ISLAMRAMAH.CO, Dalam mutakhir ini, sebagian kalangan masyarakat banyak yang mempertanyakan perbedaan kiai dan ustad. Kedua istilah ini dikenal sebagai label sosial untuk merujuk kepada seseorang yang memiliki keluasan ilmu dan sebagai rujukan umat di dalam kehidupan bermasyarakat. Tak sedikit pula yang salah persepsi dan kerap mencampuradukkan antara kiai dan ustad.

Menurut Gus Muwafiq, seorang tokoh muda yang makin populer di Indonesia, beda antara kiai dan ustad. Seorang ustad boleh jadi sebagai penceramah, mubaligh, dan khatib Jum’at. Namun demikian, tidak secara otomatis ia bisa menjadi seorang kiai.

Dalam pandangan Gus Muwafiq, tidak sedikit ustad yang hanya mampu menyihir pendengar dengan untaian kata dan membuat pendengar terdecak kagum. Padahal, pada saat bersamaan ia bukanlah seorang kiai. Karena keilmuan seseorang tidak identik dengan kemampuannya dalam berorasi atau kemahirannya dalam melibatkan perasaan pendengar.

Berbeda halnya dengan seorang Kiai. Kiai adalah ia yang memiliki keluasan ilmu-ilmu agama sehingga ia menjadi rujukan umat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Dalam kesehariannya, seorang kiai berdakwah dengan jalan damai, ramah dan santun, mengajar, dan mendidik santri di pondok pesantren. Ia memiliki tanggungajawab kepada umat untuk menegakkan nilai-nilai moral agama.

Dalam pandangan Gus Muwafiq, cukup mudah membedakan seorang kiai dengan ustad. Jika seorang ustad dengan mudah berfatwa halal-haram, kafir-syirik, maka tidak demikian dengan seorang kiai. Hal itu karena seorang ustad tidak memiliki umat. Berbeda halnya dengan Kiai yang memiliki tanggungjawab umat sehingga tidak mudah mengatakan halal-haram dan sesat-menyesatkan.

“Sekarang banyak ustad-ustad kalau membuat fatwa semaunya. Sebab apa? Ia tidak punya tanggungan kebaikan umat. Seorang ustad tidak punya umat, asal bicara saja seenaknya, haraaam, kafiir, syirik. Enak sekali,” tegas Gus Muwafiq.

Oleh karena itu Gus Muwafiq menegaskan, jangan sampai salah anggapan bahwa seorang ustad otomatis juga sebagai kiai. Seorang kiai tidak akan semaunya bicara. Bahkan kiai dihinapun tidak berani mengeluh, karena kiai memiliki tanggungjawab umat. Dan sebaliknya, seorang ustad tidak mempertimbangkan umat.

%d blogger menyukai ini: