Pilih Kemudahan dalam Beragama

KolomPilih Kemudahan dalam Beragama

Semangat keberagamaan umat Islam di negeri ini sangat meriah. Antusiasme terhadap sesuatu yang bernuansa Islami pun bermuara pada trend hijrah, Islamisme dan Arabisasi yang kian semarak. Masyarakat semakin terdorong untuk merayakan agamanya dan mempraktikan apa saja yang diklaim sebagai perintah agama. Meningkatkan agama dengan hal-hal yang tidak memiliki relevansi, membuat beban religiositas semakin bertambah tanpa henti. 

Dalam kondisi seperti ini, muncul pula motif beragama yang agak matematis, sebagian orang masih mengira bahwa berlebihan dalam beragama itu, semakin dramatis dari kelaziman yang ada, semakin bagus. Tidak heran, belakangan kita menyaksikan pula dakwah yang mendorong seseorang untuk menjalani dunia sebagai penjara dan penderitaan. Mengajak orang meninggalkan pekerjaan, berhenti membahas masalah sosial, dan cukup membahas akidah saja. 

Memang ada sebagian dari kita memilih untuk menjalani aturan-aturan yang berat dibanding yang ringan, hal itu tentu tidak dilarang selama memiliki argumentasi intelektual yang sah, karena masing-masing buah ijtihad pada dasarnya sama-sama mengharapkan keridhaan Allah SWT. 

Hanya saja, di tengah arus selebrasi agama saat ini, kita perlu mengingat-ingat lagi, bahwa ambisi memaksimalkan nilai pahala suatu pekerjan dengan melebih-lebihkannya dari batas, seperti mewajibkan yang sunnah atau mengharamkan yang mubah, bukanlah logika beragama yang wajar. Kita harus berhati-hati, sebab kecenderungan seperti itu akan mengarah pada sikap ekstrem dalam beragama, atau yang dikenal dengan istilah Ghuluw atau Tatharruf.

Agama Islam adalah agama yang humanis, mudah dipraktekkan orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Islam bukan agama yang rumit atau sulit. Tuhan sendiri berfirman,  Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (QS.Al-Hajj: 78) . Ini adalah pernyataan yang telah Allah berikan kepada kita secara resmi dalam teks Al-Quran, bahwa tidak ada kesulitan dalam beragama. Maka dari itu, salah satu penyimpangan jika membawa dakwah Islam untuk menawarkan beban beragama yang berat, yang tidak membawa apa-apa selain kerumitan, membuat hidup menjadi berat dan kemajuan manusia terhambat. 

Dalam hal ini, kita tentu teringat pada sebuah hadits tentang tiga orang pemuda, di zaman Nabi SAW, yang sangat bersemangat untuk beribadah, sehingga mereka berasumsi bahwa ibadah biasa saja tidak mencukupi. Hal tersebut menimbulkan hasrat untuk menjalankan suatu amal ibadah secara berlebih-lebihan, seperti tidak tidur, tidak makan-minum dan tidak menikah demi beribadah sepanjang waktu.

Bukannya mendapat dukungan atau pujian sebagai tiga Muslim paling sholeh dari Rasulullah SAW, logika berlebih-lebihan semacam itu justru tidak dibenarkan Nabi SAW, beliau mengajarkan pola hidup yang seimbang dan bersabda “…aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat malam dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita…” Nabi menasehati untuk mengikuti praktik kehidupannya yang seimbang dan manusiawi sebagai tolok ukur. 

Sunnah tersebut sejatinya bukan hanya disabdakan pada tiga orang yang tengah mengalami lonjakan semangat beragama itu saja. Semangat menggebu-gebu untuk beragama dengan sebaik-baiknya bahkan selebih-lebihnya, terus berulang dialami sebagian umatnya di setiap zaman. Tiga orang itulah yang mewakili kita menghadap Nabi SAW, untuk menuai petunjuk bahwa mentalitas berlebih-lebihan walau dalam hal ibadah sekalipun tidak pernah dibenarkan.

Sayangnya, topik ini sering tidak ditanggapi dengan serius. Banyak orang yang berpikir sebaliknya, bahwa dengan kesulitan dan tekanan untuk mematuhi atran agama, maka religiusitas orang akan meningkat dan menguat. Padahal, tindakan seperti itu kontra-produktif. Penggunaan paksaan dan aturan ketat justru membuat perasaan religiusitas semakin lemah. Keliru meningkatkan batas-batas agama Tuhan dan membuat beban agama menjadi berlebihan telah melumpuhkan energi peradaban dari agama itu sendiri. Akibat dari beban yang berlebihan adalah tidak tercapainya tujuan. Sulit kendaraan berjalan lebih cepat dengan terus menerus menambah bebannya.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat berorientasi pada keselamatan psikologis maupun sosiologis umatnya, sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas hanya akan berujung pada kerugian dan kecelakaan. Umat terdahulu sering mendapat teguran karena sikap seperti itu, seperti dalam QS. Al-Maidah: 77 dan An-Nisa 171. Berlebih-lebihan dalam beragama adalah ciri umat terdahulu yang offside dan sesat sendiri dari ajaran para Nabi yang lurus. Sedangkan Rasulullah SAW sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat berbelas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman (QS. at-Taubah: 128)

