Berburu Serigala Betina dalam Diri Wanita

KhazanahBukuBerburu Serigala Betina dalam Diri Wanita

Judul Buku          : Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Penulis                  : Ester Lianawati

Penerbit                : EA Books

Tahun Terbit        : Cetakan Ketigabelas, Februari 2023

Tebal Buku           : xii + 292 halaman

Membahas masalah perempuan sama dengan mengurai persoalan lintas masa dan peradaban. Kompleks yang melilit figur perempuan pada gilirannya membuat mereka terasing dari jati dirinya. Sering kali perempuan merasa normal, tidak ada yang salah, atau menerima begitu saja sebagai garis takdir ketika hidupnya didikte norma sosial yang tidak ideal. Hal ini karena perempuan hampir tidak pernah diberi kesempatan untuk menyelidiki dirinya, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hati. Kerumitan budaya patriarki membuat otonomi perempuan tampak ilegal. Budaya itu tidak mendidik perempuan untuk berlatih mengambil keputusan, akibatnya ada perasaaan ragu dan takut untuk mempertanyakan apa yang sesungguhnya menjadi kehendak diri.

Lewat buku ini, Ester Lianawati mengajak para perempuan untuk menyelidiki dan membaca diri mereka dengan seksama. Mendorong untuk berani menjalani proses yang tidak nyaman karena harus jujur menerima dan menghadapi luka-luka silam yang pernah bahkan masih ada. Penting untuk meretas jalinan tekanan sosial budaya patriarki yang membelenggu guna menemukan warna asli diri perempuan yang dipancarkan oleh keinginan autentiknya, bukan hasil dari pendiktean masyarakat. Perempuan selama ini hidup di bawah pengawasan ketat standar sosial yang berat sebelah. Mulai dari cara bertutur, gaya berbusana, apa yang mesti diperbuat, perkara jenjang pendidikan, kapan harus menikah, berapa harus punya anak, pekerjaan yang pantas dilakukan, nyaris semua aspek dari perempuan telah ditentukan standarnya oleh masyarakat. Sementara itu, keluar dari ukuran sosial yang dianggap ideal akan menggiring perempuan pada pojok stigma; dicap sebagai wanita nakal, pemberontak, tidak patuh, enggan bersyukur, genit, terlalu berani, terlampau mandiri, dan semisalnya.

Rute intelektual yang ditempuh penulis dari bidang psikologi menuju kajian wanita dan gender, selanjutnya menjadi kerangka teori “psikologi feminis” yang berperan sebagai pisau analisis karya ini, sekaligus mengantarkan penulis pada perenungan tentang psike perempuan, yang oleh Freud disebut sebagai kontinen hitam. Proses itu membawa penulis pada momentum kesadaran bahwa dirinya dipenuhi persoalan subtil yang tertutup normalisasi. Buku ini lahir dari perempuan yang sebelumnya pun merasa tak ada masalah dalam dirinya, merasa baik-baik saja, padahal sebetulnya tidak. Rangkaian tulisan di dalamnya adalah formulasi dari teori dipadu dengan proses perenungan personal penulis serta penyelidikan terhadap diri orang-orang yang mempercayakan ceritanya pada penulis.

Ester menyusuri hal-hal yang mendasar dan sangat dekat dengan diri wanita, namun jarang menjadi kesadaran populer. Dia berani mengkritisi hal yang terbilang mapan disertai uraian yang runut hingga mencapai suatu penilaian tertentu. Tentang teori penis envy misalnya. Oleh Freud, seorang psikoanalis kenamaan asal Austria, perempuan disebut-sebut cemburu ingin memiliki penis seperti halnya laki-laki. Dalam kerangka teori ini, perempuan dianggap tidak mampu mengendalikan diri, superego-nya tidak berkembang dengan sempurna, sehingga ia menjadi manusia yang lemah, tidak bisa berpartisipasi di arena publik. Dengan kata lain, wilayah yang bisa dijamah perempuan adalah sebatas rumah, ranah domestik, menjadi istri dan ibu. Ester menjelaskan secara gamblang, mengkritisi gagasan Freud, dengan menyitir judul yang ‘provokatif’; “Apakah Perempuan Ingin Penis? Membincangkan Freud”.

