Menjadi Muslim Kafah melalui Logika Pancasila

KhazanahMenjadi Muslim Kafah melalui Logika Pancasila

Pancasila adalah formula kebangsaan yang menghimpun nilai luhur universal dan abadi dari agama. Cita-cita menjadi Muslim kafah (menyeluruh) bisa berjalan beriringan dengan pengamalan Pancasila selaku dasar falsafah serta pandangan hidup kita sebagai bangsa. Menegaskan bahwa Islam tidak bertentangan dengan Pancasila menjadi begitu penting sebab masih ada segolongan pihak yang menolak Pancasila atas nama Islam. Sementara itu, baik dari sejarah perumusan maupun nilai-nilai yang dikandungnya, Pancasila sejalan dengan ajaran Islam. Tauhid yang merupakan kunci hidup seorang Muslim, terlembaga dalam Pancasila bahkan menjadi ruh primernya dalam sila pertama yang menyinari rangkaian empat sila berikutnya. Pemikir Muslim Tanah Air seperti Gus Dur menyimpulkan bahwa Islam adalah sumber bagi Pancasila. Menghayati dan menunaikan Pancasila merupakan aktualisasi bakti utuh seorang hamba pada Tuhan.

Judul tulisan ini terinspirasi dari penjelasan di kelas pemikiran Islam Indonesia yang penulis ikuti. Persisnya berangkat dari buah karya Nurcholis Madjid atau yang kerap disapa Cak Nur yang berjudul “Menyongsong Tahap Lepas Landas Pembangunan dengan Tuntunan Nabi Muhammad SAW”. Apa yang ditulis Cak Nur tentang ajaran kenabian sebagai tuntunan pembangunan di situ tak lain adalah penjabaran dari kerangka logika Pancasila selaku pandangan hidup berbangsa kita. Sebab, Pancasila sejatinya telah mengadopsi nilai-nilai yang dimiliki agama. Mengenai hubungan agama dan Pancasila, Gus Dur menjelaskan, bahwa agama berperan memotivasi kegiatan individu melalui nilai-nilai yang diserap oleh Pancasila dan dituangkan dalam bentuk pandangan hidup bangsa.

Muslim paripurna adalah Muslim yang keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan selanjutnya membentuk hubungan baik kepada semua makhluk. Tauhidnya memancarkan sikap personal dan sosial yang bermartabat serta penuh budi luhur. Seorang Muslim kafah dengan demikian mesti menetapkan tauhid sebagai lapis dasar pandangan hidupnya, di mana hal ini terpatri dalam sila pertama Pancasila. Cak Nur menegaskan, bahwa mengimani Tuhan Yang Maha Esa merupakan jalan hidup yang akan mempertahankan ketinggian martabat manusia. Sebab, dengan sendirinya, atau semestinya, spirit Ketuhanan Yang Maha Esa membawa dampak pembebasan. Yakni pembebasan dari segala hal yang mengakibatkan pengingkaran harkat kemanusiaan itu sendiri. Dampak pembebasan itu diawali dengan keyakinan bahwa Allah yang Maha Esa ada di atas semua makhluk. Manusia diciptakan untuk tunduk pada-Nya melalui tanggung jawab agenda kekhalifahan manusia untuk mengelola kehidupan yang layak, yang diridhai Tuhan.

Di antara jati diri yang tersemat pada pribadi seorang Muslim adalah sikap menghindari perbuatan yang menyakiti orang lain. Kita ditugaskan untuk merawat kemanusiaan, berlaku adil, sebagai konsekuensi dari keimanan pada Tuhan. Untuk melangkah menuju tata hidup yang adil dan beradab, Cak Nur menekankan agar kita betul-betul menginsafi fitrah baik manusia yang diwakili nurani, sekaligus menyadari adanya kenyataan negatif dalam diri manusia yang memungkinkannya berbuat keburukan. Sebab itu, tiap orang dituntut untuk mengembangkan sikap rendah hati, agar terjauh dari dorongan rasa diri paling benar, keangkuhan, hingga laku tiran pada sesama. Menurutnya, memandang manusia dengan kekuatan dan kelemahannya tadi adalah dasar dari kemanusiaan yang adil. Keadilan adalah radius terdekat dari takwa (QS. Al-Maidah: 8). Ayat-ayat Allah menyuruh kita sekalian untuk berbuat baik dan adil. Peradaban kemanusiaan yang kuat dan harmonis pun hanya bisa diraih dengan prinsip keadilan, karena keadilan merupakan pondasi moral bagi seluruh jenis pembangunan peradaban manusia. Tanpa keadilan sendi-sendi kehidupan akan runtuh. Cak Nur menyimpulkan, kemanusiaan yang beradab hanya ada dalam keadilan, dan hanya kemanusiaan yang adil yang sanggup mendukung peradaban. Hal ini selaras dengan sila kedua Pancasila yang dipedomani bangsa kita.

