Selarasnya Kata dengan Perbuatan

RecommendedSelarasnya Kata dengan Perbuatan

Sepatutnya kita khawatir jika apa yang keluar dari lisan kita beda jalan dengan perbuatan yang ditampilkan. Hal ini bukan hanya melukai nilai diri sendiri, namun juga mengundang ketidakpercayaan orang lain dan kerugian sosial. Ketimpangan semacam ini dalam istilah umum disebut kemunafikan. Karakter tersebut sangat merusak, sehingga Islam pun bersuara keras pada orang-orang hipokrit. Mesti ada kesepakatan yang lengkap antara perkataan dan perbuatan dari seorang manusia sejati. Apa yang kita katakan mengandung konsekuensi untuk dilaksanakan. Manakala tak berniat melakukan atau sekiranya tak berdaya untuk itu, maka sebaiknya jangan katakan. Mengucapkan satu hal dan melakukan hal yang lain adalah salah satu karakteristik manusia yang paling mengerikan di sisi Allah.

Semua orang tak bebas dari potensi munafik, bahkan umat beriman sekalipun. Dalam al-Quran disebutkan, Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan (QS. As-Shaff: 2-3). Ketika Allah mengetengahkan kata tanya, bukan berarti Allah benar-benar bertanya karena tidak tahu. Melainkan menunjukkan sesuatu yang sangat ganjil dan bahwa perbuatan itu terlampau jauh dari idealitas. Di mana idealnya, seorang yang mengaku beriman akan mempertanggungjawabkan apa yang terlempar dari lisannya, dan selalu ingat pula bahwa perjanjian yang dibuat adalah akad yang disaksikan oleh Allah. Kata “kabura maqtan” dalam ayat tersebut, menjelaskan betapa Allah sangat membenci suatu perilaku yang tidak serempak dengan ucapan. Konsekuensinya, keimanan itu digeser dengan predikat munafik.

Menurut penuturan para mufasir, ayat ini turun untuk menegur orang mukmin yang labil yang tak bisa dipegang omongannya. Dalam tafsir al-Kashshaf karya al-Zamakhsyari misalnya disebutkan, bahwa orang-orang mukmin sebelum diperintah untuk berperang, mereka berkata “Kalau saja kami tahu amalan apa yang paling dicintai Allah, sungguh kami akan mengerjakannya, mengerahkan seluruh harta dan jiwa kami untuk itu”. Allah kemudian menunjukkan amal yang paling disukai adalah berjihad di jalan Allah. Namun (setelah mendengarnya), mereka justru berpaling (melarikan diri) ketika perang Uhud, dan Allah pun mencela mereka. Bisa dipahami, kekalahan Rasulullah dan pasukannya ketika pertempuran Uhud merupakan akibat dari perilaku khianat manusia munafik.

Ajaran lain dari kisah turunnya ayat tersebut adalah agar kita tidak muluk-muluk dalam berjanji serta tidak menggebu-gebu dalam beramal. Rasulullah pernah mengabarkan, Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyak bertanya dan berselisih dengan para Nabi (HR. Bukhari-Muslim). Konteks hadis ini berkenaan dengan turunnya perintah haji, kemudian ada sahabat yang bertanya tentang apakah berhaji itu dilakukan tiap tahun. Nabi mendiamkannya, lalu beliau bersabda, Kalau aku jawab iya, niscaya akan memberatkan kalian. Tinggalkanlah (jangan bertanya) terhadap sesuatu yang aku biarkan. Bukan berarti bertanya itu tercela. Dalam hal ini, seyogyanya tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya akan memberatkan diri kita. Di sinilah pentingnya mengukur kapasitas diri.

Baca Juga  Berdoa dengan Simbol itu Boleh

Dalam percakapan masyarakat luas, ada akronim masyhur dalam tradisi Jawa, yakni jarkoni (iso ngujari/ngajari tapi ora bisa ngelakoni), yang berarti bisa mengatakan/mengajari tapi tak bisa melaksanakan. Sindiran semacam ini umumnya ditujukan kepada para agen nasihat yang tak konsekuen dengan apa yang dikatakan kepada masyarakat. Serempak dengan hal ini Allah berfirman, Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah: 44). Secara lebih spesifik, kedua ayat di atas juga menjadi materi otokritik terhadap personal kita untuk senantiasa menyelaraskan laku dengan apa yang kita kabarkan kepada orang lain. Laku munafik bisa berwujud dalam hal yang sangat halus, yang mungkin kerap tak kita sadari.

Orang munafik adalah manusia dengan sakit batin. Mereka menyiksa diri sendiri dan harus menanggung derita karena pengkhianatan yang dilakukan. Dalam dirinya berkecamuk pertentangan sebab kepalsuan yang diciptakan. Derita psikis itu dapat dieksplorasi melalui firman Allah yang menyatakan, Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang beriman (QS. Al-Baqarah: 8). Iman dan munafik adalah dua hal yang berseberangan. Hati orang munafik tertutup oleh nafsu muslihat, yang karenanya laju cahaya iman menjadi terhalang. Pengelabuan orang munafik sejatinya adalah tipuan pada dirinya sendiri yang juga mengakibatkan kekacauan orientasi pikirannya. Mereka menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari (QS. Al-Baqarah: 9). 

Ketimpangan demi ketimpangan seorang munafik diceritakan Rasulullah dalam tiga karakteristik. Di mana tiga ciri orang munafik itu adalah, ketika berbicara dia berbohong, saat membuat janji tak ditepatinya, dan apabila dipercaya atas sesuatu ia berkhianat. Segala dusta, pengkhianatan hanya akan menambah terus kesakitan dan kemarahan Allah. Manakala hati tertutup muslihat dan tipu daya, manusia munafik akan menjadi pelaku kerusakan di bumi. Tidak satunya laku dan lisan merupakan ancaman bagi iman dan jiwa seseorang. Mari terus mengevaluasi diri untuk mencapai standar moralitas dan iman yang bersih. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.