Beragama dengan Rileks

KhazanahBeragama dengan Rileks

Adu tegang urat saraf, selain melelahkan juga bisa mengakibatkan cedera. Demikian pula, beragama jika terlampau kaku dapat berimbas pada perselisihan yang membuat letih. Kita sempat dikenal sebagai negeri dengan masyarakat yang demokratis dan toleran. Islam Indonesia bahkan pernah dijuluki oleh salah satu media massa AS, Newsweek, pada 1996 dengan sebutan Islam with a smiling face (Islam dengan wajah yang tersenyum) karena potret damai, harmonis, dan tenteram di tengah masyarakatnya yang berwarna. Namun, belakangan citra itu memudar dan kita justru menuju titik genting karena menguatnya perselisihan dalam kehidupan beragama. Tak hanya adu tegang antarumat beragama, tapi juga internal umat Muslim sendiri sarat ketegangan.  Dalam upaya mengatasi pertengkaran semacam ini, kita perlu meregangkan urat saraf, memandang agama dengan kepala dingin dan tenang untuk kembali membawa terang damai dalam interaksi keberagamaan kita.

Martin van Bruinessen, seorang Indonesianis, bahkan turut mempertanyakan situasi kita melalui sebuah tulisan berjudul What happened to the smiling face of Indonesian Islam? (2011). Artinya, kekhawatiran akan keberagamaan masyarakat Indonesia yang berangsur tak ramah, dilengkapi sikap saling tuduh, satu sama lain merasa interpretasinya atas ajaran agama sebagai yang paling tepat, adalah kondisi nyata dan bukan keresahan semu. Indonesia yang semula identik dengan gerakan Islam yang mengedepankan kemanusiaan dan kebangsaan, cenderung menjadi gerakan Islam yang politis dan partisan. Hal inilah yang menengarai kegelisahan Martin yang melihat senyum di wajah Islam Indonesia mulai pudar.

Rileks dalam beragama bukan berarti menyepelekan ajaran agama atau meremehkannya. Beragama dengan rileks di sini terinspirasi dari ide gerakan Relaksasi Beragama yang diinisiasi oleh Feby Indirani, seorang penulis yang juga pernah menjadi jurnalis Kompas TV serta Tempo. Gerakan tersebut merupakan gagasan yang relevan untuk detoksifikasi keberagamaan kita yang sedang keruh. Gagasan ini bertujuan untuk menjadi alternatif dari dua kubu yang saling berseberangan di masyarakat kita. Pertama adalah kelompok yang cenderung mendukung pandangan-pandangan Islam konservatif. Sisi gelapnya, kalangan ini relatif sulit menerima pandangan berbeda, dan pada tingkat tertentu bisa melayangkan tuduhan sesat bahkan kafir pada pihak yang tak sejalan dengannya.

Baca Juga  Perkuat Persaudaraan untuk Persatuan Bangsa

Sedangkan kelompok kedua adalah mereka yang dianggap berpandangan liberal dan menempatkan dirinya sebagai kalangan rasional. Untuk sisi gelapnya, kelompok ini tak jarang melempar olok-olokan kepada kelompok pertama dengan sebutan “kadal gurun pasir”, “kaum unta”, dan sebagainya. Seiring waktu, polarisasi antarkubu kian berkembang hingga masing-masing memiliki sebutan untuk mencela satu sama lain seperti dengan istilah “cebong” dan “kampret”. Cebong kampret adalah terma warisan dari perseteruan antarpendukung pada Pemilu 2019 yang sangat eksesif.

Gerakan Relaksasi Beragama merupakan ajakan agar orang berpikir terbuka, mencoba melihat humor dari segala sesuatu, dan berempati pada orang lain yang memiliki interpretasi agama yang berbeda (Muslim Milenial: Catatan dan Kisah Wow Muslim Zaman Now, hlm. 157). Dengan mencoba mencairkan cara pandang, menghangatkan relasi sosial, membangun pemikiran yang inklusif, diharapkan dapat membuat interaksi antarpemeluk agama lebih rukun. Humor juga merupakan solusi untuk membelokkan arah emosi menuju arah pemakluman yang menyenangkan. Rileks beragama sekaligus melatih kemampuan untuk menertawakan diri sendiri serta belajar menerima pandangan tafsir agama yang tak sama.

Lebih jauh, rileks dalam beragama artinya memandang agama sebagai sarana, bukan tujuan. Dengan demikian, berbagai perbedaan dalam tafsir dan ekspresi keberagamaan adalah kelaziman yang mesti disikapi secara empatik. Boleh berbeda asal tidak berselisih tengkar. Sebab tujuan pun keinginan kita sama, yakni mencapai kedekatan dengan Tuhan dan mendapat perkenan-Nya.


Relax, it’s just religion, adalah moto yang diusung dalam gerakan Relaksasi Beragama. Sebuah tagline yang tampak berani dan mungkin dianggap sembrono. Namun demikianlah adanya, kita beragama adalah berproses, memanfaatkan sarana ajaran yang diturunkan Allah melalui utusan-Nya di peradaban manusia. Beragama dengan santai adalah jalan untuk menggelar percakapan baru kehidupan keberagamaan kita yang akur dan damai. Sebuah ikhtiar menerus untuk mengingatkan kita agar menjadi umat beragama sewajarnya dan menjadi manusia sepenuhnya. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.