Mengenal 9 Nilai Pokok Ajaran Gus Dur (Bagian II)

KhazanahHikmahMengenal 9 Nilai Pokok Ajaran Gus Dur (Bagian II)

Untuk nilai pokok kelima dari ajaran Gus ialah pembebasan. Nilai pembebasan merupakan konsekuensi logis dari perjuangan keadilan dan kesetaraan yang menjadi tanggung jawab manusia selaku khalifah di muka bumi. Dengan kata lain, tujuan dari penegakan keadilan dan kesetaraan adalah untuk membebaskan manusia dari segala belenggu yang menindas, menghancurkan, serta mengerdilkan martabat kemanusiaan. Dalam hal ini, melepaskan belenggu ialah melepaskan kondisi, tradisi, pranata, ataupun kebijakan-kebijakan yang membatasi, mengekang, dan merusak martabat kemanusiaan. Wujud belenggu bisa berupa pemusnahan hak-hak sipil, eksploitasi dan pemerdayaan masyarakat lemah, penghilangan akses pemenuhan kebutuhan hidup, dan sebagainya. Belenggu-belenggu penghancur kemanusiaan itu acap kali dikemas dengan pola marjinalisasi, diskriminasi, represi, dominasi, hingga monopoli. Bagi Gus Dur, upaya menghilangkan berbagai belenggu tadi mesti didasarkan pada kerangka perjuangan penegakan HAM, kebebasan berekspresi, serta perjuangan mewujudkan demokrasi sosial, politik, dan ekonomi yang peka kearifan sosial dan religiositas. Dalam banyak perannya, Gus Dur tak henti mendorong siapapun agar tumbuh menjadi manusia dengan jiwa merdeka. Pesan itu nampak baik dari berbagai ceramah, obrolan, wawancara, maupun aksi nyatanya yang memberikan teladan keberanian untuk membela siapapun yang ditindas.

Di posisi keenam adalah nilai kesederhanaan. Bukan sebatas berteori, tapi Gus Dur juga merupakan praktisi nilai kesederhanaan bahkan telah terserap ke dalam jati dirinya. Kesederhanaan adalah jalan suluk yang ditempuh Gus Dur guna menjaga kedekatan dengan Tuhan. Sederhana berarti bersahaja, tidak rumit (memperumit), mudah, dan lugas. Ia meyakini bahwa nilai kesederhanaan dalam hidup merupakan senjata menegakkan martabat kemanusiaan dan akan berguna bagi keteladanan publik. Poros dari nilai kesederhanaan adalah jalan pikiran substansial, menyadari makna dan pentingnya substansi. Dengan pondasi pemikiran substansial akan terbentuk sikap yang wajar, tidak berlebih-lebihan, dan menjauhi kerakusan serta pragmatisme. “Gitu aja kok repot” adalah ungkapan khas Gus Dur yang membawa pesan agar hal yang bisa dirampungkan dengan mudah tidaklah perlu diperumit. Pada akhirnya, misi dari kesederhanaan yang dipraktikkan Gus Dur menjadi budaya perlawanan terhadap sikap hidup berlebih-lebihan, koruptif, konsumtif, serta materialistis yang berkembang di tengah masyarakat serta pemerintahan. Keteladanan semacam itu adalah perlawanan yang kuat bagi mental egois dan nirempati yang juga menjadi bibit pengerdilan harga diri kemanusiaan dan ketidakadilan terhadap kaum lemah.

Ketujuh adalah nilai persaudaraan. Guna mewujudkan cita-cita perdamaian, persatuan, penghargaan kemanusiaan, serta kemaslahatan universal, Gus Dur meyakini persaudaraan sebagai nilai penting untuk memperjuangkan cita-cita tersebut. Ada tiga macam persaudaraan yang kerap ditekankan Gus Dur kepada publik, yakni persaudaraan sesama Muslim, persaudaraan antarsesama anak bangsa, dan persaudaraan antarsesama umat manusia. Mempertegas irisan atau titik temu antarmanusia ini adalah upaya untuk merawat perasaan bersatu. Bahwa sekalipun tidak dalam satu keyakinan, tidak sama secara kebangsaan, pada akhirnya tiap kita dipertemukan oleh jati diri sebagai sesama manusia yang memiliki tujuan dan tugas yang sama pula yaitu membangun peradaban dan mengelola kehidupan di bumi. Gus Dur sering menegaskan bahwa musuh bersama kita adalah penindasan, eksploitasi, ketidakadilan, diskriminasi, dan berbagai penghancuran atas umat manusia. Karena itu kita tak boleh menganggap orang lain musuh hanya karena perbedaan bangsa, keyakinan, warna kulit, bahkan pilihan politik. Prinsip-prinsip keadilan, penghargaan atas kemanusiaan, serta semangat menggerakkan kebaikan merupakan sumber dari nilai persudaraan yang dijalankan Gus Dur semasa hidupnya.

Baca Juga  KH Anwar Manshur: Penyebar Hoaks Termasuk Orang Fasik

Selanjutnya ialah nilai kekesatriaan. Gus Dur dikenal sebagai sosok yang berintegritas, pemberani dan bersedia mengambil risiko dalam peta jalan perjuangannya. Ia sering melawan arus, mendobrak pintu yang tidak berani dilewati umumnya orang. Sebab itu, tak heran ia kerap dicerca, dicemooh, dianggap sebagai ancaman, hingga dijatuhkan. Perjuangannya untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan bukan sekadar asal nekat, namun dijiwai semangat kesatria dan pertimbangan stategis. Spirit kesatria ialah sebuah mentalitas unggul yang dicirikan dengan sikap peduli dan penuh empati pada derita orang lain, tidak merasa diri lebih unggul, mau dan mampu bersikap adil, berkomitmen pada janji, bertanggung jawab, serta berani menghancurkan ketidakadilan yang terstruktur dan berlangsung langgeng secara sistemik. Kekesatriaan yang dilakoni Gus Dur mengedepankan sikap sabar dan ikhlas dalam menjalani proses serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya. Selain sabar memang merupakan kewajiban agama, bagi Gus Dur, keadilan, kebenaran, serta perjuangan baru memiliki arti ketika diperjuangkan dengan sabar. Sebab, terkadang apa yang diperjuangkan itu baru menampakkan hasilnya setelah sekian masa atau diperjuangkan tahap demi tahap.

Syahdan, yang terakhir adalah nilai kearifan lokal. Gagasan dan perjuangan Gus Dur tak pernah meninggalkan atau menafikan aspek kebijaksanaan lokal yang hidup di masyarakat kita. Pendekatan kultural adalah strategi dakwah yang tidak mereduksi ajaran agama dan bersamaan dengan itu tetap merangkul kebudayaan yang ada sehingga lebih mudah diterima. Kearifan lokal yang terdapat dalam perjuangan Gus Dur bersumber dari nilai-nilai sosial budaya yang berpijak pada praktik dan tradisi terbaik dalam kehidupan suatu masyarakat. Aspek lokalitas sangat dihargai oleh Gus Dur karena manusia tak mungkin terlepas dari tradisi. Hal ini diwujudkan olehnya dengan cara menjalani hidup sekaligus mendorong masyarakat untuk tetap berpijak pada kebijaksanaan lokal, dan di saat yang sama tetap berdaya kreativitas untuk melakukan perubahan. Pancasila, prinsip Bhinneka Tunggal Ika, hingga UUD 1945, dan semua tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab, merupakan contoh dari produk berbangsa yang dijiwai oleh kearifan lokal Indonesia. Secara konsisten, Gus Dur berupaya menjadikan kearifan lokal sebagai modal sosial untuk membumikan keadilan, kesetaraan, juga kemanusiaan, namun tanpa kehilangan progresivitas dan keterbukaan terhadap perkembangan peradaban. Dalam hal ini, pribumisasi Islam menjadi konsep masyhur yang ditawarkan oleh Gus Dur. Menurutnya, melibatkan tradisi untuk berkontribusi dalam perubahan bermakna mendayagunakan tradisi untuk perubahan sekaligus menjaga kohesivitas sosial. Dalam kata lain, dengan berbudaya kita tetap bisa terlibat dinamika serta merawat kultur yang telah ada. Wallahu a’lam. []

Tulisan ini disarikan dan diolah dari buku berjudul Ajaran-Ajaran Gus Dur: Syarah 9 Nilai Utama Gus Dur (2019).

Khalilatul Azizah
Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.