Hurun ‘Ain atau Hurun ‘In adalah bidadari surgawi yang dijanjikan Allah SWT menemani penghuni surga. “Bidadari-bidadari yang dipelihara dalam kemah-kemah” (QS. Ar-Rahman [55]:72); “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah” (QS. Al-Waqiah [56]:22).

Dalam Bahasa Indonesia, bidadari identik dengan makhluk sejenis perempuan yang berasal dari surga. Kamus Besar Bahasa Indonesia pada entri bidadari menjelaskan: putri atau dewi dari kayangan, perempuan yang elok. Singkat kata, bidadari adalah perempuan surgawi. Karenanya, ia diperuntukkan bagi kaum lelaki. Bahkan, hadis-hadis yang berkisah tentang kenikmatan surga, juga cenderung memanjakan kaum lelaki.

Simak misalnya “Rombongan yang pertama kali masuk surga bentuk mereka seperti bentuk rembulan di malam purnama, mereka tidak berludah, tidak beringus, tidak buang air. Bejana-bejana mereka dari emas, sisir-sisir mereka dari emas dan perak, pembakar gaharu mereka dari kayu india, keringat mereka beraroma misik, dan bagi setiap mereka dua orang istri, yang terlihat sum-sum betis mereka di balik daging karena kecantikan. Tidak ada perselisihan di antara mereka, tidak ada permusuhan, hati-hati mereka hati yang satu, mereka bertasbih kepada Allah setiap pagi dan petang” (HR Al-Bukhari No. 3073)

Ibnu Hajar berkata, “Dan sabda Nabi Muhammad SAW وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ  “dan bagi mereka masing-masing dua istri”,  yaitu istri dari para wanita dunia. Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dari Abu Hurairah tentang sifat penghuni surga yang paling rendah kedudukannya bahwasanya ia memiliki 72 bidadari selain istri-istrinya dari dunia” (Fathul Baari 6/325)

Karena itu, bidadari identik dengan perempuan, dan ia menjadi anugerah khusus kaum lelaki. Benarkah demikian? Siapa yang akan mendampingi para istri, adakah mereka harus ‘bersaing’ dengan 72 bidadari? Di bumi mereka mempertahankan pernikahan monogami, ternyata di surga harus berbagi? Seperti itukah?

Pernah seorang Ibu datang pada saya. Ia mengabarkan suaminya sudah menikah lagi. Ia bertanya, “Kalau meninggal nanti, di surga bersama siapakah suaminya? Istri tua atau istri muda?” Jawaban saya: Bu, bila masih ada kekuatiran seperti itu, Ibu belum di surga. Karena Surga bukan tempat kuatir atau gelisah. Takkan ada keresahan.”

Tak urung, kata bidadari menyisakan pertanyaan. Di mana keadilan Tuhan? Bagaimana dengan para istri, ditemani siapakah mereka nanti?

Untuk menjawab pertanyaan itu, ada dua sisi. Pertama, secara bahasa. Kata Hurun Ain sebenarnya netral, bagi muannats dan mudzakkar. Kata itu digunakan baik bagi yang feminin maupun maskulin. Mungkin pilihan terjemahan kata dalam bahasa Indonesia yang membuatnya terkesan perempuan. Atau, penerjemah yang juga cenderung maskulin memahaminya.

Terjemahan Bahasa Inggris pun demikian. Ada yang menerjemahkan “fair ones” untuk Ar-Rahman 72, dan “fair women” untuk Al-Waqi’ah 22. Padahal menurut kamus, kata hurun dan ain dapat digunakan untuk keduanya. Baik bagi laki-laki maupun perempuan. Hurun adalah bentuk jamak dari ahwar (untuk mudzakkar) dan hawra (untuk muannatas). Pertanyaan menyusul berikutnya: masih adakah laki dan perempuan di akhirat nanti?

Adapun sisi kedua adalah memahami konteks ‘bentuk lain’ atau yang disebut dengan ukhra. Akhirat bermakna yang lain. Ukhrawi selain sesuatu yang berkenaan dengan akhirat, juga berarti “yang lain”. Semua wujud dan amalan akan menemukan bentuk lainnya nanti setelah kematian. Ketika berkisah tentang surga, Al-Qur’an tidak pernah membedakan gender.

“…dan di surga terdapat segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwa…” (QS. Az-Zukhruf [43]:71). Al-Qur’an menggunakan kata ‘anfus: jiwa atau diri. Terjemahan Kementerian Agama memilih kata: hati. Jadi, nikmat di surga berlaku adil baik bagi laki-laki maupun perempuan. Semua jiwa beroleh apa yang diinginkannya.

Lalu, apa yang benar-benar diinginkan jiwa di sana nanti? Bila seorang beroleh 72 bidadari selain istrinya di dunia, akankah seorang istri juga beroleh 72 malaikat yang menemani selain suaminya? Gusti…bagaimana hal seperti itu terjadi?

