Menyebut nama Bung Karno, rasa-rasanya tiada habis kosa-kata pujian dilantunkan kepadanya. Saya pribadi tidak hanya menghormatinya sebagai putra Sang Fajar yang telah membawa sinar mentari kemerdekaan, tetapi juga mengagumi gagasan-gagasannya yang tiada pula usang dimakan zaman. Mendiskusikan Bung Karno sama artinya kita sedang mengabadikan sosoknya dalam sebuah pahatan kayu sebagai pendiri bangsa. Selain sebagai proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno pun sebagaimana kita tahu, ia adalah politikus ulung, orator hebat, nasionalis tulen, pencinta seni, dan pemimpin visioner.

Semangatnya yang membara, keilmuannya yang luas, dan gaya bicaranya yang tiada dua tidak mengherankan jika ia dipercayai oleh para pendiri bangsa lain menjadi nahkoda pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sutan Sjahrir pernah berkata kepada Tan Malaka, sebagaimana dikutip Rudolf Mrazek dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, “Kalau saja Anda populer 10% dari Sukarno kami akan mempertimbangkan Anda sebagai Presiden”. Pengakuan teradap kehebatan Bung Karno tidak hanya diakui oleh rakyat Indonesia, tetapi juga lawan-lawan politiknya. Bung Karno adalah pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya. Cita-citanya tidak kalah agung, ketimbang cinta-kasihnya kepada Indonesia dan seisinya.

Dikisahkan Abraham Panumbangan, dalam buku Jejak Langkah Bung Karno, kehidupan Bung Karno yang terlahir dari penderitaan menjadikan sebuah karakter tersendiri baginya. Penderitaan masa kelam bagi Bung Karno bukan menjadi alasan untuknya hidup memperkaya dan mencari kebahagiaan pribadi tatkala memegang kekuasaan. Justru sebaliknya, penderitaan membuatnya tumbuh menjadi seorang yang arif dan penuh dengan cinta dan kasih. Ia adalah sosok pemimpin yang pantang makan sebelum rakyat kenyang. Sungguh tauladan yang mengagumkan!

Hal demikian, yang sukar kita temukan dewasa ini terhadap para pemimpin kita. Kita malah acap kali disuplai dengan pergulatan para elite yang tidak juga berarti sedikit pun terhadap rakyat. Para elite lebih sering melontarkan cuitan-cuitan yang menjadi sumbu perpecahan dan kebencian, bukan perdamaian. Lupa terhadap kewajiban sebagai pemangku jabatan, pelayan, dan penyambung lidah rakyat. Mungkin, dari sekian banyak para elite hanya segelintir yang menyadari hakikatnya sebagai wakil dan pelayan rakyat. Lebih suka bertamasya di ruang ber-AC, daripada ke pelosok dan gang-gang sempit warga. Merasa lebih hebat bertemu dan tahu perkembangan sesama elite, daripada rakyat dan para fakir miskin yang terlantar di tempat-tempat yang kumuh. Seakan meniadakan amanat Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi: “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”

Padahal, Bung Karno sebagai pionir dan pemimpin pertama tiada sedikit pun memberikan teladan demikian. Bung Karono suka meliat rakyatnya bahagia, blusukan, dan bersapa-ria dengan para warga. Berdiskusi dan menjadi pendengar yang baik tentang keluhan, kesah, serta aspirasi-aspirasi para warga. Dikisahkan Eddi Ekison, wartawan istana era Bung Karno dalam buku Membaca Sukarno dari Jarak Paling Dekat, Bung Karno adalah Presiden yang hobi blusukan sebagaimana dilakukan Harun al-Rasyid, pemimpin ke-5 dinasti Abbasiyah yang masyhur. Bahkan, ia amat sedih tatkala mengetahui rakyatnya dirundung kesusahan. Karena bagi Bung Karno, pemimpin adalah memberi teladan bukan perintah.

Tidak hanya sampai di situ, Bung Karno pun berbekal dengan semangat kebangsaan dan keilmuannya yang luas, membuat ia menciptakan cita-cita bangsa yang luhur. Ia berharap kita di masa depan dapat berdikari, mandiri, menjadi bangsa yang besar, dan disegani. Bung Karno sebagimana dalam salah satu pidatonya, “Pancasila dan UUD 1945 menjadi landasan filosofi dan landasan konstitusional bangsa Indonesia yang dapat menjadi dasar dan jalan untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia, yakni masyarakat yang adil dan makmur, tanpa penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa.”

Bung Karno pun mengenalkan konsep Trisakti yang dijadikan senjata dalam melawan kolonialisme-imperialisme. Menurut ia, cita-cita besar masyarakat yang berkehidupan adil dan makmur tidak mungkin dapat tercapai tanpa bangsa yang berdaulat, bangsa yang mandiri, dan bangsa yang mempunyai kepribadian. Tidak mengherankan, jika dulu Bung Karno menolak Amerika Serikat untuk berinvestasi di Papua. Karena ia ingin Indonesia yang kaya raya sumber daya alamnya ini, dikelola dengan apik dan mandiri. Ia tidak ingin bangsa kita ketergantungan kepada bangsa-bangsa lain.

Namun, apa mau dikata, sejarah telah memberi pelajaran kepada kita. Bung Karno digulingkan kepemimpinannya, Amerika Serikat digdaya dengan sumber daya alam kita di Papua. “Nasi sudah menjadi bubur”, tetapi meminjam istilah Yudi Latif di Kompas.id edisi (22, Oktober 2020) “setidaknya masih bisa menjadikan bubur yang lebih enak.”

Pemimpin kita, sudah sepatutnya memikirkan ini. Mempresentasikan kembali keteladanan Bung Karno dalam menjadi pelayan dan orator takyat. Menjadi penyambung lidah rakyat yang dapat diteladani. Merefleksikan kembali, bumbu-bumbu apa yang harus digunakan dalam menyajikan bubur yang lezat. Memberi kebahagiaan, kemakmuran, dan ketenteraman kepada rakyat.

Rakyat merindukan pemimpin seperti Bung Karno yang penuh cita-cita luhur kebangsaan dan cinta kasihnya kepada rakyat yang tak ternilai, bukan pemimpin yang lupa daratan!

%d blogger menyukai ini: