Ikhtiar Buya Syafii Maarif Menyudahi Sengketa Usang Sunni-Syiah

Dunia IslamIkhtiar Buya Syafii Maarif Menyudahi Sengketa Usang Sunni-Syiah

Sengketa Sunni-Syiah merupakan cerita kuno yang tak wajar dipertahankan. Meskipun dalam ranah kultural, unsur antara Sunni-Syiah relatif cair namun pada domain politik-keagamaan ketegangannya tetap tinggi. Akibat paling menonjol dari adegan sektarianisme ini adalah praktik diskriminatif dan nafsu meminggirkan minoritas, dalam hal ini Syiah. Masyarakat didikte oleh kebencian yang mengoyak persaudaraan sesama. Buya Ahmad Syafii Maarif semasa hidupnya begitu giat berikhtiar memutus mata rantai kebencian Sunni-Syiah.

Dalam banyak kesempatan, Buya Ahmad Syafii Maarif menyatakan bahwa urat takutnya telah putus. Artinya, secara total Buya mewakafkan diri, pantang takut terhadap segala konsekuensi perjuangannya. Selama ini, karena pembelaannya pada hak-hak masyarakat Syiah, Buya sudah bolak-balik dicap sebagai antek Yahudi, oknum liberal, bahkan dikafirkan oleh barisan konservatif-radikal. Keberanian Buya barang tentu karena kemerdekaan dirinya dari kepentingan jangka pendek apapun. Semata-mata ia berkepentingan membentuk masyarakat yang dewasa, harmonis, dan tidak tuna moral serta intelektual.

Sunni-Syiah adalah murni konflik politik Muslim awal yang melibatakan para elite Arab setelah Rasulullah SAW wafat, alih-alih persoalan teologis. Sesaat setelah Nabi wafat, bibit perpecahan sudah terlihat. Kala itu, sementara keluarga Nabi dan sejumlah sahabat tengah sibuk mengurus jenazah beliau, justru terjadi perdebatan alot antara sahabat Anshar dan Muhajirin mengenai siapa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan umat Islam.

Setelah proses panjang yang berlangsung di Saqifah Bani Saidah, sahabat Abu Bakar keluar sebagai khalifah terpilih. Keluarga Nabi yang tak dilibatkan dalam pembahasan itu pun menolak untuk berbaiat pada khalifah Abu Bakar. Pemilihan sepihak khalifah tersebut mengecewakan keluarga Nabi serta pengikut Sayyidina Ali. Dalam keyakinan mereka, Ali bin Abi Thalib adalah kandidat terpilih Nabi untuk meneruskan kepemimpinan berdasar peristiwa Ghadir Khum usai Nabi berhaji wada’.

Perseteruan di antara sahabat kian meruncing setelah Sayyidina Usman terbunuh. Ali sebagai khalifah penerusnya didesak keras oleh Muawiyah untuk mengusut pembunuhan itu. Karena merasa permintaannya tak kunjung dipenuhi khalifah Ali, Muawiyah justru menuding Ali terlibat dalam pembunuhan itu. Puncaknya adalah pecahnya perang Shiffin yang berujung dengan arbitrase (tahkim) atas permintaan Muawiyah ketika ia terdesak nyaris kalah. Sejak itu, garis demarkasi Sunni-Syiah kian tegas. Sebuah konflik politik kuasa yang digeser menuju friksi teologis.

Sejak kepulangan dari rihlah intelektualnya di Chicago pada 1980-an, salah satu fokus Buya Syafii adalah menutup buku konflik Sunnni-Syiah tersebut. Buya menegaskan, umat Muslim harus menyudahi kebodohan menyejarah dengan membuang-buang waktu berkonflik dalam selubung sektarianisme Sunni-Syiah. Dan mengarahkan mental untuk mengejar peradaban yang telah jauh meninggalkan umat Islam.