Baca Juga  Ash-Shidiq Gelar Istimewa Abu Bakar

Tindak lanjut dari prinsip keadilan dalam menggagas peradaban tadi melahirkan konsekuensi logis berupa pandangan berimbang pada semua manusia dengan aneka keragaman dan perbedaan yang menyertainya. Kebinekaan adalah rahmat yang dirancang Tuhan yang harus diakui secara tulus. Umat manusia yang diformat beragam ini diproyeksikan agar saling mengenal dan berkolaborasi tak lain untuk kepentingan pelaksanaan mandat kekhalifahan di muka bumi (QS. Al-Hujurat: 13). Mengenai hal ini, Cak Nur merumuskan bahwa pandangan kemanusiaan yang adil akan melahirkan kemantapan bagi pluralisme sosial yang dijiwai oleh sikap saling menghargai satu sama lain baik antarindividu maupun kelompok masyarakat. Tanpa toleransi dan sikap saling menghargai, persatuan tidak mungkin terwujud. Adalah persatuan yang dinamis, yakni persatuan dalam keragaman, Bhinneka Tunggal Ika, yang bakal mendatangkan kemajuan. Karena, meskipun prinsip kemanusiaan itu tunggal, ada kekuatan kebinekaan dalam kesatuan tersebut. Demikian halnya amanat sila ketiga Pancasila mengusung spirit persatuan keragaman.

Allah, dalam surat Asy-Syura ayat 38 membahas mengenai orang-orang yang menjawab seruan Tuhannya, ialah ketika hendak melakukan sesuatu mereka akan bermusyawarah terlebih dahulu. Poin utama dari sila keempat Pancasila pun adalah musyawarah dan kebijaksanaan. Cak Nur mencatat bahwa dalam tradisi agama disebutkan, pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah (ra’s al-hikmah al-masyurah). Lebih lanjut, semangat ketulusan dalam sikap saling menghargai dan saling menghormati sesama adalah pokok bagi pergaulan kemanusiaan dalam sistem sosial politik yang demokratis. Setiap pribadi dengan fitrah gandanya untuk melakukan kebenaran sekaligus kesalahan, ia berhak mengajukan gagasan sekaligus berkewajiban mendengar pandangan orang lain dengan penuh penghargaan. Prinsip musyawarah lahir dari relasi timbal balik antara mengajukan gagasan serta mendengarkan gagasan tadi, dalam berbagai bentuknya. Musyawarah bukan sekadar wujud rasa kemanusiaan sebab didasari prinsip penghargaan terhadap sesama manusia, namun juga merupakan ekspresi takwa dan rasa ketuhanan, karena rasa ketuhanan lah yang mengawali kerendah-hatian, insaf atas kelemahan diri, tak merasa superior, sehingga bersedia menghormati pandangan lain pihak dan meyakini bahwa hanya Tuhan yang memiliki kebenaran mutlak.

Sayahdan, tak lagi diragukan bahwa keadilan dan upaya penyejahteraan kehidupan manusia adalah mandat ajaran Islam (QS. An-Nahl: 90). Sila kelima merupakan cermin dari tujuan puncak kehidupan berbangsa-bernegara agar seluruh lapis masyarakat merasakan keadilan sosial yang sepadan, tak ada keserakahan sepihak yang sering menjadi penghalang terwujudnya keadilan. Sukarno berkata, bahwa sila keadilan sosial adalah “protes kita yang maha hebat kepada dasar individualisme” (Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas, 2019: 607). Kita diingatkan oleh Cak Nur bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil yang tak ada penindasan oleh manusia atas manusia, yang bersemangat kerakyatan, butuh keteguhan jiwa dan kebesaran tekad yang luar biasa. Namun, langkah dan upaya pendakian yang sulit itulah yang mengantarkan pada kemuliaan hakiki.

Indonesia dengan Pancasilanya adalah rahmat agung dari Tuhan Yang Maha Kuasa bagi kita. Baik dibaca secara terpisah maupun dihubungkan antarsila, Pancasila memancarkan nilai dan ajaran agama yang menyeluruh, mulai dari dimensi tauhid hingga spiritual sosial. Sebagai bagian dari anak bangsa, saat kita mengamalkan Pancasila maka di saat yang sama kita sedang mengamalkan ajaran agama. Sebab itu, berpancasila tak hanya menghasilkan tanggung jawab horizontal, tapi juga vertikal kepada Tuhan. Pancasila memberi kita kesempatan untuk meretas kemajuan dan membangun peradaban melalui jalur Ketuhanan. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.