Menyiapkan Perjalanan Baru

KolomMenyiapkan Perjalanan Baru

Ambang pergantian tahun seperti pendulum jam raksasa. Hampir semua orang melihat arah geraknya, terasa berbeda, sehingga orang-orang merasa tepat untuk menyambut dan merayakannya. Di luar perayaan seremonial dengan beragam atribut penuh gempita, momentum tahun baru juga kerap diselingi dengan kilas balik rekap perjalanan satu tahun ke belakang, menginsafinya guna kemudian menata ulang harapan dan rancangan cita untuk masa baru yang hendak dijalani. Jangan sampai hanya memeriahkan tapi lupa merencanakan.

Coba saja kesadaran kita terus bertahan hadir seiring dengan berjalannya waktu, tak hanya teringat saat angka tahun harus berganti. Sayangnya, manusia lebih jamak dikendalikan kelalaian ketimbang momentum sadar. Kita sering merasa waktu berlalu tanpa permisi, tanpa arti. Merencanakan target atau membuat resolusi tahunan paling tidak adalah langkah awal untuk menjaga kesadaran kita saat hendak berhadapan dengan waktu. Waktu adalah komoditas bernilai tinggi. Ia sama sekali tak bisa diputar ke belakang. Tidak ada kompromi saat bertransaksi dengan waktu. Artinya tak ada pilihan selain mengoptimalkan manfaat dan mengisinya dengan makna.

Salah satu pesan mutiara menegaskan, man ‘arafa bu’da al-safari ista’adda, yang artinya “Barang siapa tahu jauhnya perjalanan, ia mempersiapkan diri”. Satu tahun bukan masa yang singkat. Dengan mudah kita bisa tahu bahwa satu tahun terdiri dari 12 bulan atau jika dikonversi akan menjadi 365/366 hari. Sebab itu, siapa yang sadar seberapa jauh perjalanan tahunan tersebut semestinya ia bersiap-siap. Rencana dan resolusi itulah di antara bekal utama, seperti peta yang menunjukkan rute, di mana harus belok, hingga kapan harus beristirahat. 

Tiap kita akan menempuh perjalanan baru yang diharapkan bisa terealisasi secara lebih baik, kaya pengalaman, dan sarat makna. Saya dan mungkin kebanyakan kita terkadang gagal mewujudkan resolusi sebelumnya karena acap kali berlebihan dan tidak realistis. Biasanya kita mendaftar terlalu banyak hal dalam target resolusi tanpa pertimbangan yang cukup matang. Pada akhirnya catatan itu tetap pada tempatnya, tidak berubah wujud menjadi capaian yang nyata. Selain perhitungan target, dibutuhkan pula komitmen tinggi dalam pelaksanaannya. Di sinilah pertarungan sebetulnya dan terberat, yakni melawan distraksi, menahan fokus, dan menaklukkan diri sendiri.

Baca Juga  Prof Dr Nasarudin Umar: Berdakwahlah Tanpa Menimbulkan Ancaman

Refleksi atas tahun sebelumnya dengan segala poin positif dan rekam minusnya adalah materi untuk melakukan perbaikan di tahun selanjutnya. Ketika hendak merangkai rencana baru, tema yang terpenting ialah melepas yang sudah dan menerima yang ada untuk menyongsong hari depan dengan lebih lapang sekaligus tertata. Awali dengan pembaharuan niat, kemudian tuangkan harapan secara terukur dan realistis. Buat rencana yang spesifik serta beri target waktu. 

Perencanaan matang dan terstruktur adalah bagian dari bekal untuk memperbaiki masa hidup baru serta upaya meminimalisir penyesalan di hari kemudian karena yang kita hadapi adalah waktu. Bukankah sering kita mendengar keluhan “Mengapa penyesalan datang di akhir?”. Bagi saya, ratapan semacam itu adalah kata lain dari takluknya diri kita oleh waktu. Sebab kita tidak menjalaninya penuh harga dan lalai akan nikmat tiap detiknya.

Allah bahkan memperingatkan kita melalui sumpah dengan menggunakan periode masa dalam banyak ayat. Pertanda betapa waktu itu penting dan berharga. Siapa yang menyia-nyiakannya bakal menderita ia. Di beberapa titik awal ayat dinyatakan “Demi waktu dhuha” (QS. Al-Dhuha), “Demi waktu fajar” (QS. Al-Fajr), “Demi waktu malam” (QS. Al-Lail). Sumpah bukan ungkapan biasa, tapi ada unsur keteguhan dan tekad di dalamnya. Bisa dibilang Allah ingin agar para hamba-Nya betul-betul memperhatikan pesan ayat terkait. Allah juga seperti ingin mengingatkan arti penting sesuatu yang dijadikan sumpah, dalam hal ini waktu.

Di permulaan surat al-’Ashr Allah jelas menyatakan “Demi masa” (wa al-’ashr). Kemudian dua ayat terakhir berlanjut menerangkan, bahwa Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Seluruh masa hidup seseorang terancam sia-sia jika tidak dirayakan dengan kepedulian pada sesama, perbuatan bijak, amal-amal saleh yang serentak dengan nyala keimanan. 

Waktu adalah materi mentah yang tak dapat terpengaruh, namun sebaliknya berdaya dampak besar bagi manusia. Bagaimana kualitas hidup hingga taraf ketercapaian harapan bergantung pada realisasi seseorang dalam menghidupi dan menjalani waktu. Mari rancang strategi dengan seksama untuk membuka gerbang baru dengan penuh kekuatan dan percaya. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.