Seorang pangeran yang berasal dari Bayt al-Maqdis, Yerusalem, bernama Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan (l. 1449), mendirikan Masjid Agung sesuai dengan daerah asalnya di Yerusalem yang juga dinamai “Al-Aqsha”. Keturunan Rasulullah SAW ke-11 ini, mendirikan masjid yang persis dengan Al-Aqsha dan kubah batu di Yerusalem, tepat di daerah Kudus sehingga dikenal sebagai Masjid Agung Kudus dan pendirinya dikenal dengan Sunan Kudus.

Sebagaimana wali-wali lainnya, Sunan Kudus berdakwah menyelami serta memahami yang diharapkan masyarakat. Dengan metode dakwah melalui seni dan budaya, ia berhasil memikat penduduk setempat yang saat itu mayoritas beragama Hindu. Sunan Kudus pun turut memanfaatkan kearifan lokal dan tradisi yang dikenal lebih dulu. Pengaruhnya dalam arsitektur, mampu menyatukan unsur Islam dan lokalitas setempat yang berciri Hindu.

Perpaduan unsur Islam dan lokalitas tersebut, terlihat juga ketika Sunan Kudus melarang Muslim berkurban sapi sebagai bentuk penghormatan dan toleransi terhadap penduduk setempat yang masih menganut agama lamanya. Sebagai gantinya, masyarakat Kudus menggunakan kerbau untuk berkurban disetiap momentum Hari Raya Idul Adha.

Demikianlah, hingga saat sekarang ini daerah Kudus tidak ditemukan penduduk yang menjual makanan terbuat dari daging sapi, dengan alasan tidak berani melanggar larangan Sunan Kudus (Agus Sunyoto, 2016: 343). Terlihat bagaimana Sunan Kudus sebagai keturunan Rasulullah, menjaga ukhuwwah (persaudaraan) di antara penduduk setempat.

Strategi dakwah para wali, berhasil membangun rasa persaudaraan dengan tetap menggunakan strategi yang lebih sistematis dalam mengakulturasi kebudayaan Nusantara yang sudah tua, kuat, mapan, dan mengakar. Mereka tidak mengenalkan Islam dengan sekonyong-konyong, karenanya mereka merumuskan strategi jangka panjang anak cucunya. Dalam hal ini, kesabaran dan ketekunan para keturunan Rasulullah SAW membuahkan hasil yang dapat kita nikmati sekarang ini dengan rasa syukur, yakni rasa persaudaraan tinggi yang selanjutnya dikenal dengan istilah Bhineka Tunggal Ika.

Kesuksesan para wali terdahulu pun, kini diteruskan oleh anak cucunya yang juga keturunan Rasulullah SAW. Seorang keturunan Rasulullah, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) atas izin Habib Hasyim bin Yahya (kakek Habib Luthfi bin Yahya), dan juga keturunan Sunan Kudus, Mbah Kholil Bangkalan Madura yang tentu saja nasabnya bersambung sampai Rasulullah SAW. Maka NU dikenal sebagai penjaga local wisdom (budaya lokal). Warisan generasi para wali ini, terus dipertahankan oleh NU dalam rangka multikulturalisme ukhuwwah sebagai landasan kehidupan Muslim di Nusantara yang memiliki ciri khas.

Spiritualitas Ahlusunnah Wal Jamaah yang dikembangkan NU untuk membangun peradaban Islam adalah menjunjung tinggi ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sesama anak bangsa), dan ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia). Selain itu, dalam menghadapi berbagai persoalan, NU juga memiliki sikap moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), dan toleran (tasamuh). Ketiganya mengandung unsur penting dalam mewujudkan masyarakat moderat (prinsip jalan tengah) sebagaimana cita-cita al-Quran sebagai ummatan wasathan atau masyarakat yang moderat, dan juga khairi ummah (sebaik-baiknya masyarakat).

NU juga mengadopsi Rasulullah SAW pun demikian adanya dalam membangun ukhuwwah dalam membangun Negara Madinah. Kisah peperangan Rasulullah hanya sebatas mempertahankan ukhuwwah penduduk Madinah, di mana penduduk Madinah terdiri dari berbagai suku dan agama. Rasulullah mampu menjaga ukhuwwah melalui Piagam Madinah, maka keturunannya di Indonesia, dapat menemukan formulasi titik temu negara dan agama. Pancasila dengan segala derivasi politik, ekonomi, dan kebudayaan lokal adalah jalan tengah, dapat akomodatif pada berbagai kebutuhan.

Terbentuknya negara, selain bertujuan mensejahterakan penduduknya, juga mewujudkan ketenangan dan perdamaian yang berkeadilan. Dengan segala perbedaan yang ada, Rasulullah mampu menjalin kerjasama untuk mencapai perdamaian dan keadilan. Karena toleransi dan ukhuwwah merupakan ujung pangkal tegaknya perdamaian.

Mentalitas Rasulullah SAW yang anti-rasisme, mampu menuntun dunia Arab keluar dari kegelapan dan memasuki cahaya terang ke jalan perdamaian dalam kesetaraan. Semestinya, mentalitas yang mengaku keturunan Rasulullah SAW pun demikian, sebagaimana pepatah mengatakan “buah tidak akan jauh dari pohonnya.” Akan tetapi melihat fenomena habib saat ini yang tidak mencerminkan datuknya, telah mencoreng kredibilitas Rasulullah SAW.

Betul faktor genetik saja tidak cukup, ada beberapa faktor lain seperti lingkungan dan pendidikan yang dapat memengaruhi akhlak seseorang. Maka, wajar jika seorang keturunan manusia agung pun terdapat banyak kekurangan. Karena keturunan Rasulullah SAW tidaklah maksum (bebas dari dosa dan kesalahan). Hanya Rasulullah SAW yang maksum dan dipastikan masuk surga-Nya. Masih banyak keturunan Rasulullah SAW yang mendalami ilmu agama sehingga luas ilmu dan wawasannya yang berjasa bagi dunia Islam, demi menjaga rasa persaudaraan sesama makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang bernama manusia.

Mereka yang mendalam ilmu agamanya dan berakhlak mulia seperti Habib Ali-Aljufri Uni Emirates Arab, Habib Umar bin Hafidz Yaman dan lainnya, patut dijadikan teladan dalam menjaga ukhuwwah di tengah hiruk-pikuk habib-habib intoleran dan jauh dari akhlak Rasulullah sendiri. Sebagaimana Habib Ali Al-Jufri mengatakan dalam buku Humanity Before Religiosity (2019), mereka yang setuju denganmu adalah saudara-saudaramu, tetapi mereka yang tidak setuju denganmu adalah juga saudara-saudaramu. Jadi, berikanlah hak mereka sebagai seorang saudara. Retorika indah seperti inilah yang ingin kita dengar dari banyak keturunan Rasulullah SAW di era penuh persoalan kompleks sekarang ini.

Sebab Rasulullah SAW diperuntukkan bukan hanya untuk kepentingan keturunannya saja, melainkan seluruh alam jagat raya. Untuk itulah, sebagai keturunan Rasulullah SAW, sudah sepatutnya menjaga ukhuwwah (persaudaraan) dengan kasih sayang dan kebijaksanaannya.

%d blogger menyukai ini: