Gus Baha: Beragama adalah Proses

BeritaGus Baha: Beragama adalah Proses

Sebuah ambisi mengidealkan Islam hanya untuk orang-orang bersih yang nihil dosa itu ada di tengah kita. Setidaknya terlihat dari satu dua ungkapan bernada meremehkan, bahwa untuk apa shalat, untuk apa beribadah haji jika masih berlaku fasik? Bagaimana jadinya jika seseorang yang rajin beribadah tapi maksiat tetap jalan? Minimnya akomodasi dan pemahaman mengenai fikih dakwah dalam memotret pelangi keberagamaan masyarakat kerap memicu penghakiman semacam di atas. Yang dominan dipakai adalah fikih ahkam, sehingga umat cenderung menampilkan sikap penolakan, bahkan menjadi sangsi pada institusi agama.

Beragama adalah sebuah proses. Maka dari itu, sikap akomodatif dan toleran harus selalu konstan dalam bingkai syiar Islam. Itulah mengapa paradigma fikih dakwah harus dihidupkan. Dalam perjalanannya, Rasulullah sendiri berkali-kali merasakan kekecewaan terhadap umatnya. Namun beliau menahan diri untuk tidak bersikap keras, menghakimi, atau menghardik hanya karena umatnya masih bolak-balik berbuat maksiat. Menghargai proses penerimaan seseorang atas ajaran-ajaran agama merupakan bagian dari strategi dakwah yang harus kita pegang.

Gus Baha dalam salah satu ceramahnya yang diunggah oleh kanal Youtube Sajadah Hijau, berkisah tentang seorang maling yang menghadap Rasulullah. Nabi menasihatinya agar ia mendirikan shalat. Lalu ada di antara sahabat yang mempertanyakan perintah Nabi tersebut. “Dia memiliki penyakit suka mencuri. Kenapa engkau tak menasihatinya supaya tidak maling, wahai Rasulullah?” Nabi mengatakan, “Kalau nanti shalatnya sudah benar, diterima oleh Allah, nanti akan sembuh dengan sendirinya.” Jawaban Nabi menampilkan kebijaksanaan yang strategis.

Lebih lanjut Gus Baha mengulang penjelasan Habib Zein bin Smith tentang seorang preman yang gemar memalak, sementara itu preman ini juga sungguh-sungguh dalam shalat. Uraian Habib Zein yang diceritakan Gus Baha, menjawab pertanyaan bernada miring terkait apa gunanya shalat kalau masih maksiat. “Saya tetap ingin ada alasan untuk saya berdamai dengan Allah. Ketika saya bermaksiat, saat itu hubungan saya dengan Allah kurang baik. Maka saya akan tetap menjaga satu dua perilaku yang sekiranya bisa menjaga perdamaian dengan Allah, agar saya tetap punya sisi berdamai dengan-Nya”, tutur Gus Baha.

Baca Juga  Sunah Sahur untuk Optimalkan Puasa

Kita tidak pernah tahu di mana Allah meletakkan ridha dan murka-Nya. Boleh jadi, suatu waktu dalam shalat yang dijalankan preman tadi, saat itu Allah meridhainya. Bukan tidak mungkin pula dia kemudian menjadi wali-Nya. Maka dari itu, pernyataan mengerdilkan atas ibadah yang dilakukan seseorang yang masih berliput maksiat tidaklah bisa diterima. Tak ada ibadah yang sia-sia. Semuanya adalah anak tangga proses menyejarah keberagamaan seseorang yang mesti dihormati. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.