ISLAMRAMAH.CO, Ketahuilah, perintah-perintah Allah Swt terdiri dari dua macam; fardhu (wajib) dan nafilah (sunah). Perintah-perintah fardhu ibarat modal pokok dalam berniaga, yang darinya diperoleh keselamatan dari bencana. Sedangkan perintah-perintah yang termasuk kategori nafilah atau sunah merupakan keuntungan, yaitu kedudukan tinggi di sisi Allah.

Dalam sebuah hadis qudsi Rasulullah Saw bersabda, Allah rabaraka wa ta’ala –Yang berlipat-lipat kebajikanNya dan tersucikan dari segala yang tidak layak disandangNya- berfirman:

Hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan apa yang Aku wajibkan atas diri mereka. Seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, Aku akan menjadi mata yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi lisan yang dengannya ia berbicara, Aku akan menjadi tangan yang dengannya ia memegang, dan menjadi kaki yang dengannya ia berjalan.”

Hadis tersebut termuat dalam kitab Shahih al-Bukhari dengan redaksi, “….Dan tidak seorang hamba pun mendekatkan diri kepada-Ku dengan menjalankan ketaatan yang lebih Aku sukai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan atas dirinya.” Kalimat dalam hadis ini mencakup seluruh amalan fardhu, baik fardhu ‘ain (kewajiban individu) maupun fardhu kifayah (kewajiban kolektif).

Amalan-amalan fardhu yang dilaksanakan secara nyata contohnya mendirikan shalat atau membayar zakat, termasuk meninggalkan perbuatan haram seperti zina dan membunuh. Selain itu, juga meliputi amalan-amalan batin, seperti mengenal Allah, mencintaiNya, bertawakal, dan takut kepadaNya.

Selanjutnya, “…hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Artinya, bisa jadi seseorang yang hanya melaksanakan amalan-amalan wajib itu terdorong oleh rasa takut akan siksa Allah. Sedangkan seseorang tidak melaksanakan amalan-amalan sunah, melainkan karena dorongan semangat menghambakan diri pada Allah sehingga memperoleh balasan cinta Allah. Pernyataan terakhir ini merupakan tujuan akhir setiap hamba yang mendekatkan diri kepadaNya.

Adapun amalan nafilah atau sunah yang dimaksud hadis tersebut adalah amalan yang dikerjakan oleh mereka yang telah melaksanakan amalan wajib, bukan yang dikerjakan oleh orang-orang yang suka meninggalkan amalan-amalan wajib. Sebagian ulama mengatakan, “Orang yang disibukkan dengan amalan fardhu hingga lalai mengerjakan amalan sunah, hal itu dapat dimaklumi. Sedangkan orang yang disibukkan dengan amalan-amalan sunah hingga melalaikan amalan-amalan fardhu, maka ia adalah orang yang terperdaya.

%d blogger menyukai ini: