Tiga Makna Berkurban Menurut Cak Nur

KhazanahTiga Makna Berkurban Menurut Cak Nur

Idul Adha adalah perayaan tahunan bagi umat Islam yang sarat dengan nilai kemanusiaan. Di dalamnya, kita dianjurkan untuk menunaikan kurban sebagai simbol ketakwaan seorang muslim kepada-Nya. Bentuk takwa yang lain juga merupa dalam bentuk kemanusiaan dengan cara mendistribusikan daging hewan kurban kepada masyarakat setempat dan mereka yang membutuhkan.

Bagi Nurcholis Madjid dalam bukunya Pintu-Pintu Menuju Tuhan (2002), takwa identik dengan urusan batin umat muslim. Maka tidak penting seberapa besar atau seberapa banyak hewan yang dikurbankan, jika nilai takwanya tidak ada. Hal ini selaras dengan pesan yang ada di dalam Al-Qur’an, “Tidak akan sampai kepada Allah daging (hewan) itu, dan tidak pula darahnya. Tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah takwa dari kamu,” (QS. Al-Hajj: 37).

Maka dari itu, kurban dalam perayaan Idul Adha menjadi salah satu tanda untuk mendekatkan seorang hamba kepada Tuhan, dengan tidak hanya berhenti pada perbuatan memberikan hewan kurban. Tetapi juga sebelumnya telah menegasikan niat yang kurang pas semacam kurban untuk gengsi, konten, perayaan riya’, atau pamer.

Sementara di bukunya Masyarakat Religius (2010), Cak Nur menerjemahkan kurban ke dalam tiga hal besar yang saling berkaitan. Dua tentang takwa, dan yang satu berkenaan dengan cara meraih takwa melalui ibadah sosial kemanusiaan.

Pertama, amalan kurban menjadi bukti konkret dari ketakwaan Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Kisah ini merupakan simbol yang bisa diteladani oleh umat-umat sesudahnya. Bahwa seorang nabi yang memiliki perlakuan khusus dari-Nya saja masih dikenai perintah dan larangan-Nya, apalagi manusia biasa.

Di dalam kisahnya, Nabi Ismail diganti dengan seekor domba. Hewan yang disembelih di sini oleh sebagian ulama dimaknai sebagai hawa nafsu. Maka dari itu mesti disembelih yang berarti, hawa nafsunya ditekan agar tidak membuat seorang muslim lupa pada jati dirinya yang merupakan seorang hamba.

Baca Juga  Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Keutamaan Ilmu

Kemudian yang kedua, takwa dalam ibadah kurban dilegitimasi oleh Al-Quran. Bahwa yang akan sampai kepada-Nya bukan daging atau darah hewan kurban tersebut, melainkan sisi takwa dari orang yang menunaikannya.

Terakhir, penyelenggaraan kurban itu merupakan bentuk pendidikan sosial. Hal ini merupa dalam pendistribusian daging kurban yang merata sesuai dengan QS. Al-Hajj: 36. Di situ, beberapa mufasir menilai kurban tidak hanya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, tetapi juga kepada sesama. Mereka yang berkurban tidak memiliki hak atas seluruh dagingnya. Mereka dianjurkan dengan ketat untuk membagi-bagikannya. Di titik ini, pendidikan sosial kemanusiaan untuk tidak serakah, mau menang sendiri, dan semacamnya ditekan habis-habisan.

Kesimpulannya, perayaan Idul Adha menyadarkan kita untuk memiliki nilai kemanusiaan. Nilai yang tidak hanya berhenti pada diri sendiri, tetapi juga mesti membawa keluberan manfaat kepada liyan. Bahkan juga kepada lingkungan sekitar.

Ahmad Sugeng Riady
Ahmad Sugeng Riady
Alumnus Magister Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga, penulis, dan masyarakat biasa.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.