ISLAMRAMAH.CO, Pancasila sebagai ideologi bangsa merupakan titik temu di antara beragam kepentingan masyarakat Indonesia yang plural. Namun demikian, masih ada sebagian kalangan yang mempersoalkan Pancasila karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Padahal keberadaan Pancasila merupakan nilai universal yang sesuai dengan perintah Al-Quran. Karena itu, Pancasila sesungguhnya inspirasi bagi peradaban global.

Pesan itulah yang mengemuka saat Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar memberikan ceramahnya yang diunggah di Youtube. Menurut Prof Nasaruddin, perbedaan adalah fitrah ilahi yang tidak bisa dipertentangkan karena merupakan kehendak Tuhan. Karena itu, untuk mewujudkan kemaslahatan bersama tidak bisa mengedepankan sikap egois dengan memaksakan satu dasar negara hanya condong kepada satu agama tertentu.

“Allah menciptakan suatu masyarakat di bawah kolong langit ini, jadi yang penting bagi kita adalah membiasakan hidup di tengah perbedaan, menerima perbedaan yang ada tapi tetap kita berpegang pada sebuah pedoman,” ujar KH Nasaruddin.

Kiai yang juga Guru Besar Tasawuf Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menjelaskan, salah satu perintah yang tertuang dalam Al-Quran adalah umat Islam harus memiliki pijakan bersama, dan dengan pijakan itu semua perbedaan tidak akan menjadi polemik, justru melalui pijakan itu akan tercipta harmoni kebersamaan.

“Berpeganglah pada tali itu. Dengan demikian kalau kita mengikuti perintah Pancasila berarti itulah perintah al-Quran,” terang KH Nasaruddin.

Menurut KH Nasaruddin sudah selayaknya rakyat Indonesia bersyukur atas nikmat perdamaian yang telah Allah anugerahkan. Menurutnya, sejauh ini tidak ada bangsa yang seindah Indonesia dengan keberagaman yang dahsyat namun kerukunan tetap terjaga dengan baik. Masyarakat bisa beribadah dengan nyaman sesuai dengan agama masing-masing dan karena itulah Pancasila sesungguhnya wajib dijaga karena dengan menjaga Pancasila, maka juga menjaga stabilitas perdamaian.

“Bisa taraweh di manapun, mau di Istiqlal juga boleh. Oleh karena itu bangsa Indonesia tetap langgeng dan menjadi role model bagi negara mayoritas muslim dan seluruh negara lain juga. Mari kita tampilkan Indonesia sebagai negara modern tapi hidup di dalam sendi-sendi keagamaannya,” pungkas Prof Nasaruddin.

%d blogger menyukai ini: