Membicarakan tentang Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal Gus Dur memang tidak akan pernah selesai. Sosok fenomenal dan kontroversi yang telah mewariskan berbagai khazanah keilmuan yang luar biasa. Aspek kemanusiaan menjadi perhatian utama seorang Gus Dur dalam setiap pemikiran, pandangan, serta gerak langkahnya. Tak heran, jika di batu nisannya tertulis here rest a humanist, di sini tempat istrahatnya seorang humanis. Sosok yang dekat dengan siapa saja dan banyak mencintainya.

Kiai dari kalangan Nahdliyyin yang pernah menduduki posisi sebagai Presiden ke-4 ini memiliki kontribusi serta pengaruh kuat di Indonesia bahkan di dunia. Hal ini karena  seorang Gus Dur dalam sepak terjangnya, baik itu sebagai pemimpin pemerintahan maupun pemimpin di organisasi kemasyarakatan, seperti Nahdlatul Ulama (NU) memang tidak pernah membeda-bedakan setiap orang atau kelompok tertentu.

Dalam karya Syaiful Arif yang berjudul Humanisme Gus Dur, mengatakan bahwa Gus Dur bukan seorang tokoh kiai saja, melainkan juga sosok guru bangsa, ia bukan hanya bapak Pluralisme, melainkan juga bapak kemanusiaan, karena Pluralisme Gus Dur merupakan salah satu komitmennya atas kemanusiaan. Ia adalah sosok yang dibutuhkan bukan hanya untuk melindungi hak umat Islam, tetapi juga umat lainnya.

            Seorang Gus Dur memang sudah tiada, akan tetapi pemikiran dan ide-idenya tidak akan pernah mati. Pemikiranya adalah suatu peninggalan yang harus di jaga, karena menawarkan bagaiman menjadi orang yang bijaksana dalam memperjuang kebersamaan dan keutuhan NKRI. Kemanusiaan Gus Dur bukanlah berasal dari Barat yang sekuler, yang lahir dari kritik atas hegemoni agama, melainkan lahir dari kemuliaan Islam atas manusia. Kemanusiaan ala Gus Dur melalui Islam komunitarian, sebuah prinsip yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam dan rujukan pada perwujudan masyarakat yang adil.

Dalam pemikiran Gus Dur kita akan mengerti bahwa tugas kemanusiaan adalah tugas ketuhanan. Kemanusiaan Gus Dur adalah kemanusiaan yang berketuhanan. Sementara ketuhanan Gus Dur adalah ketuhanan yang berkemanusiaan. Artinya, perjuangan Gus Dur untuk memuliakan harkat dan martabat manusia dipahami sebagai pelaksanaan atas perintah Tuhan. Sementara keyakinan Gus Dur pada Tuhan diamalkan melalui kemanusiaan, yang akhirnya bukan hanya terletak pada penggalian kemanusiaan dalam Islam, tetapi juga strategi ‘penanggulangan’ dehumanisasi Islam.

Dalam wawancaranya bersama Kompas (17/03/09), Gus Dur mengatakan bahwa watak bangsa Indonesia selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan kelompok. Kenyataan itu menurutnya tidak dapat ditolak oleh siapapun. Ia juga menganggap bahwa Bangsa Indonesia sesungguhnya masih memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Itu sebabnya, berbagai kesulitan yang dihadapi bangsa ini akan selalu mendapatkan solusi.

Sementara itu, tak sedikit orang yang belum paham terhadap tindakan yang dilakukan oleh Gus Dur, termasuk ketika ia membela kelompok Ahmadiyah dan Tionghoa. Cerminan kemanusiaan Gus Dur tergambar pula dalam upayanya menjalin kedekatan dengan para eks tapol dan mendorong rekonsiliasi terkait tragedi 1965, membubarkan Departemen Penerangan demi memberikan ruang seluas-luasnya bagi kebebasan pers, dan berkampanye bagi Ahok di Pilgub Bangka Belitung tahun 2007. Namun, itulah Gus dur, dengan pemikiran serta segudang humornya yang nakal, tetapi luar biasa cerdas, ia konsisten mengkritik ketidakadilan.

Rekam jejak Gus Dur menunjukkan bahwa ia tak pernah pilih-pilih manusia. Semuanya setara sebagai warga negara, meskipun latar belakang berbeda-beda. Ia menjadi teladan bahwa kita sepatutnya tak hanya merayakan pluralitas, tetapi juga menghidupinya bersama. Kebijakan atau sikap itulah yang dilakukan Gus Dur lebih jauh adalah tentang membela kemanusiaan, kesetaraan hak serta keadilan.

Titik pembeda lainnya ialah Gus Dur memperjuangkan pluralisme agama sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Menurutnya, kerukunan antar umat beragama harus tegak di atas terwujudnya kondisi sosial yang berkeadilan. Dalam keyakinan Gus Dur, tanpa tegaknya keadilan sosial, kerukunan hanyalah hal yang semu belaka. Maka dari itu, menjadi wajar apabila nyaris seluruh hidup Gus Dur diwakafkan untuk mewujudkan kerukunan antar agama dan menegakkan keadilan sosial.

Dengan demikian, Gus Dur adalah sosok yang menjadi teladan. Komitmennya untuk mewujudkan ikatan persaudaraan dan kerukunan. Meskipun, manusia bisa saja berbeda agama, berbeda bangsa, namun pada dasarnya semua manusia disatukan oleh nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Oleh karena itu, kesadaran di tengah masyarakat ihwal pentingnya membina kerukunan antar-umat beragama adalah bagian dari mengejawantahkan nilai kemanusiaan yang harus terus dijaga. Laiknya Gus Dur yang terus memperjuangkan kemanusiaan semasa hidupnya.

%d blogger menyukai ini: