Gus Mis: Membela Rasullah Bukan Dengan Kebencian

ISLAMRAMAH.CO, Pasca wafatnya Rasulullah SAW, tampuk kepemimpinan di dalam Islam berada di tangan sahabat. Proses pengangkatan kepemimpinannya pun beragam. Khalifah Abu Bakar as-Shidiq diangkat setelah para sahabat dari kaum Anshar dan Muhajirin berbaiat setia kepadanya lantaran Abu Bakar dinilai paling layak dan selalu mendampingi Rasulullah SAW semasa hidupnya. Lain halnya dengan khalifah Abu Bakar, khalifah Umar bin Khattab diangkat sebagai khalifah karena mendapatkan rekomendasi dari khalifah sebelumnya, yakni Abu Bakar.

Dilanjutkan dengan pengangkatan Utsman bin Affan, di mana prosesnya melalui perundingan para sesepuh arif bijaksana yang dikemudian hari dikenal sebagai ahlul halli wal aqdi. Namun khalifah Utsman bin Affan mengalami nasib yang cukup tragis ketika salah seorang sahabat yang tidak sepandangan dengannya lantas mengadakan kudeta hingga membunuhnya.

Kekhalifahan Utsman bin Affan meninggalkan masalah yang rumit. Para sahabat sempat terbelah hingga meletuslah perang Jamal dan perang Siffin. Pasca ketegangan mereda, mayoritas sahabat lalu membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, namun dalam masa kekhalifahan ini juga terjadi huru-hara, di mana akhirnya Imam Ali juga terbunuh. Pembunuh Ali ditengarai sebagai seorang yang memahami agama secara terkstual dan tidak memahami persoalan umat sebenarnya.

Dari peristiwa berdarah dan masa kelam penuh darah tersebut, kita mendapatkan pembelajaran bahwa tragedi semacam itu tidak boleh terjadi kembali. Biarlah masa lalu menjadi sejarah kelam yang harus kita ambil hikmahnya. Kewajiban kita selanjutnya adalah menjaga dan melestarikan perdamaian dunia. Apalagi nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah adalah ajaran kemanusiaan yang welas asih dan terciptanya tatanan dunia yang aman. Hal ini mengisyarakatkan, bahwa bila seseorang memang mencintai Rasulullah, maka seharusnya juga mencintai perdamaian.

Menanggapi maraknya fenomena kebencian mengatasnamakan agama mutakhir ini, intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Zuhairi Misrawi memberikan pandangan bahwa hal tersebut bukan atas dasar cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Karena menurut Gus Mis, sapaan akrabnya, bagaimana mungkin seseorang yang mencintai Nabi Muhammad SAW namun malah mengobarkan rasa bermusuhan, hal ini jelas-jelas bertentangan dengan misi Nabi sebagai rahmatan lil alamin.

“Mencintai Nabi Muhammad SAW dengan cara membunuh dan menebar kebencian adalah ajaran Khawarij. Nabi melarang pembunuhan dan termasuk dosa besar,” ungkap pengamat The Middle East Institute tersebut dalam akun twitter pribadinya.

Gus Mis menegaskan bahwa kecintaan terhadap Nabi akan melahirkan sikap ramah dan toleran serta welas asih. Sementara segala sikap yang mengobarkan kebencian bahkan pembolehan pembunuhan telah menyalahi prinsip-prinsip ajaran agama Islam. Jika ada kelompok yang sudah berbuat demikian, penegak hukum tentu diharapkan untuk bertindak tegas terhadap oknum yang berlindung dalam jubah agama tersebut, tentu dengan harapan agar kehidupan masyarakat berjalan dengan stabil.

Comments
Loading...