ISLAMRAMAH.CO, Kedua, orang yang menuntut ilmu kemudian mempergunakan ilmunya sebagai penopang kehidupan duniawi yang sementara. Tujuannya adalah untuk memperoleh kehormatan dan kemuliaan, kedudukan dan kekayaan materi sembari menyimpan keadaan jiwanya yang rapuh dalam hatinya. Ia pun menyadari betapa hina dan rendahnya tujuan yang hendak diraihnya dalam menuntut ilmu.

Orang seperti itu termasuk dalam golongan mereka yang mendekatkan diri pada malapetaka yang menghancurkan. Jika ajal mendatanginya secara tiba-tiba, sementara ia belum sempat bertobat dari tujuannya yang salah dalam menuntut ilmu, maka dikhawatirkan ia akan mati dalam keadaan su’ul khatimah, yakni mati dalam keadaan tidak beriman, na’udzubillah min dzalik.

Nasibnya berada dalam kehendak Allah; jika Allah berkehendak, ia akan diampuni, jika tidak, ia tidak akan diampuni. Apabila ia memperoleh taufik untuk bertobat sebelum ajal tiba, dan memiliki kesempatan untuk mengamalkan ilmunya serta menutupi kekurangan dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya, maka ia termasuk golongan yang memperoleh kemenangan. Dalam sebuah hadis disebutkan, siapa yang bertobat dari dosa, ia seperti orang yang tidak berdosa.

Ketiga, orang yang dikuasai atau dikendalikan oleh setan sehingga menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperbanyak kekayaan materi, membanggakan kedudukan, memamerkan kekuasaan diri dengan banyaknya pengikut. Ia pun menjadikan ilmunya sebagai alat untuk menipu dan memperdaya orang lain demi mencapai keinginan-keinginan duniawi.

Hal ini sebagaimana firman Allah swt., “Dan janganlah kamu menjadikan sumpah-sumpahmu sebagai (alat penipu yang menjadi) penyebab kerusakan di antara kamu.” (QS. An-Nahl [16]: 94), seraya menjadikan ilmu yang ia peroleh sebagai alat untuk mengejar kesenangan duniawi.

Manusia dalam kategori ini dalam hatinya tersimpan keyakinan bahwa dirinya telah memperoleh kedudukan tinggi di sisi Allah, karena ia telah menganggap dirinya sebagai ulama, dan telah menempatkan diri sebagai sosok ulama dalam gaya pakaian dan cara bicara. Namun, ia amat rakus terhadap kekayaan dunia, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Orang seperti ini termasuk orang-orang yang akan binasa dan bodoh, rusak akal pikirannya yang teperdaya oleh setan. Sebab, semua harapan untuk bertobat telah putus karena tobat yang bisa diharapkan telah hilang darinya. Sementara itu, ia mengira dirinya termasuk golongan muhsinin, yaitu mereka yang telah berbuat kebajikan dengan ilmunya. Ia telah mengabaikan firman Allah swt:

“Wahai orang-orang yang (mengaku) beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat.” (QS. As-Shaff [61]: 2-3). Lebih dari itu, ia termasuk golongan yang disebut oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Aku lebih mengkhawatirkan apa yang akan terjadi pada kalian daripada kekhawatiranku pada Dajjal.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, “Ulama yang buruk”.

Maksud dari pernyataan terakhir di atas adalah orang munafik yang banyak memiliki ilmu di bibir, tetapi hati mereka bodoh. Mereka tidak mengamalkan ilmunya; menjadikan ilmu sebagai mata pencaharian untuk makan dan sebagai alat untuk membanggakan diri. Ia mengajak manusia ke jalan Allah, padahal ia memperdaya dan menipu mereka. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya apa yang paling aku takutkan pada ummatku adalah orang munafik yang alim secara lisan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari ‘Umar bin Khaththab).

%d blogger menyukai ini: