Quraish Shihab: Moderasi adalah Keseimbangan

BeritaQuraish Shihab: Moderasi adalah Keseimbangan

Melalui kanal Youtube Quraish Shihab yang diunggah pada (10/11/2022), ulama tafsir Tanah Air tersebut mengulas materi tentang moderasi beragama. Tema ini menjadi penting untuk diarusutamakan guna menghindarkan diri dari ekspresi beragama yang salah kaprah dan tak semestinya. 

Quraish Shihab memulai uraiannya dari arti moderasi. Dalam kamus Indonesia moderasi dimaknai “tidak ekstrem”. Di mana kata ekstrem sendiri berarti “sampai ke ujung”. Sedangkan dalam Islam, yang terlarang bukan hanya sampai ke ujung (ekstrem), tetapi “melampaui batas pertengahan” itu sudah masuk kategori terlarang. Al-Quran melarang sikap “ghuluw” (melampaui batas). Dengan kata lain, tidak harus sampai ke ujung, melampaui batas saja sudah dilarang oleh al-Quran.

Quraish Shihab melanjutkan, “Moderasi itu dalam bahasa agama antara lain diartikan wasathiyyah, yang artinya adalah pertengahan antara dua ekstrem. Kalau saya berkata 11 atau 3, maka yang di tengah itu yakni yang kedua, berada posisi antara yang pertama dan yang ketiga. Saya beri contoh tentang wasathiyyah, dalam bahasa Indonesia ada kata-kata wasit. Wasit itu pertengahan. Ia terlibat dalam permainan, tapi tidak ikut bermain, dia tidak memihak ke kiri dan ke kanan. Dia baru memihak kepada yang kanan kalau yang kiri melakukan sesuatu yang mengambil hak yang kanan.”

Wasit itulah gambaran sederhana wasathiyyah. Sebuah titik sikap yang netral sekaligus fleksibel. Tidak memihak ke kiri tidak memihak ke kanan. Namun terkadang harus mengambil dari yang kiri untuk memberikan kepada yang kanan apa yang diambil secara tidak sah oleh yang kiri. Pada posisi ini moderasi berarti keseimbangan. “Namun, keseimbangan ini bukan secara matematis. Dulu, Plato lalu ditiru oleh sebagian filsuf Muslim beranggapan bahwa kebaikan itu antara dua keburukan. Keberanian itu antara sikap ceroboh dan sikap penakut. Kedermawanan itu pertengahan antara sifat kikir dan boros. Tapi kita harus garisbawahi bahwa itu tak harus selalu demikian. Karena ada kebaikan yang bukan pertengahan. Antara lain, berucap jujur, berkata benar. Itu bukan pertengahan antara tidak bohong dan bohong”, lanjut Quraish Shihab.

Baca Juga  Buya Syafi’I Maarif: Fatwa Larangan Salam MUI Berlebihan

Dalam konteks penerapan moderasi, “pertengahan” itu bersifat fleksibel dan kondisional. Yang artinya, pertengahan itu bisa berbeda antara satu dengan yang lain akibat perbedaan situasi. Quraish Shihab mencontohkan, “Kalau saya mau tahu siapa yang di tengah, saya terlebih dahulu harus mengetahui berapa jumlah yang duduk. Dia (yang tengah) yang kedua, kalau jumlahnya itu 3. Dia yang kelima kalau jumlahnya 11. Jadi penerapan moderasi itu tidak dapat dilakukan sebelum kita memiliki pengetahuan. Kalau tidak, bisa-bisa menjadi ekstremisme, dan ini yang sering kali terjadi, karena kita tidak tahu persoalan.”

Moderasi serupa dengan adil, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya, serta erat kaitannya pula dengan al-sadad (ketepatan). Pendek kata, bersikap moderat dalam beragama adalah perilaku yang didasari pertimbangan situasi untuk melihat keadaan secara tepat agar bisa menghasilkan ekspresi beragama yang adil, sesuai pada tempat serta arah yang dituju. “Jadi, moderasi itu bukan pakaian jadi. Moderasi adalah suatu kondisi yang kita tetapkan berdasar situasi yang dihadapi”, pungkasnya. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.