Gus Baha: Benang Tipis antara Tawaduk dan Sombong

BeritaGus Baha: Benang Tipis antara Tawaduk dan Sombong

Kita sepakat, rendah hati (tawaduk) adalah sikap yang baik. Orang tawaduk lazimnya menghiasi pribadinya dengan kesantunan yang bersahaja. Tawaduk sendiri adalah negasi dari sombong. Namun, dua kutub berseberangan itu, pada satu titik bisa menjadi sangat dekat, hingga samar untuk dibedakan. Kadang kala, suatu perilaku yang kita sangka adalah kerendahan hati, boleh jadi sebetulnya itu kesombongan yang tak disadari.

Perbedaan tipis antara tawaduk dan sombong diterangkan Gus Baha melalui ceramahnya yang diunggah di kanal Youtube Santri Gayeng, Jumat (8/7/2022). Gus Baha mengawali uraiannya dengan nasihat masyhur para ulama. Dari Sayyidina Ali sampai Imam Syafii pun mengatakannya. Bahwa, “Laa tashhab man laa yaraaka illa ma’shuman. Yakni, jangan berteman dengan orang yang hanya siap melihat kamu dalam keadaan tidak salah. Itu pecundang.”, tutur Gus Baha. Orang yang tidak siap melihat kesalahan seseorang, berarti dia angkuh. Sadar atau tidak, ia sama saja menyangkal fitrah manusia yang tak mungkin terjaga dari dosa.

Nasihat di atas adalah penjelasan dari konteks cerita tentang seorang anak kiai yang alim, ia telah berguru kepada orang-orang berilmu, tapi ia menolak saat diminta untuk mengajar karena takut salah. Gus Baha pun mengingat petuah yang dituturkan gurunya, Mbah Nafi (putra Mbah Abdullah Salam Kajen). “Mbah Abdullah dan kiai-kiai Kajen lain yang makrifat bilang begini, “Kamu tidak mau mengajar karena takut salah? Itu namanya sombong! Kamu bukan Nabi kok takut salah?! Takut salah itu adalah kesombongan! Jelas-jelas bukan Nabi kok takut salah. Takut ataupun tidak, kamu akan tetap salah.”, jelas Gus Baha.

Orang yang takut salah dalam melakukan sesuatu sejatinya adalah kesombongan. Keengganan mengajar sebab takut berbuat salah adalah ilusi tawaduk. Demikian halnya, semisal kita tidak mau memimpin orang karena takut salah. Ini adalah keangkuhan. Sebab, baik kita takut maupun tidak, kita akan tetap berbuat salah. Manusia tak lepas dari potensi laku keliru. Itulah fitrah hamba. Melalui paradigma sifat asal manusia yang pasti salah ini, kita sekaligus belajar untuk memaklumi kesalahan orang, termasuk kesalah diri sendiri. Karena manusia mustahil tak pernah salah atau lupa.

Baca Juga  Berdakwah Tanpa Kekerasan Narasi

Dari sini Gus Baha kemudian menjelaskan tentang bahayanya kebodohan. “(Kebodohan semacam) itulah yang dialami Khawarij. Khawarij itu khusyuk-khusyuk, tapi bodoh. Mereka hafal al-Quran, penuh kerendahan hati, tapi bodoh. Tidak siap melihat sifat manusiawinya (manusia). Tak siap melihat sisi manusiawinya Sayyidina Utsman, beliau mengangkat pejabat dari kerabat, didemo sampai dibunuh. Sayyidina Ali disalahkan karena dianggap tidak becus memimpin. Muawiyah pun disalahkan. Amr bin Ash juga disalahkan. Semua disalahkan. Bagi Khawarij semua salah. Yang sombong disalahkan karena sombong. Yang khusyuk disalahkan karena tak punya gerakan. Semuanya salah! Makanya Nabi berkata, “Khawarij itu seburuk-buruknya makhluk.”

Ketika seseorang takut melakukan suatu kesalahan, menolak adanya kekeliruan manusia, artinya ia mendamba kesempurnaan, memaksakan keidealan dari manusia yang sudah dijatah untuk memiliki alpa. “Selera begitu adalah keangkuhan”, pungkas Gus Baha. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.