Di sinilah, kita berpaling pada teladan dari keluarga Nabi Saw. Sesungguhnya kenikmatan surga adalah perumpamaan saja. QS. Ar-Ra’du [13]: 35 dan QS. Muhammad [47]: 15 mengawali kenikmatan surga dengan kata ‘matsal’: perumpamaan. Saya kutip dari terjemahan QS. Muhammad [47]: 15 berikut ini: “Perumpamaan taman surga yang dijanjikan bagi orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau…” Kenikmatan surgawi yang dikisahkan Al-Quran adalah perumpamaan, permisalan. Kenikmatan yang hakiki jauh lebih tinggi lagi dari itu.

Bagaimana dengan bidadari, bagaimana dengan pasangan kita? Sayyid Abdul Husain dalam Atyab al-Bayan fii Tafsir al-Qur’an 1:474 menjelaskan bahwa pasangan orang yang beriman mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari hurun ‘ain. Beliau mengutip riwayat ketika Ummu Salamah istri Rasulullah Saw bertanya pada Baginda Nabi SAW: “Demi ayah dan ibuku ya Rasulallah, apakah aku memiliki keutamaan dibanding mereka (hurun ‘ain)?” Baginda Nabi Saw menjawab, “Benar, karena shalat, puasa, dan ibadah kalian kepada Allah Swt.” (Bihar al-Anwar, 2:213)

Masih dari Baginda Nabi, Rasulullah SAW, “Yang paling bahagia di antara kalian adalah ia yang ditemani oleh pasangannya di surga nanti.” (Terjemah Farsi Syarh Syihab al-Akhbar, 246)

Laki-laki beriman bagi perempuan yang beriman. Perempuan yang beriman bagi laki-laki yang beriman pula. Bihar al-Anwar 8:215 kembali mengisahkannya: Annakum ilaa azwaazikum musytaaqun. Wa anna azwaajakum ilaikum musytaaqaat. Sungguh, kalian (para lelaki) akan merindukan pasangan kalian. Dan sesungguhnya pasangan kalian akan merindukan kalian.

Inilah juga yang difirmankan Al-Qur’an, “Masuklah kalian ke dalam surga, bersama pasangan kalian dalam keadaan bahagia.” (QS. Az-Zukhruf [43]:70). Terjemahan Kementerian Agama memilih kata “istri” sedangkan saya memilih kata “pasangan”. Bila istri, artinya yang masuk surga memang para lelaki terlebih dahulu…lalu para istri mereka bergabung bersama. Tidak bisakah para suami yang justru ikut istrinya yang salehah?

Mengapa saya terjemahkan kata ‘zauj’ dengan pasangan. Karena ‘zauj’ memang bermakna pasangan. Simak Al-Qur’an  “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasangan” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]:49) “Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba [78]:8). Zauj adalah pasangan. Bahasa Arab punya kata yang sama untuk suami dan istri, dengan perbedaan huruf ta marbuthah tanda perempuan di belakang. Zauj untuk suami dan zaujah untuk istri.

Karenanya, hurun ‘ain yang sejati justru adalah pasangan kita. Ia yang tingkat keruhaniannya sampai untuk itu.  Mereka yang saling tolong menolong dalam ketakwaan. Mereka yang teramat kuat saling merindukan.

Suatu saat, ayah saya berseloroh. Tapi menurut saya, beliau serius. Katanya, “Bila Bapak berpulang kelak…” Semoga Allah SWT memanjangkan usia Bapak dalam kesehatan, ketakwaan dan kebahagiaan, “…tolong edit sedikit doa yang umum sering dibaca.”

Apa itu? Umumnya kita akan berdoa, “Ya Allah, anugerahkan bagi almarhum keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri yang lebih baik dari istrinya…” Ayah saya berharap agar doa itu diedit. Beliau ingin didoakan agar di hari akhir nanti tetap digabungkan bersama dengan keluarganya, agar keluarganya disertakan bersamanya.

Kesimpulannya. Hurun ‘Ain sejati adalah pasangan kita. Bayangkan bahagianya kerinduan yang tersimpan. Ketika bentuk ruhaniah peribadatan menemukan sebaik-baiknya kecantikan, keelokan, kesempurnaan dalam penciptaan.

Tetapi, ternyata tidak semua suami istri ‘berpasangan’. Al-Qur’an pun menggunakan ragam kata yang berbeda untuk istri selain pasangan, yaitu imro’ah. Yang berarti perempuan (atau istri). Apa perbedaan imra’ah dan zaujah menurut Al-Qur’an?

Istri dan suami bagaimana yang tidak akan jadi pasangan di surga? Mereka yang sehidup tapi tidak bersama setelah raga melepas jiwa? Pasangan bagaimana yang sehidup dan tak pernah mati?

Miftah Fauzi Rakhmat, Cendekiawan Muslim, Lulusan Iran dan Suriah

%d blogger menyukai ini: