Akal yang diciptakan Tuhan untuk manusia mampu menempatkannya pada kemuliaan. Dengan akal, manusia bisa menilai mana yang baik dan buruk. Itulah manusia yang memanfaatkan akal dengan sebaik-baiknya, seperti filsuf Muslim Ibnu Rusyd. Ia dinilai sebagai pembawa pengaruh terbesar atas dunia Barat yang mampu menghantarkan pada kemajuan peradaban. Meski Ibnu Ruysd dikenal rasionalis karena bisa memutuskan segalanya dengan akal. Tetapi ia bukanlah seorang ateis atau free thinker (pemikir bebas).

Menurut Ibnu Rusyd, hanya ajaran-ajaran iman yang turun melalui wahyu yang tidak bisa ditundukkan dengan akal. Sikap rasionalis Ibnu Rusyd menjadikannya ilmuwan Muslim yang menelusuri segala pengetahuan dengan ilmiah dalam banyak bidang keahlian. Karena itu ia disebut sebagai astronom Spanyol-Arab, juga dokter dan komentator Aristoteles.

Ibnu Rusyd memiliki nama lengkap Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd, Averros adalah panggilannya di dunia Barat. ia lahir, di Kordova (1126-1198). Dalam bidang kedokteran Ibnu Rusyd memiliki sumbangan yang signifikan dalam karya ensiklopedianya yang berjudul al-Kulliyat fi al-Thibb (generalitas dalam kedokteran). Di antara pernyataan dalam bukunya, ia mencetuskan bahwa seorang yang terkena cacar air ia tidak mungkin terserang lagi yang kedua kalinya. Meski demikian, sosoknya sebagai dokter telah ditenggelamkan oleh sosok Ibnu Rusyd yang menjadi filsuf dan komentator.

Sementara itu, terkait bimbingan akal digunakan Ibnu Rusyd merujuk pada al-Quran surat Ali-Imran ayat 190-191, yang memerintahkan manusia untuk mengetahui Allah SWT dengan merenungi segala ciptaannya. Beranjak dari sini, Ibnu Rusyd mulai tegas dengan akalnya hingga menjadi rasionalis. Akan tetapi tidak memutlakan akal seutuhnya (free thinker) dan berani bertanggung jawab atas pemikiran yang diambilnya.

Nalar rasional Ibnu Rusyd kemudian memunculkan komentar kritisnya mencakup berbagai hal. Di antaranya tentang teologi Islam ditunjukkan pada empat madzhab yang paling terkenal, yakni Asya’ariyyah, Mu’tazilah, Bathiniyyah dan Hasyawiyyah. Berkaitan dengan aliran Hasyawiyyah cara mengetahui adanya Allah melalui sama’i, bukan akal. Perkara yang disinggungnya adalah pernyataannya tentang hari kebangkitan dan mengetahui adanya Allah serta sifat-sifatnya tak ada tempat bagi akal untuk memikirkannya. Bagi Madzhab Hasyawiyyah mengimani hal tersebut, cukup melalui perkara yang dibawa Rasulullah SAW. Pemikiran seperti ini oleh Ibnu Rusyd disanggah. Bahwa akal masih bisa merespons, sebagaimana ayat yang telah dijelaskan sebelumnya.

Dalam buku berjudul Kritik Wacana Teologi Islam  Komentar Kritis Muhammad Abed Al-Jabiri Terhadap Pemikiran Ibnu Rusyd (2019), memberikan penjelasan tentang penyimpangan-penyimpangan syariat yang ditunjukkan pada masyarakat umum dan menyingkap segala aspek yang melemahkan sudut logika dengan lebih rasional.

Sebagai seorang Muslim, Ibnu Rusyd berargumen sesuai sumber utama yakni al-Quran, di sisi lain ia mengkontradiksikannya dengan akal dan pengetahuan sains yang filosofis. Dalam pandangan Philip K Hitti dalam buku History of The Arabs, Ibnu Rusyd dinilai sebagai Muslim yang rasionalis, tetapi bukan seorang pemikir bebas (free thinker) atau ateis (2018: h.744).

Jika seorang agamawan yang menjauhi sikap kritis atau rasionalis dengan membebankan segala sesuatu berdasarkan syariat. Misalnya menghukumi pencurian dengan hukum potongan tangan, atau meniscayakan syariat Islam dalam negara yang padahal tidak semua orang menghendakinya. Perkara tersebutmereka para free thinker tak akan segan-segan merapat ke ateis.

Sebenarnya Ibnu Rusyd hanya mengajarkan kita untuk lebih terbuka dalam pemikiran. Menjadi seorang rasionalis tidak harus ateis. Maklum kiblat free thinker cenderung pada sains dan humanisme, termasuk pemikiran positif dari siapapun. Pada umumnya orang ateis melihat banyak beban dalam syariat atau ajaran-ajaran agama yang terlihat tidak humanis seperti potongan tangan bagi yang mencuri, menerapkan syariat Islam dalam negeri yang sebetulnya tidak dikehendaki oleh semua orang.

Menilik banyak ajaran agama seperti itu, menurut orang ateis memprioritaskan akal dengan sains dan sikap humanisme  lebih unggul dari ajaran agama apapun. Itu sebabnya, jika ada ajaran syariat yang berasal dari Tuhan saja masih memberatkan pemeluknya, maka mereka berpikir bahwa Tuhan tak jauh lebih baik dari akal manusia. Misalnya jika ada seorang yang ingin berpikir rasionalis dengan mengkritik Omnibus Law disertai aksi demo disepanjang jalan Tamrin kemarin  (08/10) itu boleh saja. Sebab kita mempunyai akal untuk bersifat kritis dan Indonesia adalah negara demokrasi. Namun bila sikapnya mulai menjadi pemikir bebas. Yang mana ia tak segan-segan melakukan pembakaran dan aksi anarkis lainnya, sebagai pengambilan representasi sikap atas penolakannya. Maka dari itu, justru yang dilakukannya itu bukanlah sikap yang rasionalis . Bahkan terkesan memaksakan sesuatu yang semestinya tidak seharusnya ditindaklanjuti secara berlebihan.

Oleh karena itu, Ibnu Rusyd mencoba mengkritisi segalanya dengan akal yang rasional agar tegas kalau argumen yang maksudkannya itu kokoh. Keimanannya yang membentengi Ibnu Rusyd menjadi seorang muslim yang tetap menyakini adanya Allah SWT untuk berada dalam jalur kebenaran.

Meski demikian, tak sedikit terjadi pro-kontra tentang pemikiran Ibnu Rusyd. Namun, kita bisa mengambil pelajaran dari Ibnu Rusyd tentang rasionalis-burhani. Yakni, melihat segala sesuatu dengan kritis yang berfondasikan pada keimanan. Peradaban mestinya tidak mandek karena kekurangan referensi ilmiah dan filosofis. Sifat tawakal, sabar, ikhlas dan lain-lain yang diajarkan dalam agama, mesti dibarengi strategi nalar kritis, demi merubah keadaan yang lebih baik atau beralih dari zona nyaman menuju zona dinamis.

Oleh karena itu, menjadi Muslim yang rasionalis tetapi bukan pemikir bebas barang tentu kita juga bisa mempengaruhi peradaban Islam, bahkan dunia untuk lebih berjaya sebagaimana pencapaian Ibnu Rusyd.

%d blogger menyukai ini: