Habib Ali al-Jufri: Bertasawuf Berarti Menghidupkan Akhlak

BeritaHabib Ali al-Jufri: Bertasawuf Berarti Menghidupkan Akhlak

Seorang laki-laki bertanya dalam sebuah seminar yang diisi oleh Habib Ali al-Jufri. Rekaman seminar tersebut diunggah oleh kanal Youtube Sanad Media dengan judul Mengapa Tidak Semua Manusia Menjalankan Kehidupan Sufi. Lelaki tadi mempertanyakan mengapa kita tidak mengadopsi metode ala sufi, di tengah sistem sosialis, sekularisme, liberalisme yang kita saksikan saat ini. Sebelumnya ia mengambil konteks ceramah Habib Ali al-Jufri yang mengatakan, bahwa “Andai 1 dari 10.000 orang membawa suatu pemikiran yang pemikiran itu bisa menjadi dasar pemikiran masyarakat, maka kita sama sekali tidak menjumpai seorang pun melakukan perbuatan buruk dari golongan sufi. Juga tidak menjumpai seorang pun yang menyesatkan atau menjadi penyebab kesesatan dari golongan sufi. Lantas kenapa tidak senantiasa mengarahkan, ‘Hai para pemuda, jadilah sufi’.”

Dalam hemat saya, si penanya tersebut merasa prihatin dengan kompleksitas masalah hidup saat ini dan mengajukan tasawuf sebagai alternatif sistem, termasuk dijadikan mata pelajaran dalam lingkungan akademik, sebab sufi disebut sebagai kalangan baik sekaligus penganjur kebaikan. Dengan amat santun, Habib Ali menjawab, “Persoalannya bukan membuat orang menerima kebenaran tasawuf, juga bukan dalam usaha membuat orang menerima bahwa tasawuf adalah solusi problem orang-orang. Problemnya adalah di mana tasawuf itu? Apa maksudnya? ‘Tendanya mirip dengan tenda mereka. Tapi penghuninya bukanlah mereka.’ (Artinya) Banyak yang menyerukan kata ‘tasawuf’ bahkan dia punya kartu identitas tasawuf. Namun saat dia membeli tomat di pasar dia berkelakuan sangat buruk. Mana tasawufnya? Banyak yang menghadiri hadroh, zikir, majelis. Namun saat dia jual beli, dia ‘memakan harta nabi’ seperti ungkapan orang Mesir. Maksudnya dia tidak peduli.”

Hal pertama yang disoroti oleh Habib Ali al-Jufri adalah banyak orang yang menisbatkan diri pada tasawuf tapi perilakunya jauh dari karakter sufi. Orang semacam itu adalah mutashawwif, “Kita tidak menyebutnya orang sufi, sebab kata ‘sufi’ adalah mulia. Namun dia orang berlagak sufi (mutashawwif). Mengatakan dirinya sufi”, tutur Habib Ali. Terlihat bagaimana Habib Ali al-Jufri mengkritisi banyaknya orang yang hanya secara permukaan mengaku bertasawuf, namun luput dari esensi utama tasawuf, yakni berakhlak. 

Seperti halnya lelaki penanya tadi, orang pun kemudian mencari-cari bagaimana sufi yang sesungguhnya. Habib Ali melanjutkan penjelasannya, “Engkau ingin tasawuf tersebar? Jadilah seorang sufi, dalam ucapanmu, akhlakmu, keadaan hatimu, penuhi hatimu dengan kasih sayang pada makhluk, menyayangi orang bahkan yang berbeda, yang sedang kita bicarakan. Bahkan orang kafir sekalipun. Aku mencintai orang kafir. Iya, kukatakan dengan mulutku. Iya, aku mencintai orang kafir. Apalagi orang Ikhwanul Muslimin. Aku mencintai orang Syiah, orang Budha. Ini orang kafir dan Islam. Aku pun mencintai orang Salafi-Wahabi. Semuanya.”

