Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Seseorang yang dekat dengan-Nya bisa jadi diberi kemampuan istimewa untuk mengajarkan ilmu kepada seorang muridnya dengan sekejap.

Alkisah, ketika Syaichona Cholil Bangkalan Madura masih muda, ia mendengar ada seorang kiai di daerah Pasuruan, Jawa Timur yang sangat alim, yaitu Kiai Abu Darin. Keteguhan tekad dan keinginan yang kuat untuk menimba ilmu kepada Kiai Abu Darin, membuat Syaichona Cholil rela berjalan kaki dari Bangkalan, Madura menuju Pasuruan, tempat kiai itu tinggal.

Sayang seribu sayang, saat sampai di kediaman Kiai Abu Darin, ternyata beliau telah wafat beberapa hari yang lalu sebelum kedatangan Kiai Kholil. Tak ada pilihan lain bagi Syaichona Cholil kecuali ia berziarah ke makam Kiai Abu Darin yang terletak tidak jauh dari pondok pesantren.

Karena begitu kuatnya tekad ingin belajar kepada Kiai Abu Darin, Syaichona Cholil rela terus berada di makamnya seraya membaca Al-Qur’an selama 40 hari. Pada malam ke 41, ia bermimpi bertemu dengan Kiai Abu Darin seraya berkata, “Karena niatmu tulus dan tekadmu yang kuat untuk belajar kepadaku, maka aku berikan kepadamu sebagian dari ilmuku.”

Anehnya, ketika terbangun, Syaichona Cholil tiba-tiba telah menghafal beberapa kitab di luar kepala, di antaranya, imrithi, Asymuni, dan Alfiyah. Kitab-kitab tersebut merupakan kitab yang banyak dipelajari dan dikaji di berbagai pondok pesantren di Indonesia.

Kisah ini memberi pelajaran bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Dengan tekad yang kuat  dan usaha yang sungguh-sungguh pastilah kita akan memperoleh apa yang kita harapkan, karena tidak ada usaha yang sia-sia dan tiada guna.

Kita harus punya ikhtiar yang kokoh dalam menjalankan hidup dan selalu bermunajat kepada Allah SWT, sehingga seluruh ikhtiar tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Pengalaman hidup Syaichona Cholil dapat dijadikan cerminan bagi kita untuk senantiasa berharap dan berdoa kepada Allah SWT dengan sepenuh hati dan seikhlas-ikhlasnya.

 

%d blogger menyukai ini: