Etika Gaia Bagi Keselarasan Hidup Manusia

KolomEtika Gaia Bagi Keselarasan Hidup Manusia

Pernahkah terpikir bahwa perubahan iklim bisa berimbas pada keterlambatan kado Natal anak-anak di belahan dunia tertentu? Standar umum pemahaman kita rasanya masih sebatas mengasosiasikan perubahan iklim dengan bencana alam layaknya banjir atau longsor. Namun, kejadian di Terusan Panama—jalur pintas yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik—menampar kesadaran tentang betapa dekat dan nyata dampak krisis iklim dengan keseharian kita. Seorang kolumnis Bloomberg, Tim Culan mengemas ulasannya secara reflektif melalui tulisannya “How Climate Change May Ruin Your Kids Christmas” (Bloomberg, 6/12/2023).

Culan menguraikan bagaimana mobilitas kapal-kapal pengangkut kontainer terhambat akibat turunnya elevasi Danau Gatun, sumber air di Terusan Panama, karena periode musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino. Kuantitas kapal dan muatan yang lewat terusan tersebut pun dibatasi. Sejumlah kapal harus menunggu berhari-hari atau mengubah rute pelayaran dengan jarak tempuh yang lebih jauh, sehingga pengiriman barang seperti kebutuhan energi, pangan, bahkan keperluan Natal pun terlambat. Dan pembengkakan biaya tak dapat dihindari. Perubahan iklim telah mengacaukan siklus banjir dan kekeringan yang parah, bahkan menyentuh hal-hal yang tak terbayangkan, kado-kado Natal yang dinanti.

Perubahan iklim saat ini adalah kombinasi kompleks dari aktivisme manusia yang cenderung eksploitatif dan nirkepekaan pada alam. Secara sederhana perubahan iklim merujuk pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang. Sebetulnya, pergeseran itu terjadi secara alamiah, seperti halnya melalui siklus matahari. Namun demikian, aktivisme manusia sejak revolusi industri pada sekitar abad ke-18 telah menjadi katalis nomor wahid perubahan iklim menuju fase kritis, terutama karena pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, gas, dan minyak yang melepaskan emisi ke udara.

Di lain pihak, industri pertambangan, pertanian, pembangunan perkotaan, transportasi hingga sektor rumah tangga turut menyumbang kerusakan yang besar pada alam. Produksi sampah yang begitu masif tanpa pengelolaan yang memadai tak kalah menjadi persoalan serius yang membahayakan alam, bahkan telah nyata mengancam kehidupan biota-biota laut. Tidak satu dua kali bukan kita mendengar berita yang mengabarkan tentang binatang laut yang perutnya dipenuhi limbah plastik?

Pada gilirannya, kerusakan lingkungan yang terjadi secara terus-menerus akan mengancam keseimbangan kehidupan di bumi. Anomali cuaca, suhu bumi yang memanas, musim yang tak menentu, kekeringan, banjir, peningkatan permukaan air laut, hingga kelangkaan bahan pangan merupakan argumen valid dari iklim yang tengah bermasalah. Michael S Northcott yang menulis buku God and Gaia: Science, Religion, and Ethics on a Living Planet, merefleksikan bahwa kerusakan lingkungan terus terjadi sebab kebanyakan manusia masih menganggap bumi sebatas benda mati, bukan entitas hidup. Ketika cara pandang kita bermasalah dalam melihat bumi dan bagaimana hubungan kita dengannya, maka formula primernya adalah memperbaiki pola pikir untuk mencegah terjadinya krisis alam yang lebih dahsyat lagi.

Sebuah alternatif menarik untuk merestorasi pola pikir kita, teori Gaia, mengetuk aspek ontologis tentang relasi yang bersifat integralistik dan saling memengaruhi antara manusia serta bumi. Dengan demikian, manusia sesungguhnya tak pantas lagi berapologi menyangkal tanggung jawab untuk memperbaiki aneka kerusakan ekologis imbas eksploitasi, sebab manusia dan alam terikat relasi kebersalingan. Gaia adalah Dewi perwujudan dari bumi dalam mitologi Yunani yang erat kaitannya dengan alam. Sering juga disebut sebagai Ibu Bumi. Pemakaian Gaia sebagai penamaan teori ini memberikan pemahaman secara paradigmatik bahwa bumi bukan benda mati, sekaligus mengambil perspektif bahwa manusia adalah bagian dari sistem kehidupan.