Dengan sangat gamblang dijelaskan, bahwa sufi adalah orang yang memenuhi keseluruhan diri dengan kasih sayang universal tanpa kecuali. Jika ingin tasawuf menjadi paradigma kehidupan, maka kita perlu mendisiplinkan diri dengan akhlak cinta. Habib Ali dengan tegas melarang kita membenci siapapun, bahkan orang kafir pun harus kita cintai. Semata-mata karena mereka adalah juga makhluk Allah, seperti halnya kita yang juga hanya hamba.

Baca Juga  Menjaga Akal di Era Digital

Kita harus betul-betul membedakan antara personal dan kesalahan yang dilakukannya. “Dan aku membenci kesalahan yang kulihat dalam perbuatan mereka dan pemikiran mereka. Saudara-saudaraku kita perlu belajar hal ini. Kita tidak membenci personal. Personal manusia, terdapat tiupan ruh ilahi di dalamnya. Kita mencintai personal, yang Allah memberikan ruh padanya. Yang diciptakan oleh Tuhan kita. Kita membenci pemikiran menyimpang. Kita membenci perbuatan yang salah. Aku melawan orang yang menyerang, yang mengancam tanah airku. Aku mendekat pada Allah dengan melawan orang yang menyerang negaraku. Namun hatiku terjaga dari kebencian personal. Kita perlu terwujudnya hal ini.”

Pendek kata, ketika kita membenci personal manusia, di saat yang sama kita menyinggung karunia ilahiah yang bersemayam di dalamnya. Lebih lanjut Habib Ali memberikan gambaran-gambaran harian yang bisa menjelaskan siapa itu sufi dan bagaimana itu tasawuf. Menurut Habib Ali, sufi ditemukan dengan berinteraksi. “Sufi (itu) seperti siapa? Seperti seorang petani yang keadaan keluarganya pas-pasan. Namun saat dia panen, dia memberi tetangganya yang merawat anak yatim. Dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Maaf kita hanya setengah kenyang, dan anak yatim itu menjadi setengah kenyang, tidak kelaparan.’ Inilah orang sufi,” jelasnya. Sufi adalah mereka yang tidak egois, yang peduli pada sekitar dan rela berbagi kepada sesama.

Dalam lain contoh Habib Ali menguraikan, “Orang yang anaknya meninggal dalam tsa’r (balas dendam pembunuhan), lantas dia mengatakan pada orang-orang–di kawasan Shoid atau Bahry–dia berkata pada orang yang telah membunuh anaknya, ‘Aku memaafkan pembunuh anakku.’ Agar balas dendam tidak berkelanjutan. Inilah orang sufi. Orang ini mendahulukan Allah daripada dirinya.” Sufi juga mereka yang bersedia menahan dorongan membalas keburukan dengan keburukan yang sama demi terputusnya mata rantai kejahatan.

Terakhir, Habib Ali al-Jufri memberikan contoh dalam hal muamalah, “Sufi adalah orang yang punya perdagangan besar, milyaran, puluhan milyar, bahkan ratusan milyar, namun dia tidak lagi peduli untung atau tidak jika sudah terkait halal haram. Saat dia bertransaksi namun mendapati hal syubhat, dia tinggalkan meskipun akan mendapat milyaran. Inilah orang sufi. Dia tinggalkan demi Allah. Ulama berkata, ‘Engkau menghindari 1 dirham harta syubhat itu lebih baik dari sedekah 100.000 dirham demi Allah.’ Menghindari 1 dirham harta syubhat lebih baik dari sedekah 100.000 dirham demi Allah. Inilah orang sufi yang kita butuhkan.” 


Dengan demikian, jelas bahwa tasawuf adalah akhlak baik yang dipelihara. Menjadi sufi berarti menjalani hidup dengan terus berpedoman pada budi pekerti mulia dalam segala bidang kehidupan, dengan spirit mendahulukan Allah dari yang selain-Nya. Mengarusutamakan tasawuf artinya beramai-ramai menata hati, lisan, dan perbuatan dengan perangkat kasih sayang. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.