ISLAMRAMAH.CO, Umat Islam di Indonesia dan sekitar akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriah pada hari Rabu 22 Agustus 2018 sesuai ketetapan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama RI. Hari Raya ini diperingati untuk mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim yang berhasil memegang teguh keimanannya kepada Allah Swt. Tidak hanya itu, Hari Raya Idul Adha juga merupakan momentum di mana umat Islam menunaikan kewajiban ibadah Haji ke Baitullah.

Menurut Prof Dr Quraish Shihab, Hari Raya Idul Adha bisa disebut sebagai Hari Raya Haji atau Hari Raya korban. “Hari Raya Idul Adha dinamai juga Hari Raya Haji. Adha itu korban, jadi Hari Raya Korban,” Jelas tokoh mufassir terkemuka asal Indonesia itu dalam video yang diunggah di Channel Shihab dan Shihab, Senin (20/8)

Namun demikian, menurut Prof Quraish Shihab, banyak umat Islam yang pergi haji bolak-balik, tetapi boleh jadi hajinya tidak diterima. Ditolaknya ibadah haji seseorang karena biaya yang diperoleh untuk pergi haji berasal dari uang korupsi, ia tetap merasa angkuh dan tidak memedulikan banyak orang lain yang masih harus antri untuk menunggu jadwal berangkat ibadah haji.

“Alangkah banyaknya orang pergi haji, bolak-balik tapi Tuhan tidak terima dia. Dia berucap labbaikallah humma labbaik, ya Allah aku memenuhi panggilanmu, tetapi Tuhan menjawab kamu bohong. Kamu tidak penuhi panggilanku. Kamu datang dengan uang haram. Kamu tidak merendahkan diri dihadapkanku. Kamu merasa angkuh, padahal manusia semua setingkat,” tegasnya.

Begitu halnya dengan orang yang mampu, baik secara materil, rohani maupun jasmani, tetapi tidak mau beribadah haji, maka orang itu bisa disebut angkuh. Prof Quraish Shihab kemudian mengajak kepada umat Islam yang belum mampu menunaikan ibadah haji untuk tidak merasa sedih. Seseorang masih bisa mewujudkan simbol-simbol haji dalam kehidupan meskipun ia tidak pergi haji, yaitu dengan keikhlasan, pengorbanan dan mengikuti tuntunan Allah sepanjang hidup.

“Sebaliknya ada orang mampu, bisa pergi haji tapi tidak mau, itu namanya angkuh. Kita wujudkan simbol-simbol haji dalam kehidupan keseharian kita. Walaupun kita tidak pergi haji,” pungkas tokoh lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir itu.

%d blogger menyukai ini: