Setiap hari, ayah saya mengirimkan pesan Whatsapp yang berisi kutipan perkataan ulama klasik, serta mempromosikan gaya hidup islami seperti para orang shalih zaman dulu (salaf shalih). Sedangkan saya, sebenarnya lebih tertarik pada Islam yang rasional, modern, dan menjawab tantanagn zaman. Memang pada dasarnya, perilaku keberagamaan masyarakat Muslim berbeda-beda. Tidak semua Muslim mempunyai cara pandang dan kesimpulan yang sama ketika memahami ajaran Islam, seperti antara saya dan ayah saya.

Ide-ide Islam berlabuh di dalam hati dan pikiran seorang Muslim dengan pola-pola yang beragam. Dimensi ini kembali menjadi penting disadari di tengah ruang keberagamaan yang kian sempit, fanatik, disertai maraknya truth claim. Situasi saat ini menunjukkan bahwa, agama Islam memang terus kuat di kalangan umat Islam, tetapi peradaban dan tatanan sosial yang diciptakan oleh Islam telah melemah.

Di dunia modern, sebagian besar peradaban Islam telah hancur. Arsitektur dan rancangan kota, ilmu pengetahuan dan filsafat, seni dan literaturnya, kebanyakan telah dihancurkan atau diubah. Sejak paruh akhir abad ke-13, tekanan Barat atas dunia Islam terus berlanjut dan bahkan semakin meningkat. Namun, bahaya dan tantangan yang datang dari Barat baru disadari oleh umat Islam pada akhir abad ke-18, tepatnya pasca invasi Mesir oleh Napoleon pada tahun 1798.

Sejarah gerhana bagi kekuatan dunia Islam ini, kemudian menyebabkan banyak pencarian jati diri dan beberapa jenis reaksi yang menjadi cikal bakal keberagaman pemikiran Muslim. Umat Islam menyadari tantangan Barat dan ingin menanggapinya, demi menjaga identitas dan vitalitasnya. Seyyed Hossein Nasr menyebut ada tiga reaksi yang ditunjukkan oleh kaum Muslim tersebut, dalam bukunya A Young Muslim’s Guide to the Modem World (2003:117)

Pertama, mencoba kembali ke ‘kemurnian’ sejarah Islam awal berdasarkan ajaran al-Quran dan hadis, berusaha untuk mengarahkan umat Islam pada interpretasi yuridis yang sangat ketat. Mereka menegaskan bahwa transformasi, pertambahan dan perkembangan selanjutnya dari sejarah Islam adalah penyebab kelemahan umat Islam. Tokoh utama dari gerakan ini ialah Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab. Kaum puritan ini menekankan pentingnya praktik syari’ah dan kembali ke ajaran Islam sebagaimana ditafsirkan oleh komunitas Islam awal, terutama Hanbali dan beberapa ahli hukum penerusnya seperti Ibn Taymiyyah.

Sayangnya, kelompok ini mengesampingkan semua perkembangan filosofis dan artistik peradaban Islam, cara hidup perkotaan yang santai dan kemudahan yang menyertainya. Penganut gerakan-gerakan seperti itu, tidak hanya menentang kuat peradaban Barat, tetapi juga sains, filsafat, dan seni, sebagaimana yang telah berkembang di dunia Islam itu sendiri.

Reaksi kedua, membawa pemikiran bahwa Islam harus dimodifikasi atau dimodernisasi untuk menyesuaikan diri dengan serangan Barat, dikenal sebagai kaum ‘modernis’ Islam. Ajaran-ajaran Islam perlu diterjemahkan secara rasional, sehingga mampu membangun dan bersaing dengan peradaban modern. Trend ini juga melahirkan ‘reformis modernis’ mencakup spektrum pemikir yang cukup luas, seperti berusaha memperluas gagasan nasionalisme, yang saat itu berkembang di Eropa, ke dunia Islam. Gagasan ini tidak hanya berkembang dari pemikir Arab, tetapi juga Turki dan nasionalisme Iran pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Lebih jauh lagi, kaum modernis juga mencoba untuk menyatukan kembali kesatuan politik dunia Islam mengikuti ajaran Jamaludin al-Afghani. Beberapa pengikut al-Afghani memiliki kecenderungan menjadi reformis fundamentalis, sementara yang lain, seperti muridnya yang paling terkenal, Muhammad ‘Abduh dari Mesir, menjadi modernis dalam teologi Islam itu sendiri dengan memberikan posisi yang lebih sentral bagi potensi nalar dan rasionalitas.

Reaksi ketiga yang memperkaya corak pemikiran muslim di dunia modern, disebut Seyyed Hossein sebagai Mahdiis atau Millenialis Islam, yakni orang-orang yang percaya bahwa penaklukan dunia Islam yang belum dapat ditangani oleh kaum Muslimin, menandai munculnya peristiwa-peristiwa yang bersifat eskatologis. Kepercayaan ini bersumber dari riwayat hadis tentang kedatangan al-Mahdi dan akhir dunia, ketika suatu hari, penindasan menggantikan keadilan dan Islam sejati menjadi layu. Mereka percaya bahwa masalah dunia Islam yang ada di era modern saat ini, hanya dapat diselesaikan dengan pertolongan langsung dari Allah SWT dan melalui campur tangan-Nya dalam sejarah.

Ekspektasi terhadap peristiwa eskatologis seperti ini, mendapat tidak sedikit penganut di dunia Islam abad modern, beberapa tokohnya muncul pada rentang abad ke-13 dan ke-19, mengaku sebagai mahdi atau gerbang (bab) kedatangan Mahdi, kemudian memulai gerakan religius dengan konsekuensi besar baik secara politik maupun agama. Seperti Mahdi dari Sudan, Utsman dan Fadio di Afrika Barat, dan Sayyid Muhammad Bah di Iran.

Akan tetapi, reaksi dari kaum Mahdiis ini lambat laun padam, tidak seperti dua gerakan lainnya, fundamentalisme dan modernisme, yang terus berlanjut dalam berbagai bentuk. Seluruh fenomena revivalisme Islam yang ada saat ini sangat rumit, mencakup spektrum mulai dari bentuk-bentuk moderat, hingga puritan. Dalam kasus-kasus tertentu, sentimen dan sikap umat Islam yang biasanya tradisional dan saleh, telah diambil alih atau digabungkan dengan gagasan dan gerakan yang lebih revolusioner dan politis yang telah termanifestasi selama beberapa dekade terakhir.

Namun sangat disayangkan, sebagian besar dari gerakan-gerakan Islam memang memiliki kepedulian yang sama terhadap pelestarian dan kebangkitan Syariah, kemerdekaan politik dan sosial Muslim, tetapi di sisi lain, memiliki fakta yang sama bahwa, hampir semua gerakan Islam yang ada mengabaikan pentingnya seni Islam, arsitektur dan perencanaan kota, serta tidak tertarik pada pelestarian kekayaan artistik dan estetika Islam. Sikap pasif ini juga berlaku untuk tradisi intelektual Islam yang biasanya terabaikan, kecuali yang menyangkut langsung keimanan, masalah yuridis dan praktik ritual.

Walhasil, itulah beberapa corak pemikiran Muslim yang berkembang di dunia modern. Di tengah keberagaman ini, penting untuk mengedepankan ajaran Islam yang paling universal dan otentik, menghindari sektarianisme sempit dan permusuhan di dalam dunia Islam sendiri. Konflik sektarian hanya akan mengurangi energi spiritual dan intelektual komunitas Islam, terutama ketika berhadapan dengan dunia modern.

%d blogger menyukai ini: