Pancasila  sebagai  dasar  dan falsafah negara merupakan konsensus politik tatkala perumusan berdirinya negara Indonesia dilakukan melalui sidang BPUPKI. Dari persidangan yang cukup alot itu, banyak kalangan dan tokoh-tokoh terlibat. Baik dari golongan nasionalis, sosialis, maupun agamis. Tak terkecuali Islam dan santri yang diwakilikan oleh KH Wahid hasyim.

Santri mempunyai satu tempat khusus dan ikatan erat dalam terwujudnya Indonesia. Perjuangan dan perlawanan kaum santri di Surabaya (arek-arek Suroboyo), merupakan salah satu catatan sejarah yang mesti diamini. Para santri rela mengorbankan darah dan nyawanya demi menjaga kesatuan dan keutuhan NKRI dari serangan NICA dan sekutunya. Bahkan, hal ini terjadi bukan hanya di Surabaya, perjuangan menentang penjajah, juga dilakukan oleh para santri bersama para pejuang lainnya di pelbagai pelosok negeri.

Tidak hanya di situ, santri sebagai kalangan yang tidak terlepas dari perjuangan kemerdekaan, tercatat bahkan ikut campur tangan dalam perumusan dasar berbangsa-bernegara, yakni Pancasila. Asad Shihab sebagaimana dalam bukunya al-Alamah Muhammad Hasyim Asy’ari Pejuang Kemerdekaan Indonesia menyatakan, bahwa sesungguhnya peletak dasar kemerdekaan bagi Indonesia adalah K.H Hasyim Asy’ari. Mengejutkan, Pancasila yang selama ini kita tahu sebagai statefundamentalnorm lahir hanya dari pergumulan panjang antara tokoh di sidang BPUPKI. Ternyata ada fakta lain di balik semua itu, sehingga Pancasila yang kita pegang sekarang ini adalah tidak lain dari hasil tashih K.H Hasyim Asy’ari. Yang merupakan sosok Kiai yang dihormati oleh para santri.

Semangat, strategi, dan motivasi para santri dalam usaha memerdekaan bangsa ini dari penjajah terbukti membangkitkan ruhul jihad, (A. Helmi Faisal Zaini, Nasionalisme Kaum Sarungan, 2018). Semangat jihad dalam membela serta mempertahankan keutuhan bangsa dan negara. Banyak fakta-fakta yang menggambarkan perjuangan santri dan para kiai melawan penjajah. Perlawanan yang memang benar-benar lahir dari rasa kecintaan terhadap Tanah Airnya (nasionalisme). Dikisahkan, sebagaimana oleh berita Kedaoelatan Rakjat edisi 26 November 1945, “kesaktian kiai-kiai di medan pertempuran, ternyata bukan hanya berita lagi, tetapi kita saksikan sendiri. Banyak motier yang melempem, bom tidak meledak, dan lain sebagainya.”

Tidak hanya ikut andil dalam perumusan Pancasila dan perlawanan terhadap penjajah, tetapi juga santri konsisten membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa-benrnegara. Jika ditanya, dewasa ini, siapa yang masih menjadikan Pancasila sebagai pendoman dalam berbangsa-bernegara, maka santri adalah jawabannya. Berbekal warisan Hubbul Wathan minal iman dari Hadratussyaikh KH Hasyim asy’ari, santri teguh menjadikan Indonesia negara yang satu dan menyatukan. Dan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negaranya.

Sejak di pesantren, para santri diajarkan bagaimana menjadi Muslim dan warga negara yang baik. Diajarkan kebaikan dan menebar kebaikan. Tatkala Pancasila mewasiatkan nilai ketuhanan, kemanusiaan yang adil, beradab, persatuan, bijaksana, dan musyawarah. Santri bahkan sudah akrab dengan kosa kata itu. Santri sejak dini, ditempa para kiai pesantren untuk selalu hidup gotong-royong, menjadi manusia yang humanis, berkeadaban, dan berlaku adil sejak dalam pikiran. KH Said Aqil Siradj dalam salah satu dawuhnya menegaskan, “santri itu harus senang bersama. Makan, sakit,  dan bahagia bersama”. Di pesantren santri selalu diajarkan cara menyelesaikan masalah dengan musyawarah menuju mufakat (bahtsul masail).

Gus Dur menjadi bukti, bahwa santri bisa berbuat lebih dari sekadar urusan agama dan akhirat. Selain menjadi Presiden pertama dari kalangan santri. Gus Dur pun sebagai santri telah diakui menjadi Muslim yang mencerminkan nilai-nilai agama dan kebangsaan yang baik. Merangkul golongan lemah, melindungi monoritas, dan bahkan lebih mengedepankan kepentingan orang banyak  ketimbang kepentingannya sendiri.

Maka dari itu, cukup mengherankan jika ada santri menanyakan bagaimana cara kita mencintai negeri ini. Sedangkan, sejak dalam pesantren nasionalisme dan nilai-nilai Pancasila selalu diajari dan dipraktikan oleh para kiai. KH. A. Mustofa Bisri (2016) sebagaimana pernah menyatakan, bahwa santri adalah siapa pun yang berakhlak, tawadhu’ kepada Allah SWT, orang lain, serta melihat Tanah Air sebagai rumahnya. Gus Mus sapaan akrab KH. A. Mustofa Bisri mendefinisikan siapapun yang berakhlak, rendah hati, mengamalkan nilai-nilai agama Islam yang santun adalah santri. Menghormati yang tua dan mengayomi yang muda. Pun santri adalah ia yang dalam jiwanya paling dalam tertanam semangat nasionalisme. Mencintai Tanah Air yang menjadi tempat ia lahir dan disemayamkan nanti.

Dari sekian itu, jelas perjuangan santri dalam berbangsa-bernegara tidak dapat diragukan lagi. Santri tidak hanya sibuk mengaji ilmu agama, akhirat, tetapi juga terlibat dalam perjuangan, perlawanan mengusir penjajah, dan perumusan Pancasila. Santri pun konsisten mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam bentuk nyata di tengah masyarakat. 

Santri mesti selalu menjadi garda terdepan dalam perjuangan kebangsaan. Menjadi tauladan dalam berlaku damai dan kebaikan. Berlaku adil, menjaga persatuan, ukhuwah wathaniyyah, ukhuwwah Islamiyyah, dan ukhuwwah basyariyyah. Ke depan, santri haruslah menjadi pembaharu, dan pembawa peradaban. Dapat bersaing dalam berbagai disiplin ilmu. Santri harus memperkenalkan kepada dunia, bahwa Pancasila tidak hanya diberlakukan sebagai pedoman berbangsa-bernegara, tetapi juga sumber peradaban Indonesia untuk dunia.

%d blogger menyukai ini: