Kemanusiaan Tak Pandang Keyakinan

KolomKemanusiaan Tak Pandang Keyakinan

Aksi tak menyenangkan terjadi di tengah solidaritas kemanusiaan berbagai pihak untuk korban gempa Cianjur. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, nampak beberapa oknum yang disebut anggota ormas Gerakan Reformis Islam (Garis) tengah mencopot label identitas bantuan bertuliskan “Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injili Indonesia” dari tenda bantuan untuk pengungsi. Pemasangan label identitas dari pemberi bantuan adalah hal yang wajar, di mana biasanya dipakai untuk kepentingan pertanggungjawaban kepada donatur yang menitipkan dermanya. Kemanusiaan tidaklah memandang keyakinan. Semua berhak dibantu, semua layak membantu. Kemanusiaan adalah bahasa universal yang dimengerti seluruh agama. Agama-agama menganjurkan kebaikan, mengajarkan sikap welas asih, dan mendorong penghargaan pada umat manusia. 

Tindakan tersebut terkesan memperlihatkan adanya kecurigaan pada kelompok agama lain, dalam hal ini Nasrani. Indikasi bahwa hal itu dilakukan atas sentimen keyakinan cukuplah mendasar. Ormas Garis diketahui merupakan kelompok jalur keras. Rekam jejaknya lekat dengan kelompok teror ISIS. Pimpinan kelompok ini, Chep Hernawan, dikabarkan pernah mengirim 100 orang WNI ke Suriah pada 2015 untuk bergabung dengan ISIS. Secara ideologis mereka pun mendukung positivisasi syariat dan penegakan khilafah. 

Jika melihat cara pandang kelompok ideologis semacam ini, di mana biasanya mereka memiliki kecurigaan berlebih bahkan kebencian pada non-Muslim, maka masuk akal kalau aksinya nampak didasari oleh unsur keyakinan. Bukan saja memperpanjang catatan diskriminasi, intoleransi, dan krisis keberagaman di tengah masyarakat kita, tindakan semacam itu dapat memicu gesekan antarumat beragama. Kuatnya sentimen pada non-Muslim juga terlihat dari bagaimana mereka begitu dipersulit membangun gereja yang jelas dijamin legalitasnya oleh konstitusi. Kebencian pada liyan yang dipelihara hanya akan menggerus keutuhan kita sebagai bangsa.

Bahaya intoleransi tidaklah main-main. Perilaku tersebut bermain di tataran paling mendasar arena kemanusiaan kita. Dari sudut pandang agama, sikap arogan, intoleran, merasa lebih mulia dan paling benar, timbul dari gagal paham atas tauhid. Ketika seseorang meyakini keesaan Allah dan mengakui hanya Dia yang menyandang segala kesempurnaan, maka di saat yang sama ia semestinya menyadari bahwa manusia tidak mungkin mencapai kesempurnaan dan kebenaran mutlak. Ada potensi keliru dari apa yang kita yakini, sehingga dampak logisnya bagi manusia yang berpikir adalah sikap rendah hati dan menghargai gagasan orang lain. Sikap arogan dan intoleran merupakan pemahaman yang menggalang afeksi (emosi) kolektif, memobilisasi emosi komunal yang melahirkan kebencian serta sikap memusuhi pada pihak yang berbeda. Intoleransi membuat seseorang tak bisa berpikir jernih dan kritis serta sulit menerima gagasan rasional.

Baca Juga  Tiga Etika Orang Beriman

Seorang yang menghayati keyakinannya, ia akan semakin peka dan berempati pada manusia apapun identitasnya. Agama adalah institusi yang sejak dulu diyakini sebagai jalan ketenangan, akses menuju kebenaran, dan penunjuk arah menuju Tuhan. Dalam Islam, Doktrin, dan Peradaban, Cak Nur menyatakan, semua agama pada mulanya menganut prinsip yang sama, yakni keharusan manusia untuk berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka agama-agama itu, baik karena persinggungannya dengan yang lain atau karena dinamika internalnya, akan berangsur menemukan kebenaran asalnya, sehingga kesemuanya akan bertumpu pada titik temu atau kalimah sawa. Seluruh agama berkomitmen pada kebaikan dan etika dunia seperti prinsip perdamaian, cinta kasih, kemanusiaan, menolak permusuhan, demikian pula sikap toleran.

Tidak adanya rasa percaya diri lah yang kemudian melahirkan sikap kerdil, penuh curiga, prejudice, serta penolakan pada yang liyan. Kemanusiaan tidak dikalkulasi berdasar siapa atau apa keyakinan orang tersebut. Kemanusiaan adalah common platform atau titik pertemuan agama-agama dan manusia itu sendiri. Kalaupun bukan dalam payung keyakinan yang sama, kita semua diikat oleh persaudaraan kemanusiaan dan kebangsaan. Tak ada sama sekali alasan untuk merendahkan sesama insan. Lebih baik berkonsentrasi untuk membantu dan memulihkan korban daripada meributkan identitas pendonor belaka. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.