Baca Juga  Piagam Madinah Puncak Toleransi

Pendekatan psikologi feminis bersanding dengan penelaahan pengalaman praksis wanita, saya pikir adalah kekuatan utama buku ini, yang menghasilkan nuansa keterhubungan yang intim bagi para pembaca. Kita tahu, dalam segala aspek perilaku, manusia tentu tidak lepas dari unsur psikis yang menyertainya. Psike adalah hal yang inheren dengan tiap tindakan seseorang. Sedangkan pendekatan feminisme di sisi lain memberikan kerangka yang adil dalam mengkaji perempuan, sebab perspektif dan penghayatan perempuan dihargai, dijadikan pertimbangan utama dalam menyelidiki diri perempuan itu sendiri. Alih-alih menggunakan standar laki-laki untuk mengkaji wanita seperti yang sudah-sudah. Di mana pada awal perkembangannya, teori dasar psikologi digali dari kehidupan laki-laki. Kalaupun teori psikologi itu didasarkan pada kehidupan perempuan, yang menjadi obyek penelitian adalah perempuan yang menderita neurotik.

Buku ini dikemas dengan gaya penuturan yang terbilang ringan dan mudah dicerna, tanpa meninggalkan unsur dan nuansa ilmiah sebagai formulanya. Ada tiga tema besar yang dibahas, dengan masing-masing terdiri dari beberapa sub-tema. Tiga tema tersebut mencakup pembahasan seputar teori psikologi feminis, psike perempuan yang membincang kekuatan hingga tabu-tabu yang menyelubunginya, serta pengalaman nyata dari aneka derita wanita. Pada beberapa sub-tema, penulis memberikan penutup berupa kesimpulan dari pembahasan, untuk membantu menyederhanakan dan mengingat ulang poin pembicaraan. Sayangnya tidak semua sub-tema disertai dengan bagian penutup semacam itu yang bisa memudahkan pembaca.

Serigala betina menjadi perumpamaan yang menarik di sini. Bukan makhluk buas nan ganas seperti yang lekat dalam bayangan kita. Serigala betina sebetulnya adalah binatang penyayang dan penuh perlindungan pada anak-anaknya. Pengalamannya dalam menghadapi bahaya dari musuh telah mengasah kemampuan intuitifnya, sehingga ia mampu membawa diri, memimpin kelompoknya, serta mengajarkan hal itu pada anaknya agar mandiri dan berdaya untuk melindungi dirinya sendiri. Sebagai pasangan pun serigala betina juga setia tanpa bergantung pada pasangannya.

Ada serigala betina pada kedalaman diri tiap perempuan. Perempuan adalah entitas dengan kemampuan dan daya diri yang mumpuni; dialah penyayang, penuh kepekaan, intuisinya kuat, memiliki indera yang tajam, berani, tangguh dalam beradaptasi, berdaya tahan tinggi, dan memiliki kapasitas mencintai. Jika toh karakteristik tersebut samar atau tak disadari oleh perempuan, itu karena segenap dirinya terlalu lama ditekan oleh tuntutan masyarakat. Perempuan harus menjadi liar, yakni bebas dan berani memindai diri, mengambil keputusan, menentukan pilihan. Para perempuan diajak bangun untuk memburu serigala betina yang lama tak terdengar lolongannya dalam diri mereka.

Untuk tiap perempuan yang ingin menjelajah semesta dirinya lebih dalam, yang selama ini merasa seolah baik-baik saja, yang hendak mencari sumber kekuatan, atau perempuan yang kerap ragu akan pandangannya terhadap diri sendiri dan merasa perlu dibersamai serta diyakinkan, maka buku ini adalah jawaban. Selamat memupuk ‘keliaran’ yang selama ini gersang tak berkembang, menjadi jiwa-jiwa yang berani dan terbebaskan! Wallahu a’lam.

Khalilatul Azizah
Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.