ISLAMRAMAH.CO, Alkisah, di tengah majelis ilmu Syekh Man’usy al-Maghribi yang dihadiri para ulama dari empat mazhab fikih, muncul perdebatan atas penolakan Syekh terhadap pendapat Imam Syafi’i berkenan dengan bab: “Jika satu syarat masuk ke dalam syarat yang lain maka tidak akan ada konsekuensi hukum, kecuali mendahulukan syarat yang terakhir.”Sebagai contoh, apabila engkau berkata kepada istrimu, “Bila engkau masuk rumah ini maka aku akan menalakmu.” Bagi Imam Syafi’i, hukum talak tidak terjadi kecuali bila wanita itu masuk ke dalam rumah. Sementara Syekh Man’usy al-Maghribi berpendapat, “Kami tidak menemukan dalil pendapat tersebut dalam ungkapan bangsa Arab.”

Syekh Hamdan, yang saat itu masih remaja berkata, “Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i itu benar adanya.” Seketika itu orang-orang di setiap sudut ruangan mencelanya, hanya karena ia masih muda belia.  Syekh Man’usy berkata, “Biarkan dia. Karena antara kita dan kebenaran tidak ada permusuhan, walaupun kebenaran itu datang dari seorang yang masih remaja. Sedangkan di antara kekhususan kami adalah menerima kebenaran dari mana pun datangnya, tidak terkecuali dari seorang pemuda orang tua. Berbeda dengan umat-umat terdahulu, bila orang tua melakukan kesalahan maka tidak ada seorang pun yang berani menegurnya. Akibatnya, syariat yang salah itu diamalkan oleh seluruh manusia di dunia ini.”

Kemudian Syekh Man’usy menoleh kepada Hamdan seraya berkata, “Katakanlah, apa pendapatmu?” Lalu Hamdan menjawab, “Bagaimana pendapatmu tentang perkataan seorang penyair dalam struktur al-Bahr al-Basith: Jika mereka takut lalu meminta bantuan kepada kami, niscaya mereka akan dapatkan dari kami tampat-tempat kemuliaan yang dihiasi kemurahan hati. Apa yang hendak kukatakan adalah pertolongan Allah itu dibutuhkan setelah adanya rasa takut, bukan sebelumnya. Adapun yang dikatakan Imam Syafi’i itu benar dan dibuktikan dengan pernyataan fasih bangsa Arab.”

Syekh Man’usy tersenyum pertanda senang, lantas berkata, “Benar yang engkau katakan, wahai anakku,” lalu ia pun mendoakannya. Syekh Hamdan mengatakan, “Aku bukanlah ahli debat, hanya saja aku merasa bahwa Imam Syafi’i-lah yang seolah-olah menggerakkan lidahku untuk berbicara.” Betapa indah ungkapan penyair berikut ini, seringkali aku perhatikan para pemuda, pertolongan Allah tampak pada diri mereka, maka mereka dibutuhkan oleh yang tua-tua.

Namun demikian, engkau dituntut untuk melakukan ibadah atas dasar ilmu yang kaudapat. Jika tidak maka ilmu yang kau dapat akan sia-sia karena ilmu ibarat pohon, sedangkan buahnya adalah ibadah. Maka dari itu, pertama kali yang harus kaulakukan adalah mengenal Allah sebelum menyembahNya. Sebab, bagaimana mungkin engkau menyembah Dzat yang tidak kauketahui asmaNya, sifat-sifatNya, serta apa yang menjadi sifat wajib dan mustahil bagiNya?

Boleh jadi engkau meyakini Dzat dan sifat-sifatNya secara tidak benar sehingga ibadah yang kaulakukan akan sia-sia. Apa yang wajib kauketahui adalah bahwa Tuhan yang memeliharamu adalah Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Hidup, Maha Berbicara, Maha Mendengar, dan Maha Melihat. Hanya Dia yang memiliki sifat Mahadahulu. Segala sesuatu selain Dia adalah baru, dan tidak ada sekutu bagiNya. Dia memiliki semua sifat kesempurnaan dan tersucikan dari sifat kekurangan, kefanaan, dan segala sifat yang menunjukkan ketidakabadian.

Dia mengutus hambaNya, junjungan kita Nabi Muhammad Saw. sebagai rasulNya, yang memiliki sifat shadiq (dapat dipercaya kebenarannya) menyangkut hukum-hukum Allah yang disampaikannya dan perkara-perkara akhirat yang diberitakannya, antara lain: hasyr (penghimpunan makhluk), nasyr (kebangkitan makhluk), azab kubur, pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, mizan (timbangan amal), shirat (jembatan), surga, neraka, haudh (telaga di surga), syafa’at, dan lain-lain.

%d blogger menyukai ini: