Rihlah yang ditempuh Ibnu Batutah saat menjelajahi dunia memberi kesan dari setiap tempat yang didatanginya. Peristiwa memilukan yang dialaminya adalah ketika ia mengunjungi suatu wilayah yang tengah terjangkit wabah. Dalam catatannya, Ibnu Batutah melihat banyak manusia tak bernyawa tergeletak disertai hiruk pikuk tangisan warga setempat yang terus bergeming.

Ibnu Batutah merupakan traveler Muslim paling fenomenal di dunia. Nama lengkapnya Abu ‘Abdallah Muhammad ibn ‘Abdallah ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Lawati ibn Batutah. Ia lahir tanggal 25 Februari 1304, di Tangier, Maroko. Ibnu Batutah merupakan pelancong pertama dalam sejarah. Ia seorang yang tangguh mengarungi sejumlah negara lewat jalur darat ataupun lautan.

Kala itu, ia tak ada tandingannya, meski setelahnya muncul pula beberapa tokoh yang menjelajahi dunia, seperti Marcopolo asal Italia. Terhitung 120.000 km perjalanan yang ditempuhnya. Sebuah pencapaian yang fantastis, catatan selama perjalanannya diabadikan dalam buku berjudul Rihlah yang ditemukan Al-Jazair.

Petualangan Ibnu Batutah bermula ketika ia hendak melakukan ibadah haji ke Makkah. Sepanjang ia menuju Makkah, dalam perjalanannya ia menghampiri beberapa negara untuk dilewati. Setibanya di Makkah dan usai melakukan ibadah haji, Ibnu Batutah tak langsung kembali ke kampung halamannya. Minatnya untuk terus berjelajah kian besar, hingga ia terakhir tinggal bersama ayah dan ibunya di Maroko pada tahun 1325.

Pertama kalinya Ibnu Batutah mengunjungi Damaskus (1326), di sana ia menikahi seorang perempuan asal Maroko dan memiliki seorang anak. Namun hubungan keluarganya tak bertahan lama dan menceraikannya sebelum pergi ke Makkah. Pada tahun 1348 Ibnu Batutah singgah ke Baghdad, lalu menyeberangi gurun Suriah melalui rute unta melalui Palmyra (Tadmor), hingga mencapai Damaskus.

Manakala Ibnu Batutah sedang ada agenda perbincangan dengan para ulama di halab (Aleppo) tepatnya pada Juni 1348. Sekelompok pemudik dari arah selatan memberikan kabar, bahwa terjadi wabah mematikan tengah berkecamuk di Gaza dekat perbatasan Mesir. Ribuan orang telah sekarat setiap harinya. Mendapat kabar tersebut Ibnu Batutah, justru kembali ke wilayah selatan.

Dalam buku The Adventure of Ibnu Batutta: A Muslim Traveler of the Foutrtheenth Country, ketika Ibnu Batutah sampai di kota Horns, ia sadar keberadaanya telah diliputi wabah. Dalam catatannya, 300 orang telah meninggal. Selanjutnya di Damaskus, wabah kian menyerang. Kematian meningkat suram menjadi 2.000 sehari (2012: h. 275). Epidemi ini kemudian disebut Black Death sebagaimana dalam buku Petualangan Ibnu Battutah, seorang Musafir Muslim Abad14. Konon wabah tersebut berakhir dengan sendirinya pada tahun 1350. Kendati demikian di Eropa telah kehilangan banyak nyawa sepertiga penduduknya. Di Mesir yang semula warganya berjumlah 500.000, kini populasinya telah menurun menjadi 200.000.

Wabah tersebut telah melumpuhkan manusia yang hidup di masanya. Mendadak religiusitas manusianya menjadi meninggi. Semua aktivitas duniawi terhenti, orang-orang berpuasa selama tiga hari berturut-turut.  Pada akhir periode ini, para amir dan seluruh masyarakat berkumpul di masjid agung. Seluruh penduduk kota ikut dalam eksodus baik pria, wanita, maupun anak-anak. Masing-masing pemeluk agama membawa kitab sucinya. Turut memanjatkan doa dengan berurai air mata yang terus mengalir, memohon kebaikan Tuhan agar bencana wabah cepat terhenti. Tak ada catatan medis yang pasti tentang wabah Black Death. Ibnu Batutah sendiri tidak berbicara apa-apa mengapa dirinya bisa selamat melintasi wabah ganas itu.

Adapun wabah yang kini tengah terjadi di Tanah Air dan hampir seluruh dunia semoga segera membaik, tergantung kita cara menyikapi kondisinya. Apapun yang terjadi kita mesti bersyukur, sebab Covid-19 tidak sesuram wabah Black Death yang pernah terjadi, disaksikan langsung oleh Ibnu Batutah.

Akhirnya, kendati terbatas karena wabah, kita masih bisa melakukan aktivitas dan menjadi produktif. Tidak ada alasan keterbatasan dalam memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar, berkumpul bersama sanak keluarga. Dan utamanya, wabah ini mengajarkan kita pentingnya mentradisikan pola hidup sehat dan teratur. Tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan yang diinstruksikan pemerintah dan jangan panik atas segala ujian kehidupan.

%d blogger menyukai ini: