dan kerendahan hati Nabi Muhammad dalam berniaga. Aura positif yang selalu terpancar dari tindak-tanduk Nabi selalu meninggalkan kesan baik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi lawan bicaranya.

Sebelum secara normatif menyabdakan nasihat kebajikan, periode pra-kenabian Rasulullah SAW adalah preseden konkret yang kemudian melegitimasi teori-teori yang beliau utarakan setelah resmi menjadi utusan, termasuk dalam perihal bekerja. Singkatnya, Nabi tidak hanya bicara teori, tetapi juga nyata melakukannya. Masa belia Muhammad adalah pergulatan usaha untuk bertahan hidup dengan cara yang baik dan legal.

Rasulullah SAW mencela siapapun yang berpangku tangan. Setiap orang, oleh beliau diperintahkan untuk bekerja, karena dalam peluh usaha, terdapat kemuliaan di sana. Bekerja ialah ibarat pemanfaatan sumber daya yang telah dikaruniakan Allah kepada para makhluk. Dalam satu riwayat, Nabi menegur sahabatnya yang mengira bahwa ibadah di masjid sepanjang hari tanpa bekerja dianggap sudah cukup. Dengan laku demikian, dia justru akan menjadi beban bagi orang lain, dan hal ini dikecam oleh Nabi.

Melalui dakwahnya, Rasulullah SAW telah menanamkan ajaran tentang pandangan hidup yang baik dan benar kepada umatnya dalam memandang dunia. Yang termasuk dalam kategori ibadah tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah saja. Menghidupi diri dengan bekerja juga merupakan ibadah. Tuhan dan utusan-Nya meridhainya.

Bekerja menjadi pondasi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam al-Quran kita kerap menemui lafaz iman bersanding dengan lafaz amal (perbuatan). Islam sangat mendorong tiap Muslim untuk bekerja dengan penuh kesungguhan dan optimasi serta etos kerja yang tinggi (al-Mishri,2006:6). Allah juga tak akan mengubah nasib seseorang tanpa ada inisiasi upaya yang ia lakukan terlebih dahulu (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 11).

Banyak firman lain yang menyeru umat manusia untuk bekerja, sekaligus dikabarkan kemuliaan dan keutamaan yang menyertainya. Seperti dinarasikan dalam Q.S. At-Taubah [9]: 105 dan Q.S. Al-An’am [6]: 135. Rasulullah SAW juga sangat menghargai hasil jerih payah tangan kita sendiri. Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan hasil pekerjaannya sendiri, dan bahwasanya Nabi Daud makan dari hasil pekerjaannya sendiri”. (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW tidak bekerja untuk menumpuk harta duniawi. Beliau menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan untuk menjemput keridhaan Tuhan. Bahasa sikap Nabi, baik sebelum maupun setelah periode kenabian telah menampilkan sikap yang gigih, jujur, dan penuh tanggungjawab dalam bekerja. Penyertaan dimensi transenden dalam bekerja yang dilakukan Nabi mendorong terwujudnya moral unggul dan menunjukkan etos kerja beliau.

Merujuk pada temuan Max Weber dalam karyanya Die Protetantische Ethik und Der Geist Des Kapitalimus (1905). Dalam studi tersebut, disebutkan bahwa keyakinan meraih surga Tuhan telah mendorong para Calvinis bekerja keras di dunia. Buku tersebut menerangkan tentang konsep etika kerja Protestan, di mana kerja keras, disiplin, dan sikap hemat ialah hasil dari seseorang yang menerapkan nilai-nilai Protestanisme. Dengan kata lain, spirit dan aspek transenden telah menjadi salah satu pemicu gerak kerja seseorang di muka bumi.

Di sini terlihat bahwa dimensi ketuhanan telah memainkan peran dalam peningkatan semangat dan kualitas kerja. Demikian halnya dalam Islam. Rasulullah SAW telah secara paripurna memberikan teladan kerja dengan penuh dedikasi, bertalikan spirit dan etika padat nilai ajaran Islam. Etika kerja tersebut telah teraktualisasi dalam etos kerja Nabi. Islam mengklaim bahwa bekerja sama derajatnya dengan ibadah, wujud dari bakti kepada Allah SWT.

Etika kerja Nabi tak lain adalah akhlak mulia beliau sendiri. Meneladani etos kerjanya Rasulullah SAW akan mengantarkan kita pada cara pandang yang futuristik, di mana dunia—ladang tempat bekerja—adalah sarana mencari bekal untuk kehidupan pasca-kematian. Moral mulia, tanggungjawab, dedikasi, dan penyertaan Tuhan adalah seperangkat instrumen untuk melakoni peran kita sebagai penjaga agama sekaligus pelestari dunia. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: