Di kala keilmuan masih terpisahkan antara sistem pendidikan pesantren dan pendidikan Belanda, justru KH. Ahmad Dahlan mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut. Mengingat akan jasanya dalam mempelopori modernisme pendidikan Indonesia. Akhirnya ia ditetapkan oleh pemerintah sebagai tokoh pahlawan nasional dengan surat keputusan presiden No. 657 tahun 1961.

KH. Ahmad Dahlan dengan nama kecilnya, Muhammad Darwis, lahir pada tahun 1868 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Lahir dari keluarga yang cukup terpandang, sebab ayahnya KH. Abu Bakar bin Kiai Sulaiman merupakan salah satu khatib di Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta. Sedangkan ibunya adalah putri H. Ibrahim bin KH. Hasan, seorang pejabat penghulu kesultanan.

Dalam proses menuntut ilmu, masa kecil Muhammad Darwis tidak belajar di sekolah formal, karena sikap skeptis orang-orang Muslim yang melarang anak-anaknya untuk belajar di sekolah gubernemen (Belanda). Jadi ia hanya belajar dengan sistem pengajian bersama ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikannya bersama ulama-ulama di Yogyakarta untuk belajar tafsir, hadis dan bahasa Arab dan fikih.

Berkat bantuan kakaknya Haji Shaleh, pada tahun 1980 M, ia dikirim ke Makkah untuk memperdalam pengetahuan agama Islam, seperti belajar seni membaca Al-Quran, tafsir, tauhid, hukum dan falak (perbintangan). Di Mekkah Muhammad Darwis hanya belajar kurang lebih dari satu tahun, walaupun begitu ia sangat memanfaatkan waktu singkatnya dengan intens berdialog dengan para pembaharu dari Timur-Tengah, seperti Jamal al-Din Al-Afghani, Rasyid Ridha, Muhammad Ibn Abd Wahhab, dan Muhammad Abduh.

Selesainya belajar dari Timur Tengah, ia mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan yang terinspirasi dari nama seorang mufti terkenal dari Madzhab Syafi’i di Makkah, yakni Ahmad bin Zaini Dahlan.

Proses penempaan Kiai Dahlan selama belajar di Makkah sangat mempengaruhi pemikirannya untuk melakukan pembaharuan, salah satunya tentang pendidikan. Baginya pendidikan memiliki peranan penting untuk menyiapkan kader-kader Islam yang berkualitas. Sebab itu, pada tanggal 01 Desember 1911 Kiai Dahlan mendirikan sekolah dasar Islam swasta di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum disisipi dan diampu oleh beberapa orang pribumi, seperti sistem yang ada di sekolah gubernemen.

Puncaknya sebagai pendiri organisasi Muhammadiyah, Kiai Dahlan mempunyai pengikut yang setia dan siap berjuang bersama untuk merespons tantangan zaman. Dengan ini, ia mengajak kawan-kawannya untuk melanjutkan perjuangan dengan pendidikan sebagaimana sekolah yang didirikan sebelumnya. Yaitu mengadopsi sistem pendidikan gubernemen atau model Barat yang dinilai paling terbaik dan maju, serta berisikan materi pelajaran umum. Kemudian disempurnakan dengan bahan mata pendidikan agama Islam.

Pendidikan adalah tonggak kemajuan suatu bangsa. Kiai Dahlan sebagai tokoh besar Muslim Indonesia, menyadari seutuhnya sikap yang diambilnya saat ini adalah hal yang menurutnya tepat. Pandangannya terhadap dualisme dalam sistem pendidikan Indonesia, menggugah dirinya untuk memnuculkan ide dan berinisiatif melakukan pembaruan.

Umat Muslim akan tertinggal jika ia mengesampingkan mata pelajaran umum yang selama ini ditentang masyarakat lama. Pembahruan sistem pendidikan harus diadakan, karena bagaimanapun sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan Belanda memiliki keunggulannya masing-masing.  

Maka dari itu, untuk mendapat kedua keutamaan dari sistem pendidikan tersebut, strateginya tidak lain dengan menggabungkan keduanya. Bak jembatan penghubung dua jalan, strategi Kiai Dahlan berhasil untuk memajukan modernisme pendidikan di Indonesia, yang telah dipikirkannya jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Sepanjang perjalanan Kiai Dahlan mewujudkan usahanya dihadapi begitu banyak rintangan. Terlebih, zaman dahulu adalah masa serba keterbatasan. Walaupun demikian ia tak mudah putus asa dan terus memperjuangkan dan memerdekakan dari daya pikir yang membelenggu.

Kiai Dahlan adalah sosok yang selalu harum namanya. Bung Karno pernah mengatakan dalam pidatonya saat Mukhtamar Muhammadiyah setengah abad 25 November 1962 di Senayan, akan kekagumannya kepada sosok pembaharu ini. Bung Karno mengakui ia kerap kali menghadiri tabligh-tabligh Kiai Dahlan yang diadakan seminggu tiga kali di Kota Surabaya dan menjejaki kemanapun tabligh akbar yang digelarnya.

Bagi Bung Karno, bahasan dalam tabligh Kiai Dahlan itu mencerahkan, utamanya yang berhubungan dengan pemahaman Islam yang memihak pada orang-orang kecil (teologi Al-Maun). Sosoknya juga bisa dijumpai dalam film Sang Pencerah (2010), yang mengisahkan perjuangan Kiai Dahlan melawan pelbagai kalangan, baik dari pihak keluarga, ulama dan para kolonial Belanda yang menantang pemikiran dan tindak-tanduk pembaharuannya.

KH.Ahmad Dahlan menutup usianya yang ke-55 pada tanggal 23 Februari 1923 di Yogyakarta. Melalui jasa yang terhormat ini, bangsa Indonesia hendaknya mengambil teladan dari kerja keras dan termotivasi bahwa perjalanan melakukan perubahan tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Perjuangan KH. Dahlan dalam memajukkan pendidikan adalah jerih payah yang ditekuninya untuk menciptakan kader-kader unggul. Senada dengan pengorbanannya, kita bangsa Indonesia mestinya melanjutkan pula perjuangan dalam pendidikan. Dengan belajar yang lebih tekun, dan menggali akal kritis kita untuk selalu melakukan pembaharuan-pembaharuan, demi menjadikan Indonesia yang sejahtera dan penuh peradaban.

%d blogger menyukai ini: