Quraish Shihab: Jangan Jadikan Anakmu Sama dengan Engkau

BeritaQuraish Shihab: Jangan Jadikan Anakmu Sama dengan Engkau

Tidak sedikit orang tua yang berambisi menjadikan anaknya seperti mereka. Keinginan semacam itu agaknya timbul dari perasaan orang tua yang terus merasa benar dan paling tahu atas anaknya. Ego demikian sering kali diakomodasi melalui teknik-teknik yang relatif memaksa anak untuk mengikuti kehendak orang tua, tanpa mendengar bagaimana pendapat anak dan apa yang sebetulnya mereka inginkan.

Anak sendiri adalah anugerah. Sebuah premis mayor yang menunjukkan keistimewaan mereka. Konsekuensinya, orang tua berkewajiban memelihara mereka dengan mendidik dan mempersiapkannya untuk menjadi manusia yang baik. Melalui kanal Youtube Najwa Shihab dalam segmen bertajuk Shihab dan Shihab yang diunggah pada Minggu (24/7/2022), Quraish Shihab menegaskan, “Jangan jadikan anakmu sama dengan engkau karena dia mempunyai kecenderungan yang berbeda dengan kecenderunganmu. Dia hidup pada masa yang berbeda dengan masamu.”

Memaksakan ego orang tua pada anak tanpa mendengarkan suara mereka adalah kartu truf yang bisa mematikan potensi bahkan memudarkan kepercayaan anak pada orang tua. Mendidik bukan hanya tentang otoritas orang tua, tapi juga kuasa anak. Orang tua dan anak, masing-masing adalah subyek sekaligus obyek pembelajaran. Terlebih ketika anak sudah dewasa, ia punya hak untuk menentukan. “Jangan paksa dia memilih jurusan misalnya. Kamu harus ini, kamu harus itu. Jangan begitu”, tutur Quraish Shihab.

Pendidikan anak yang baik berawal dari orang tua yang mau belajar. Anak yang tak dididik, ia bisa menjadi musuh orang tua, bahkan sejak di dunia. Ulama tafsir Tanah Air itu melanjutkan penjelasan, “Alangkah banyak anak yang durhaka pada orang tuanya. Boleh jadi orang tua memanjakan anaknya sehingga dia merasa bersahabat dengan anaknya. Namun, pemanjaannya itu menjadi musuh kelak di hari kemudian. Sebuah riwayat menyatakan, ada orang tua, ayah atau ibu sudah melangkah ke surga, anaknya yang tidak terdidik, durhaka, melangkah menuju ke neraka. Sebelum sampai di neraka dia protes kepada Tuhan, ‘Saya begini karena orang tua saya tidak mendidik saya. Saya minta keadilan-Mu menyangkut orang yang berlaku aniaya terhadap saya.’ Orang tuanya bisa terseret, jadi musuh anaknya.”

Baca Juga  Ibnu Rusyd Muslim Rasionalis, Bukan Muslim Free Thinker

Dari penjelasan di atas dapat dipahami, bahwa musuh di sini adalah semacam cobaan atau ujian. Anak durhaka boleh jadi adalah gambaran dari seorang anak yang tak diberi haknya untuk mendapat pengajaran yang semestinya. Anak-anak semata-mata hanya dimanja. Sebuah cara pintas yang kerap dianggap ampuh untuk menundukkan anak, atau bahkan menyamarkan kewajiban mendidik yang relatif lebih sulit dijalankan. Namun di kemudian hari, pemanjaan hingga pembiaran pendidikan anak bisa menjadi bumerang bagi orang tuanya, di dunia bahkan akhirat.

“Berbahagialah orang tua yang mengantar anaknya berbakti kepadanya. Bagaimana (agar) anak berbakti? Jangan bodoh-bodohi dia, ‘Kamu bodoh’. Jangan bebani dia melebihi kemampuannya, ‘Kamu harus rangking satu’. Tapi katakanlah, ‘Kamu harus belajar bersungguh-sungguh. Apapun hasilnya itu sudah baik, walaupun bukan rangking satu.’ Jangan mencari-cari kesalahannya. Kalau kamu tidak setuju, jangan maki dia. Karena memaki itu memberi dampak negatif terhadap jiwanya”, pungkas Quraish Shihab. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.