Baca Juga  KH Abdurrahman Wahid: Sang Penakluk Dunia

Dalam realitasnya, berlebih-lebihan dalam beragama tidak memiliki batasan yang pasti. Menjalankan pendapat yang ketat dan keras dalam mengimplementasikan ajaran agama sekalipun, bukanlah suatu yang berlebihan selama ia bersungguh-sungguh ikhlas dan sanggup menunaikannya. 

Namun, isu ekstremitas muncul manakala seseorang yang beragama dengan keras tersebut, kerap kali merasa superior dan menganggap orang lain belum Islami, hanya karena berpegang pada pendapat yang ringan dan mudah. Mereka menuntut setiap orang untuk menjalani ajaran agama sekeras doktrin yang dijalaninya, karena menganggap itulah satu-satunya ajaran Islam yang absah. Inilah momentum dimana berlebih-lebihan dalam beragama menjadi ekstremisme.

Sebenarnya, mengharuskan melakukan hal-hal yang sukar secara dan meninggalkan kemudahan-kemudahan yang tersedia, bukanlah cerminan dakwah Islam yang ideal. Mendakwahkan ajaran yang kontras dengan realitas hanya akan membuat umat semakin terpinggirkan dan asing dengan kenyataannya sendiri. Kita tidak semestinya menyia-nyiakan banyak sekali alternatif kemudahan dan kebolehan dalam agama. Luasnya ruang lingkup mubah dalam agama merupakan kesempatan besar yang diberikan Allah agar manusia dapat mengembangkan potensinya.

Rasulullah SAW sendiri membawa ajaran yang pada intinya menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk, membuang beban-beban yang berat dan melepaskan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (QS. Al-A’raf: 157). Tentunya agar umat Islam mampu berdiri di tengah zaman, tidak melalaikan produktivitas dan peran-peran strategisnya yang lain. Pentingnya kelonggaran, welas asih, menjaga perhatian pada sifat dan kapasitas khusus orang [semuanya paling penting], terutama di zaman kita. 

Islam adalah agama yang ajarannya bersifat moderasi (wasathiyah), menjalani kehidupan religius berciri pertengahan, seimbang, dan adil adalah karakteristik utama dalam beragama Islam, “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (moderat)” (QS. Al-Baqarah: 143). Islam menjauhkan umatnya dari sifat ekstrem yang keras, kasar dan memaksa, itulah ciri khas kemuliaan agama Islam. Tidak ada agama atau ideologi manapun yang hadir dengan gagasan awal yang sangat inklusif dan rendah hati, seperti “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam”.

Maka dari itu, keberagamaan atau religiusitas kita banyak memfasilitasi kemudahan, bahkan dalam ibadah-ibadah yang pokok. Ketika seseorang tidak bisa berpuasa? oke, tidak perlu dilakukan. Ketika tidak bisa shalat sambil berdiri? baik, sambil duduk, kalau tidak bisa juga, boleh berbaring. Kewajiban agama pun, pada intinya, diatur dengan ampunan dan belas kasih Allah SWT kepada hambanya, terutama dengan menghindarkan kesulitan dan kesempitan.

Dengan demikian, umat Islam adalah umat yang dimudahkan dengan prinsipnya sebagai umat moderat, sehingga ajaran-ajaran Islam mempromosikan kemudahan dan keringanan bagi penganutnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW tidak pernah mengajak pada sesuatu yang berat dan susah, melainkan selalu memilihkan sesuatu yang lebih mudah dan ringan bagi umatnya. Islam memberikan kita kesempatan untuk menjalani kehidupan yang mulia dan tetap merasakan religiusitas tanpa melalui kesulitan.

Maka dari itu, jangan sampai umat Islam berlebih-lebihan dalam agama hingga terseret dalam kehidupan beragama yang sulit, sempit dan ekstrem. Kita prihatin dan heran atas dakwah-dakwah Islam yang mutlak mengajak seseorang untuk bersusah-payah mengikuti pendapat-pendapat yang paling memberatkan dan keras, keluar dari kondisinya yang telah stabil dan sejahtera. Tenggelam meninggalkan kemudahan dan kebolehan yang tersedia, yang sebenarnya telah diakomodir oleh hujjah yang lain, dan dibangun di atas ijtihad yang sama sahnya pula. Jadi, carilah kemudahan dalam beragama, bukan kesulitan. Kemudahan, ampnan, dan belaskasih merupakan fitur dasar dalam agama yang membuat pemeluknya akan terus bertahan dan berkembang.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.