ISLAMRAMAH.CO, Ketahuilah wahai pencari ilmu, keadaan manusia yang menuntut ilmu itu terbagi dalam tiga kategori. Pertama, orang yang menuntut ilmu dengan tujuan agar ilmunya menjadi bekal menuju akhirat, tempat kembali segala makhluk. Ia tidak memiliki tujuan lain dalam mencari ilmu, kecuali mengharap ridha Allah dan kehidupan akhirat. Inilah golongan manusia yang memperoleh balasan yang baik dan kemenangan berupa keselamatan dari azab Allah.

Adapun ciri-ciri ulama akhirat meliputi tiga hal: 1) tidak menjadikan ilmu sebagai alat mencari dunia; 2) menuntut ilmu dengan tujuan semata-mata meraih kebahagiaan akhirat sehingga berorientasi pada ilmu batin; 3) senantiasa menuntun kalbu untuk berjuang melawan hawa nafsu dan bersandar pada prinsip ittiba’ dalam menuntut ilmu, yakni meneladani Nabi Muhammad saw sang pembawa syariat dalam segala perbuatan dan ucapan.

Adapun tanda-tanda ulama yang tidak menjadikan ilmu sebagai alat mencari dunia di antaranya:

  • Bersegera melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
  • Menjauhi sifat berlebihan (kemewahan) dalam hal makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
  • Menjauhkan diri dan merasa tidak berhasrat bergaul dengan penguasa selain untuk memberi nasihat, atau untuk memperjuangkan hak, atau untuk memberi syafaat demi memperoleh ridha Allah.
  • Tidak tergesa-gesa dan gegabah dalam memberikan fatwa. Jika ada orang bertanya tentang hukum syariat, ia mengarahkan pada si penanya pada orang yang lebih alim dari dirinya.

Diriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia menuturkan, “Aku pernah mendatangi ‘Aisyah untuk bertanya kepadanya tentang hukum mengusap khuff (sepatu bot). ‘Aisyah menjawab, ‘Temuilah Ali bin Abi Thalib dan bertanyalah kepadanya, sebab ia pernah bepergian bersama Rasulullah Saw.’ Dan kami pun bertanya kepadanya.’

Dalam riwayat lain juga disebutkan bawah Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir pernah mendatangi Ibnu ‘Abbas dan bertanya kepadanya tentang shalat witir yang dilakukan Rasulullah saw. Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tidakkah engkau ingin kutunjukkan tentang orang yang paling mengetahui perihal witir Rasulullah?” Hisyam bertanya: “Siapa?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Aisyah. Datangilah ia dan bertanyalah kepadanya tentang hal itu.”

‘Imran bin Haththan meriwayatkan, “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang sutera, ia menjawab, ‘Datangilah Ibnu ‘Abbas, lalu kutanyakan perihal itu. Ibnu ‘Abbas menjawab, ‘Tanyakan kepada Ibnu ‘Umar.’ Aku pun bertanya kepada Ibnu ‘Umar, dan beliau menjawab, ‘Abu Hafshah (‘Umar bin Khaththab) memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw bersabda:

‘Sesungguhnya yang mengenakan pakaian dari sutera di dunia ini hanyalah orang-orang yang tidak memiliki bagian kesenangan hidup di akhirat.’ Ketahuilah, kesemuanya ini termasuk dalam bingkai nasihat.

%d blogger menyukai ini: