Syekh Ali Jumah: Memanen Pahala Melalui Aktivitas Keseharian

BeritaSyekh Ali Jumah: Memanen Pahala Melalui Aktivitas Keseharian

Aktivitas harian mungkin tampak biasa di mata kita. Tidak dirasa istimewa sehingga dilalui begitu saja. Kegiatan-kegiatan kita bisa bernilai lebih apabila diisi dengan intensi yang baik. Ibadah formal, laiknya puasa, shalat, membaca ayat suci bukan satu-satunya mata air pahala. Apabila kesadaran serta niat positif selalu menjadi pondasi, maka aktivitas biasa kita bisa menjadi lahan ganjaran yang menjanjikan.

Hadis tentang niat adalah riwayat populis yang diceritakan oleh sahabat Umar bin Khattab. Menjadi hadis pertama dari 42 riwayat yang dihimpun Imam Nawawi dalam kitab Arba’in nya. Di mana pokok bahasan hadis itu ialah niat sebagai jantung perbuatan. Niat yang akan menentukan bagaimana nasib suatu amal, apakah akan menjadi perbuatan bernilai sahih atau sebaliknya.

Ambil contoh ulama ilmuan yang tetap hidup pemikirannya setelah ratusan hingga ribuan tahun tiada. Mereka menjadikan amalnya hanya untuk Allah, sehingga Allah melanggengkan amalnya hingga hari ini. Sebagai amsal, banyak sekali karya ulama besar yang bisa dinikmati hingga kini. Karena mereka tulus berkarya untuk Allah, maka Dia menjaga amalnya tersebut, menjadi pahala abadi sekaligus bukti kuasa-Nya dalam memuliakan mereka yang berhati tulus. 

Di lain tempat Allah menuntun kita melalui firman-Nya yang berbunyi, Katakanlah Muhammad, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kapadaku. Aku adalah orang pertama dalam kelompok orang Muslim.

Ayat tersebut adalah semacam perjanjian primordial bagi seorang Muslim, bahwa mandat eksistensial kita adalah untuk beribadah kepada Allah. Artinya, jalan beribadah kepada-Nya sama menyeluruhnya dengan tujuan prinsip penciptaan makhluk. Medium ibadah dengan demikian sangat banyak dan terbuka.

Baca Juga  Ramadhan Sebagai Syahrul Maghfirah Umat Muslim

Syekh Ali Jumah melalui salah satu ceramahnya dalam kanal Youtube Sanad Media membahas lebih jauh ayat di atas, “Semua gerak dan diam kita seyogyanya diniatkan untuk Allah. Ada seorang ulama besar bernama Ibnul Haj, ia menulis kitab al-Madkhal. Dalam kitab itu dijelaskan bahwa para sahabat Nabi, segala perbuatan dan diamnya diberi niat, sehingga mendapat pahala besar dan melatih diri mereka agar hidup bersama Allah”, tutur ulama besar Mesir tersebut.

Dengan paradigma demikian, para sahabat pun selalu menata niat di sepanjang waktunya. Syekh Ali Jumah meneruskan, bahwa saat hendak keluar untuk shalat mereka selipkan niat amar makruf nahi mungkar, menyingkirkan benda yang menghalangi jalan, menghadiri jamaah, atau membantu orang sesuai kondisi, dan sebagainya. Para sahabat tersebut hidup dengan beragam niat dalam satu aktivitas, seperti halnya ketika hendak berangkat jamaah tadi. “Praktik semacam itu berangkat dari ayat mulia tadi”, pungkas Syekh Ali Jumah.

Hidup ini adalah ladang eksplorasi ibadah guna mendulang ganjaran sebagai bekal hari kemudian. Menyertakan selalu niat lillah dalam semua diam dan gerak kita merupakan pemenuhan janji primordial seorang hamba yang diciptakan semata-mata untuk menyembah-Nya. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.