Judul Buku : Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan
Penulis : Zuhairi Misrawi
Penerbit : Kompas, Cetakan ketiga, 2013

KH. A. Mustofa Bisri—yang akrab dipanggil Gus Mus—dalam kata pengantar buku Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari: Perintis Kemerdekaan Indonesia, yang ditulis oleh Muhammad Asad Syihab, menegakan bahwa Kiai Hasyim merupakan mahakiai. Syihab (1994) menyebut Hadratussyaikh dengan al-‘Allamah. Dalam tradisi Arab, istilah tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai pangkat keulamaan dan keilmuan yang tinggi.

Gus Mus menambahkan, Hadratussyaikh adalah seorang mahakiai sekaligus pejuang kemerdekaan, karena kedalaman ilmu dan kesawaban ajarannya. Sebab itu, jika ada panggilan Hadratussyaikh, maka istilah tersebut secara otomatis tertuju pada sosok Hadratussyaikh.

Gelar tersebut layak disandangkan kepada Kiai Hasyim, karena ia mempunyai keutamaan ilmiah dan keutamaan. Ia adalah ulama besar yang pernah dimiliki bangsa ini, yang mana pengaruhnya tidak hanya pada masyarakat Indonesia, tetapi juga bagi kalangan muslim di Asi Tenggara, bahkan di dunia internasional.

Hadratussyaikh merupakan sosok penting karena dua hal: Pertama, Kiai Hasyim merupakan ulama yang secara konsisten mengusung paham Ahlussunnah wal Jamaah. Yaitu paham keagamaan yang dalam akidah berpegang kepada teologi al-Asy’ariyah dan al-Maturidiyah, dalam fikih pada empat imam mazhab (Syafi’i, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal) dan dalam ranah tasawuf bersandar pada Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi.

Paham ini merupakan karakter terlama dan terpopuler yang dianut oleh umat Islam di seantero dunia dan bahkan sepanjang sejarah paham keislaman. Dan tentu saja, penganut terbesar adalah umat Islam Indonesia, karena populasi umatnya adalah terbesar di dunia. Paham tersebut dianggap melestarikan mata-rantai keulamaan dan keilmuan dalam khazanah Islam. Setidaknya, penulis merasakan langsung betapa nuansa paham Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana diyakini dan dikembangkan Hadratussyaikh merupakan fenomena paham keagamaan yang bersifat mondial.

Universitas Al-Azhar Mesir yang merupakan salah satu universitas dan menara peradaban Islam terkemuka hingga saat ini masih mengadopsi paham tersebut. Padahal, di sana lahir sosok seperti Muhammad Abduh yang cenderung menolak nalar keagamaan ala Ahlussunnah wal Jamaah. Abduh dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim reformis yang mempunyai pengaruh cukup besar, baik di Mesir maupun dunia Islam lainnya. Tetapi, al-Azhar masih berpijak pada paham ala Ahlussunnah wal Jamaah sebagai landasan teologisnya. Dari sini, dapat dipahami bahwa mereka yang menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah merupakan kelompok terbesar.

Hadratussyaikh dalam kapasitasnya sebagai penjaga gawang dan pengawal paham Ahlussunnah wal Jamaah telah menyumbangkan pemikiran keislaman yang sangat berharga. Sebab, pemikiran tersebut telah membuka cakrawala umat Islam terhadap khazanah keislaman klasik yang amat luas dan kaya. Setidaknya, Hadratussyaikh telah menyelamatkan umat dari cara pandang hitam-putih yang dalam beberapa dekade terakhir masih menghiasi lanskap keberagamaan kita.

Bagi bangsa ini, tentu sumbangsih Kiai Hasyim sangat besar, karena paham keislaman ala Ahlussunnah wal Jamaah sangat cocok dengan kebhinekaan yang sudah mengakar kuat dalam latar sosial negeri tercinta ini. Paham Ahlussunnah wal Jamaah mengajarkan pada kita, bahwa jalan menuju Tuhan membutuhkan proses yang tidak mudah, khususnya melalui pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas khazanah keagamaan klasik. Seorang muslim sejatinya tidaklah terlalu mudah untuk memberi stempel tertentu terhadap sebuah paham dan tindakan keberagamaan. Pilihan terbaik adalah mengambil rujukan dari para ulama terdahulu serta menggunakan paramater yang tersedia dalam khazanah keilmuan klasik.

