Kerukunan Lintas Iman itu Islami

KhazanahHikmahKerukunan Lintas Iman itu Islami

Tipikal gerakan radikal Islam, menurut Greg Fealy dalam penelitiannya Islamic Radicalism in Indonesia: The Faltering Revival, adalah meyakini bahwa Islam harus diterapkan sepenuhnya tanpa kompromi, dan cenderung bersikap reaktif dalam keyakinan itu. Titik tekan dari kategorisasi Fealy ini adalah “sikap reaktif”, yang agaknya menjadi satu penanda umum dari kelompok Muslim yang suka memberi reaksi negatif terhadap perbedaan.

Kasus-kasus diskriminasi terhadap non-Muslim, sinis terhadap pelaksanaan ibadah umat lain, menghambat pembangunan rumah ibadah, menuduh kafir dan sesat kepada sesama, adalah sikap yang tumbuh dari pola keberaagamaan yang reaktif dan tidak mampu menerima keberagaman dengan damai. Menganggap bahwa keberagamaan selain Islam sebagai ancaman.

Ekspresi beragama marah seperti itu jelas sangat jauh dari visi Islam yang mencitakan rahmat bagi seluruh alam (lihat al-Anbiya’: 107). Apakah berislam dengan mengedepankan sikap reaktif terhadap perbedaan dan keberagamaan iman, sejalan dengan nafas keislaman?

Islam itu sendiri, menurut Yudian Wahyudi dalam Maqashid Syari’ah dalam Pergumulan Politik (2019), adalah proses dan bukan tujuan. Oleh karena itu, titik tekan dari keberislaman justru ada pada cara kita menjalani kehidupan dalam ajaran Islam. Dalam hal ini, sikap yang Islami dapat kita pahami sebagai setiap proses yang menghantarkan pada keselamatan, keamanan, atau kedamaian (salam).

Jadi, dalam pengertian Islam sebagai proses menuju keselamatan ini, upaya merajut kerukunan antarumat beragama adalah termasuk Islami atau bagian dari proses dalam berislam. Sebab, jalan yang demikian dapat menghantarkan kita pada keselamatan hidup bersama.

Pada level insaniah (kehidupan bersama), ada hukum yang meliputi keseimbangan, keadilan sosial, dan termasuk kesetaraan antarsesama manusia dalam jalan Islam sebagai proses. Hukum ini penting untuk berjalan, sebab implementasinya akan membawa kita pada ketakwaan, yang dalam pandangan Yudian Wahyudi (2019) dimaknai sebagai keadaan ‘terhindar dari bencana kemanusiaan’.

Baca Juga  Belajar Patuh Pancasila dari Santri dan Pesantren

Sikap reaksional, seperti pembatasan terhadap aktivitas keagamaan umat lain, mengindikasi bahwa proses keberagamaan yang tidak menuju pada titik keselamatan dan hanya akan membawa kita pada kehancuran.

Mengikuti nafsu truth claim (klaim kebenaran) dalam beragama, dapat malah melanggar prinsip kebenaran hakiki yang dimanifestaasikan dalam keseimbangan atau keadilan sosial dalam menjalani kehidupan bersama antarsesama umat manusia.

Oleh karena itu, meski sikap reaktif seperti perlawanan terhadp rencana pembangunan gereja, yang sering digembar-gemborkan oleh para pelaku sebagai upaya menegakkan nilai keislaman, sejatinya bukan sikap Islami. Sebab, jalan beragama yang demikian itu bukan proses yang menghantarkan kita pada keselamatan. Mari berislam dengan mengedepankan wajah ramah kepada setiap orang, setiap umat, dan aktif dalam upaya-upaya merajut kerukunan antarumat beragama. Itulah proses berislam yang membawa kita pada keselamatan dan kedamaian hidup bersama.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.