Ibnu Athaillah: Buah Ucapan dari Hati yang Bersih

KhazanahHikmahIbnu Athaillah: Buah Ucapan dari Hati yang Bersih

Manusia yang memiliki hati bersih akan terpancar karisma dalam dirinya. Apa yang diucapkannya dapat memberi kesan yang dalam, kesejukan itu akan menyelimuti kepada mereka yang mendengarkannya secara seksama. Bahkan orang yang hatinya bersih, kebodohannya pun mampu mendidik orang lain.

Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Setiap ungkapan yang terucap dibungkus oleh corak kalbu yang menjadi tempat keluarnya”.

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati dalam Syarah Al-Hikam Ibnu Athaillah (2019), setiap ungkapan yang terucap akan dibungkus oleh pakaian hati. Jika hati bersinar oleh cahaya, setiap ucapan yang keluar akan dibungkus oleh cahaya itu, sehingga semua pendengaran tidak akan menolaknya dan seluruh hati tidak mengingkarinya. Pakaian yang membungkus ungkapan itulah cahaya yang keluar dari hati.

Kata itu memiliki kekuatan yang ajaib. Adakalanya mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik atau menjadi buruk, tergantung siapa yang bertutur, menerima penuturan, dan kondisi kalimat itu diucapkan.

Barang tentu, ungkapan bijak yang dibungkus cahaya sekaligus baik dalam sikapnya, hati manusia yang tertutup akan terbuka dan mereka dengan mudah menerima seruannya. Sebaliknya, seorang yang bijak dalam penuturan, tetapi disertai perilaku yang gelap, tak seorang pun yang mengambil manfaat darinya. Kendati demikian, perlu dicatat bahwa manfaat ucapan bisa saja didapat hanya dari sisi ucapannya, bukan dari siapa yang mengucapkannya, karena Allah menguatkan agama kita ini dengan ucapan seorang lelaki yang durjana sekalipun.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang sempurna dalam akhlak dan perilakunya, kala itu orang yang mendengar tutur kata darinya hanyut, tak ada yang mengingkari. Adapun orang-orang kafir Quraisy yang menolak beliau, bukan sebab tidak berkenan dengan apa yang udikatakannya. Secara batin atau dari lubuk hati mereka sebenarnya memebenarkan Rasulullah SAW atas ajarannya. Maka dari itu, beliau mendapat gelar sebagai orang yang dipercayai, al-Amin (yang dipercaya). Namun, sebab egoisme, hawa nafsu, dan kepentingan personal maupun sosial sosial yang kelak membuat orang Quraisy ingkar terhadap ajaran-ajaran Islam.

Baca Juga  Merawat Kebudayaan ala Bung Karno

Walhasil, ucapan yang bersumber dari hati yang bersih akan menorehkan kesan yang dalam. Jangan lelah untuk terus mendidik hati agar apa-apa yang terpancar dalam diri kita adalah kebaikan dan energi positif yang orang lain juga bisa merasakan manfaatnya.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.