Haji Pengabdi Setan dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub

Dunia IslamHaji Pengabdi Setan dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub

Masyarakat Muslim Tanah Air selalu menunjukkan antusiasme dalam menunaikan ibadah haji. Sekurang-kurangnya, terlihat dari keinginan mereka yang pernah melaksanakan haji untuk kembali berhaji di tahun-tahun berikutnya. Terbilang jarang orang yang mengatakan cukup dengan sekali naik haji sebagaimana yang ditunaikan Nabi. Hal tersebut sekilas bermakna positif penanda ketakwaan sekaligus kemampuan finansial yang mumpuni. Namun, KH. Ali Mustafa Yaqub menyoroti, bahwa haji berulang tak selamanya positif dari sudut pandang agama.

Berbagai persoalan sosial ekonomi di tengah masyarakat yang masih demikian melilit, menjadi titik berangkat kritik Kiai Ali Mustafa pada pelaku haji berkali-kali. Betapa banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, anak-anak yatim terlantar, gedung-gedung sekolah butuh perbaikan, hingga masyarakat yang menderita krisis sumber air di pelosok negeri ini. Situasi pandemi kian menambah varian persoalan yang bersarang di masyarakat.

Sementara itu,  dalam patron Islam, syariat ibadah tidak hanya ibadah individual (ibadah qashirah) semata, tapi juga ibadah sosial (ibadah muta’addiyah). Qashirah, sebagaimana namanya, adalah ibadah yang manfaatnya terbatas dirasakan oleh si pelaku. Adapun muta’addiyah, faedah ibadah itu mengalir ke lebih banyak orang. Haji serta umrah masuk dalam kategori ibadah qashirah. Oleh karenanya, Kiai Ali menuturkan, manakala dua jenis ibadah itu ada secara bersamaan, Rasulullah SAW memprioritaskan ibadah muta’addiyah ketimbang ibadah qashirah.

Sederhananya, uang yang ditargetkan untuk naik haji kedua atau ketiga kalinya, lebih baik ditasarufkan untuk amal sosial mengentaskan problematika masyarakat di sekitar kita, karena kewajiban hajinya toh telah gugur. Praktik saleh sosial kerap diiringi dengan ganjaran lebih. Sebagai amsal, balasan bagi penyantun atau pemelihara anak yatim ialah surga dan janji kedekatan dengan Nabi, kedekatan yang diisyaratkan dengan posisi jari telunjuk serta jari tengah. Sementara haji mabrur, sebatas dijanjikan surga. Sebuah kalkulasi yang menunjukkan poin unggul ibadah sosial ketimbang personal.

Allah senantiasa bersama orang-orang yang lemah. Di tengah mereka kita bisa menjumpai-Nya. Imam Muslim meriwayatkan hadis qudsi yang secara gamblang menceritakan kebersamaan Allah dengan orang sakit, orang kelaparan, juga mereka yang kehausan. Rasulullah SAW tak mengatakan Allah bisa ditemui di Ka’bah, melainkan di sisi orang-orang yang lemah dan didera derita. Tidak hanya dalam tengadah kita di malam hari, Allah ada dalam aktivitas siapapun yang meringankan beban sesama.

Haji berulang bukan praktik yang dicontohkan Nabi. Dalam catatan sejarah, beliau hanya berhaji sekali di tahun 10 Hijriah yang masyhur dikenal sebagai haji wada’ (perpisahan), sebab berselang sekitar tiga bulan setelahnya Nabi wafat. Haji sendiri telah diwajibkan sejak tahun 6 Hijriah, namun Mekkah baru berhasil ditaklukkan pada 8 Hijriah (Fathu Mekkah). Praktis sebetulnya Nabi dapat melaksanakan ibadah haji sejak 8 Hijriah itu. Yang artinya beliau punya kesempatan tiga kali haji dan umrah beribu kali. Namun Rasulullah memilih untuk hanya sekali beribadah haji dan tiga kali umrah sunnah, serta umrah wajib satu kali saat bersamaan dengan haji.

Baca Juga  Berhaji Tanpa Hutang

KH. Ali Mustafa Yaqub, salah satu ulama hadis Nusantara menegaskan, sekiranya umrah atau haji berulang kali itu baik, sudah barang pasti Rasulullah melakukannya. Sebab memberi teladan kepada umat ialah bagian dari tugas beliau. Kiai yang merupakan mantan Imam Besar Masjid Istiqlal itu menambahkan pandangan ulama generasi Tabiin, seperti Ibrahim al-Nakha’i, Muhammad bin Sirin, serta Malik bin Anas bahwa umrah dua kali dalam setahun itu hukumnya makruh (tak disukai), sebab ulama salaf dan Nabi sendiri tidak mempraktikkannya.

Kritik terhadap pelaksanaan haji berkali-kali ini adalah tamparan agar kita mengukur ulang niat saat hendak mendaftar haji untuk kali kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Benarkah karena ingin beribadah mengikuti Nabi atau justru menuruti nafsu terselubung yang dihembuskan setan agar dipandang saleh dan mulia oleh masyarakat. Bisa jadi keberangkatan haji ke sekian kali itu bukan lagi sunnah, namun makruh bahkan haram.

Di samping untuk melihat kembali niat, kritik Kiai Ali Mustafa juga mendesak kita supaya lebih peka pada persoalan umat. Segudang kewajiban agama masih terbengkalai. Di tengah angka PHK yang tinggi, tunawiswa bersebaran di sudut-sudut jalan, anak-anak yatim terlantar, korban bencana tak terurus, lalu apakah pantas kita menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta untuk merepetisi ibadah haji yang sejatinya telah gugur hukum wajibnya di pelaksanaan yang pertama?

Setan tak hanya berbisik agar manusia berbuat jahat atau maksiat, tapi setan juga membisiki manusia untuk beribadah. Jika yang menjadi dorongan ibadah haji adalah rayuan iblis yang terlihat manis, seperti halnya predikat takwa atau status unggul di muka manusia, saat itulah ia menjadi haji pengabdi setan. Kiai Ali Mustafa Yaqub mengimbuhi, bahwa ibadah yang dimotivasi bisik rayu setan bukan lagi tergolong ibadah, melainkan maksiat. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.