Untuk konteks Tanah Air, sentiman anti Syiah masih subur hingga saat ini. Perlawanan pada Syiah di Tanah Air kian menguat di era pasca reformasi, ketika keran kebebasan terbuka lebar. Gerakan anti Syiah mewujud dalam ruang-ruang seminar, publikasi buku, intimidasi, fatwa sesat, kekerasan fisik, hingga kekerasan konstitusional. Penyerangan komunitas Syiah di Sampang menjadi yang paling menggetirkan. Kekerasan itu menyebabkan korban luka dan meninggal dunia, bahkan mereka diusir dari kampung halamannya.

Baca Juga  Akhirnya HTI Resmi Dibubarkan

Perjuangan Buya bernapaskan spirit HAM, etika Islam, serta keadilan konstitusional. Buya menyoroti kegagalan pemerintah dalam melindungi hak kebebasan berkeyakinan bagi semua warga negara. Alih-alih menjamin, pemerintah justru sengaja terlibat dalam kerangka diskriminasi terhadap Syiah.

Di era Orde Baru, rezim berkuasa menjadikan MUI sebagai perpanjangan tangan untuk mengawasi dakwah Syiah, sekaligus menyebar informasi kepada masyarakat mengenai bahayanya ajaran Syiah. Orba mewaspadai kehadiran Syiah karena khawatir akan dampak Revolusi Iran menjalar ke Indonesia, yang akan mengusik stabilitas rezim tersebut. Sampai kini, kebencian bermotif teologis pun masih bersarang kuat di masyarakat kita.

Kritik selanjutnya dilayangkan Buya kepada sejumlah pemuka agama yang tak menjalankan peran semestinya sebagai penegas persaudaraan umat serta penebar khutbah perdamaian. Sebaliknya, mereka malah berkontribusi memecah belah publik. Tujuan agama adalah pemuliaan manusia. Ini adalah pengetahuan dasar yang mesti dimiliki agamawan agar tak risih pada mereka yang berbeda.

Kegelisahan Buya Syafii serta peta perjuangannya bukan sesuatu yang tawar tanpa alasan. Tanah Arab yang terus menjadi bidang konflik sejak sejak era klasik hingga modern merupakan sumber utama kekhawatiran Buya. Geopolitik global juga turut berpengaruh dalam hal ini. Isu perang Sunni-Syiah tak segan dihembuskan untuk proyek politik kepentingan, seperti yang terjadi dalam kasus Suriah.

Sebab itu, Buya Syafii tak henti mengingatkan umat Muslim Tanah Air untuk terus bekerja menghidupkan persaudaraan serta perdamaian universal, bukan Islam historis yang selama ini dipelihara yang dipenuhi babak konflik berdarah serta kebencian. Mandat persaudaraan, keadilan, dan harkat kemanusiaan adalah pesan qath’i (pasti) Islam yang tak bisa ditawar.

Sengketa Sunni-Syiah yang muncul di antara para elite Arab adalah sejarah konflik yang tak perlu dibudidaya di Indonesia. Lahir dari kemelut politik klasik, kebencian terhadap Syiah pun selalu direplikasi untuk modus politik kekuasaan, seperti kilas tindakan rezim Orba, bahkan pola itu berlaku hingga kini. Pembelaan Buya pada Syiah seutuhnya adalah wujud komitmen penegakan HAM dan konstitusi serta penghargaan atas pluralitas. Diskriminasi kepada penganut Syiah merupakan pelanggaran berlapis pada nilai keislaman, moral kemanusiaan, sekaligus ruh keindonesiaan.

Pada 31 Mei 2022 semestinya Buya Syafii Maarif genap berusia 87 tahun. Lain kehendak Tuhan, lain pula kehendak manusia. Sosok yang diharapkan terus membersamai bangsa ini telah diundang lebih awal oleh Tuhan. Mari berikan kado terindah untuk Buya dengan komitmen persaudaraan tanpa pengecualian. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.