Baca Juga  Menjaga Akal di Era Digital

Gagasan utama teori yang mulanya dicetuskan oleh James Lovelock serta didukung oleh Lynn Margulis pada sekitar 1970-an ini menyatakan bahwa Bumi merupakan entitas hidup yang bisa mengatur dirinya sendiri serta Kehidupan menjadi unsur integral dari Bumi yang saling terkoneksi. Bumi beserta seluruh isinya merupakan suatu kerangka sistem total yang turut berperan dalam mengelola kehidupan. Penulisan “Bumi” dan “Kehidupan” dengan huruf kapital ditujukan untuk menegaskan bahwa “Bumi” adalah entitas hidup dan “Kehidupan” mencerminkan kumpulan seluruh makhluk hidup di ekosistem bumi.

Hal tersebut sekaligus menyiratkan status setara antara “Bumi” dan “Kehidupan” yang harus berhubungan secara mutualistik dan peka sesama. Satu titik kerusakan di bumi bisa berdampak pada seluruh bagian lainnya. Sebab itu, teologi keseimbangan antara manusia dan bumi menjadi hal yang tak bisa diabaikan keterlibatannya dalam upaya mewujudkan keselarasan hidup manusia, dalam usaha mengembalikan kesehatan ruang hidup kita.

Tak berlebihan rasanya untuk menganggap Gaia sebagai etika, mengingat dimensi moralitas yang kuat melekat pada konsepnya. Dalam upaya mengatasi krisis ekologis, etika Gaia memandang pentingnya keterlibatan Bumi serta seluruh spesies di dalamnya terutama manusia yang mengacu pada tradisi sakral-etis. Artinya, keseimbangan antara “Bumi” dan “Kehidupan” sebagai kesatuan sistem harus menjadi pertimbangan setiap aktivitas manusia. Meski teori ini banyak mendapat kritik, tapi spirit etika di dalamnya memiliki peran penting untuk memulihkan kesadaran agar manusia memperlakukan alam sebaik dan seadil mungkin layaknya berlaku pada sesama manusia.

Menariknya, sebagai sebuah tradisi ilmiah, teori Gaia mampu mengakomodir prinsip dan nilai etik dari agama terkait bagaimana hubungan alam dan manusia. Perpaduan antara sains serta agama dalam menyikapi krisis lingkungan, dengan demikian menjadi komposisi yang dimungkinkan dalam teori Gaia. Menurut penyelidikan Northcott, ada irisan persamaan dan benang merah antara premis teori Gaia dengan sejumlah ajaran agama. Sebagai contoh, konsep Trinitas Hindu yang mencerminkan tiga aspek berbeda namun saling terkait, yang diwakilkan oleh tiga dewa utama, yakni Brahma sebagai lambang penciptaan, Syiwa mewakili proses peleburan, serta Wisnu yang merepresentasikan pelestarian. Konsep ini menggambarkan daur kehidupan yang berfokus pada keseimbangan dan pemeliharaan.

Pengabaian tradisi sakral-etis menjadi salah satu wajah persoalan mendasar dalam mengatasi kerusakan ekologis. Sementara itu, tradisi keagamaan mampu berperan sebagai sumber etik bahkan mekanisme pengaturan sosial yang tujuannya untuk mengendalikan tren sikap individualis dan tak peka sekitar. Northcott menunjukkan efektivitas sistem Subak di Bali terhadap budaya tanam di sana, alih-alih sistem pertanian modern yang sering mendelegitimasi sistem adat. Sistem pengairan berbasis kultural-religius tersebut mengusung spirit gotong royong dan kebersamaan, memuat filosofi yang meneguhkan pentingnya keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam demi terwujudnya kebahagiaan serta kesejahteraan menyeluruh.

Bumi bukan sekadar batuan besar yang berada di urutan ketiga dalam tata surya. Melainkan entitas yang harus dihormati layaknya memuliakan seorang figur ibu. Etika Gaia menegur kita bahwa bukan hanya manusia yang penting dalam kelangsungan kehidupan. Saat Bumi terluka, manusia dan Kehidupannya pun terancam celaka. Perlu perubahan paradigmatik berbasis etik yang kokoh dan serentak menyangkut bagaimana kita memperlakukan bumi. Kesejahteraan lingkungan hidup adalah tanggung jawab bersama semua individu, pemangku kebijakan, korporasi, pelaku industri, dan semua yang menghuni muka bumi. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.