Tradisi tersebut disebut oleh George A. Makdisi dalam The Rise of Humanism in Classical Islam and Western Christian sebagai salah satu keistimewaan Islam yang mana karenanya telah menyumbangkan pencerahan dan kebangkitan bagi tradisi umat Kristen di Barat. Pemikiran keagamaan tidak lagi menjadi penghalang bagi kebhinekaan arus-arus dan mazhab pemikiran. Bahkan justru mendorong dan mengembangkannya untuk menemukan makna yang sejalan dengan nafas kebenaran, kebajikan dan kemaslahatan.

Kedua, Hadratussyaikh merupakan sosok penting, karena menjadi salah satu pendiri NU bersama sejumlah ulama pesantren lainnya. Yaitu organisasi sosial-keagamaan terbesar di Tanah Air, bahkan di Asia Tenggara dan dunia Islam pada umumnya. Peran NU dicatat dengan tinta emas dalam sejarah republik ini, karena tidak hanya saja mencerdaskan umat dari belenggu iliterasi keagamaan, tetapi juga mendorong akselerasi kemerdekaan bangsa ini dari belenggu penjajah, baik Belanda maupun Jepang.

Hadratussyaikh adalah sosok ulama yang berada di garda terdepan dalam hal melakukan pemberdayaan umat dan menggugah kesadara kolektif agar tidak mudah bertekuk lutut di hadapan penjajah. Semua itu dilakukannya demi kecintaannya pada bangsa dan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam ajaran Islam.

Hadratussyaikh telah membuktikan dan melakukan, bahwa antara keislaman dan keindonesiaan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berada dalam satu nafas. Islam adalah nilai-nilai adiluhung yang bersifat universal, sedangkan keindonesiaan adalah realitas sosial yang harus diisi dengan nilai-nilai tersebut tanpa harus menafikannya.

Artinya, keislaman harus hadir dalam kebudayaan dan kebhinekaan yang sudah mengakar kuat dalam jati diri dan memori kolektif bangsa ini. Sebagaimana Islam datang ke bumi Nusantara melalui merkantilisme para saudagar Gujarat yang bersifat toleran dan damai, maka NU harus memainkan peran tersebut. Yaitu peran melindungi kebhinekaan dan membangun solidaritas kebangsaan yang kuat.

NU adalah salah satu, bahkan mungkin satu-satunya organisasi keagamaan yang tidak mudah untuk digoda dan ditaklukkan oleh gerakan-gerakan keagamaan transnasional seperti Wahabisme dan Ikhwanul Muslimin. NU telah mempunyai paham keagamaan yang kuat dan menjunjung tinggi intelektualisme, serta mempunyai akar dan basis umat yang solid. Bahkan, NU menentang paham kedua gerakan tersebut, karena tidak cocok dengan paham Ahlussunnah wal Jamaah dan konteks keindonesiaan yang plural.

Jasa Hadratussyaikh amat besar dalam institusionalisasi dan kristalisasi pemikiran keislaman ala Ahlussunnah wal Jamaah. Kedalaman ilmu dan kemampuannya dalam berorganisasi, telah berhasil menjadikan NU tidak hanya sekadar menjadi organisasi (jam’iyyah), tetapi juga menjadi komunitas ide dan sosial (jamâ’ah). Begitu banyak organisasi keagamaan yang terbentuk jauh sebelum kemerdekaan dan pasca-kemerdekaan, tetapi mereka amat sulit untuk membentuk komunitas ide dan sosial. Tapi, NU sejauh ini telah berhasil membentuk jamâ’ah yang sangat solid, terutama pada level akar rumput.

Maka dari itu, ada yang mengatakan terbentuknya NU sebenarnya jauh sebelum tahun 1926. Karena jauh sebelum itu, komunitas para ulama yang memedomani paham Ahlussunnah wal Jamaah, yang mana pengembangannya melalui pesantren dan masjid telah berjalan cukup lama. Lalu, setelah terbentuknya NU secara resmi semakin memperluas medan perjuangan kalangan pesantren untuk mewujudkan kemerdekaan dari penjajahan.

Meneladani pikiran-pikiran Hadratussyaikh akan selalu relevan dalam konteks keindonesiaan. Apalagi di tengah tumbuhnya kesadaran keagamaan, diperlukan sebuah pemahaman yang mendalam terhadap khazanah keislaman, tetapi juga harus tumbuh kesadaran kebangsaan. Itulah pikiran Hadratussyaikh yang telah menginspirasi ulama dan umat Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan damai.

%d blogger menyukai ini: