Terhitung sejak awal Maret 2020, yang berarti hampir delapan bulan, pandemi Covid-19 telah menjadi bagian dari keseharian kita. Wabah ini adalah pertanyaan yang masih selalu menyisakan ketidakpastian jawaban. Tambal sulam dalam mitigasi wabah yang pada awalnya kerap dianggap sebagai inkonsistensi kebijakan, kini seakan telah menjadi kewajaran dan kesepahaman bersama. Terlepas dari penanggulangan pemerintah yang dianggap lamban, pandemi Covid-19 adalah tugas kolektif kita.

Selain langkah medis dan upaya fisik dalam melawan wabah ini, aspek esoteris dalam memertahankan kesehatan diri adalah satu hal yang perlu diperhatikan. Membaca shalawat Nabi adalah upaya pengayaan hati dan dapat mendatangkan rahmat bagi pembacanya. Di masa pagebluk (wabah) seperti ini, melanggengkan shalawat thibb al-qulub adalah satu hal yang sangat dianjurkan.

Perintah bershalawat pun telah tersurat secara jelas dalam ayat yang berbunyi, Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (Q.S. Al-Ahzab: 56).

Shalawat thibb al-qulub merupakan gubahan Syekh Ahmad bin al-Adawi al-Maliki al-Khalawati al-Dardir, seorang ulama Mesir. Shalawat ini memiliki banyak nama, seperti shalawat syifa, thibbiyyah, dan nur al-abshar. Dari namanya, shalawat ini erat kaitannya dengan penawar hati untuk meraih ketenangan. Lafaz shalawat tersebut dapat ditemukan dalam kitab Sa’adatu al-Daraini fi al-Shalat ‘ala Sayyidi al-Kaunaini karya Syekh Yusuf bin Ismail yang riwayatnya dinisbatkan kepada Syekh Dardir di atas, bunyinya yaitu:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا، وَعَافِيَةِ الْاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا، وَنُوْرِ الْاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَقُوتِ الأرْوَاحِ وَغِذَائِهَا، وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada baginda kami, Nabi Muhammad SAW, sang penyembuh hati dan obatnya, memberikan kesehatan badan dan penawarnya, menjadi cahaya mata hati dan sinarnya, serta menjadi hidangan pokok dan asupan gizi bagi ruhani. Juga kepada keluarga dan sahabat beliau, semoga Engkau menganugerahi keselamatan.

Masih dalam kitab Sa’adatu al-Daraini fi al-Shalat ‘ala Sayyidi al-Kaunaini, tersebut bahwa shalawat ini adalah doa penyembuh zahir dan batin. Syekh Yusuf bin Ismail menuturkan kaifiah (tata cara) dalam membacanya. Dapat dibaca 2000 kali atau 400 kali untuk menyembuhkan pelbagai penyakit atas izin Allah SWT. Namun, pada dasarnya tak ada batasan bilangan dalam bershalawat. Berapapun jumlahnya, dengan niat apapun, baik dengan kehadiran hati maupun tidak ketika melafalkannya, shalawat adalah amalan yang akan selalu diterima.

Di adat Jawa, dikenal suatu tradisi untuk melepaskan diri dari mara bahaya yang disebut dengan budaya ruwatan. Dalam hal ini, shalawat Nabi dapat menjadi energi dan wasilah untuk meruwat diri dari ancaman pandemi yang menjadi momok dalam kehidupan kita. Shalawat dapat menjadi manajemen stres akibat kemalangan demi kemalangan karena kondisi yang serba sulit saat ini.

Melansir dari laman Tirto.id, Survei: 64,3% dari 1.522 Orang Cemas & Depresi karena Covid-19 (1/05/2020), sebanyak 64,3 persen dari 1.522 responden mengalami depresi sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Mereka mengalami trauma psikologis, seperti gangguan tidur, kewaspadaan berlebihan, mudah marah, serta merasa tidak bisa rileks dan nyaman.

Shalawat thibbiyyah ini memiliki fungsi ganda; fungsi preventif dan kuratif bagi keadaan batin dan fisik manusia. Otoritas kesehatan menyebutkan bahwa modal dasar menghadapi pandemi ini adalah kestabilan imunitas. Kewarasan jiwa dan ketenangan spiritual amat berpengaruh pada kesehatan jasmani, yang dengan sendirinya akan berimplikasi pada daya tahan tubuh kita. Hal itu dapat diraih dengan melatih diri dengan melanggengkan shalawat Nabi.

Secara lebih spesifik, terdapat syair yang bersesuaian untuk disenandungkan pada masa seperti sekarang ini. Jamak dikenal dengan sebutan syair li khomsatun. Syair ini berisi pujian atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau.  Lebih lengkapnya disebutkan sebagai berikut:

لِيْ خَمْسَةٌ أُطْفِيْ بِهَا حَرَّ الْوَبَاءِ الْحَاطِمَةِ # الْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَضَى وَابْنَاهُمَا وَفَاطِمَةَ

Aku berharap dientaskan dari panas derita wabah yang menyengsarakan, dengan wasilah lima pribadi luhur nan mulia yang aku punya, yaitu Nabi Muhammad SAW al-Musthafa, Sayyidina Ali al-Murtadha dan kedua putranya (Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein), serta Sayyidah Fatimah.

Kala wabah melanda, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari terlebih dahulu mengajak pada penguatan mental-spiritual supaya mampu menghadapinya dengan tenang dan terukur. Kiai Hasyim pun mengijazahkan syair di atas kepada masyarakat. Syair ini ditemukan dalam kitab kumpulan hizib tarekat Syadziliyah, dengan berjudul Majmu’ah al-Ahzab al-Syadziliyyah yang disusun oleh Imam Abu al-Hasan al-Syadzili.

Mengenai kemuliaan Rasulullah SAW dan ahlu al-bait beliau, telah disebutkan dalam banyak riwayat dan ayat. Sederhananya, berwasilah dengan shalawat dan doa di atas, ibarat kita sedang melobi Tuhan dengan menyuguhkan rasa cinta kita atas Rasulullah SAW serta keluarganya. Dengan harapan, “pihak ketiga” yang dicintai Allah SWT tersebut dapat mempermudah doa kita diijabah.

Pandemi ini harus dihalau dari segala sisi. Pemakaian masker, menggiatkan cuci tangan, dan penjagaan jarak fisik satu dengan yang lain adalah ikhtiar zahir-medis yang mendasar. Yang tak kalah penting adalah membentengi diri dengan menerapkan protokol kesehatan batin-spiritual untuk mendapati ketenangan. Ibnu Sina memberikan resep untuk membuang jauh-jauh kepanikan karena ketenangan ialah separuh dari obat. Sedangkan kepanikan justru sumber dari penyakit itu sendiri.

Shalawat Nabi dan syair adalah ekspresi cinta kita kepada Rasulullah SAW. Kita akan memanen rahmat yang berlipat hanya dengan menguluk salam dan shalawat pada beliau. Muatan magis shalawat thibb al-qulub dan hizib li khomsatun, atas izin Allah SWT, akan melepaskan diri kita dari jerat ketidaknyamanan dan energi negatif. Shalawat adalah kunci yang menyatukan frekuensi kehidupan di jagad raya ini. Mari galakkan mitigasi pandemi dengan shalawat Nabi. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: