Khairul Ummah, Harmonis dalam Keberagaman

KolomKhairul Ummah, Harmonis dalam Keberagaman

Islam pertama kali menyebar di tanah Arab dengan merangkul berbagai kebangsaan, adat istiadat, golongan dan agama yang ada. Kemudian, menyebar lebih luas ke Asia, India, dan Afrika. Karena latar belakang pemeluk agama Islam sangat beragam itulah, tradisi toleransi tercermin dalam ajaran Islam. Umat Islam menyandang gelar khairul ummah karena kemampuannya untuk berialektika, menengahi, dan mengharmonisasikan segala perbedaan. Masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman, merupakan antitesis dari budaya diskriminatif yang amat ditentang oleh al-Quran sejak belasan abad lalu.

Diskriminasi adalah sikap pilih kasih, yang condong pada perlakukan tidak adil atas perbedaan karakteristik seseorang, seperti suku, golongan, jenis kelamin, ras, agama, kepercayaan, aliran politik, atau kondisi fisik. Pikiran atau sikap disriminatif yang langgeng, akan bertransformasi menjadi ketidakadilan dan kekerasan di tengah masyarakat. Seperti kekerasan yang pernah menimpa kelompok Ahmadiyah di Sintang, Syi’ah di Sampang, Sunda Wiwitan, dan Ahok, semua adalah tindak kekerasan yang bermuara dari diskriminasi. Tindak kejahatan yang menimpa seseorang, atas identitas kemanusiaan yang melekat pada dirinya, merupakan kemalangan akibat diskriminasi sosial yang tidak boleh kita biarkan.

Sifat diskriminatif sangat bertentangan dengan perinsip utama Islam, yaitu Keadilan, juga bertentangan dengan sila kelima asas negara kita, ‘Keadilan Sosial’. Peradaban modern dituntut agar mengembangkan sikap positif terhadap perbedaan, lebih awal dari ini, teks al-Quran menolak diskriminasi dengan mengusung ide-ide kesejajaran, keadilan, dan posisi yang moderat.

Dalam suatu kasus, melalui pesan suci al-Quran, kebiasaan orang-orang Madinah yang kerap mendiskriminasi kaum difabel, dirombak. Saat itu atau bisa jadi saat ini pun, orang yang memiliki keterbatasan fisik menjadi terkucil dan sulit bersosial bersama orang normal. Menurut Ibnu Katsir, sebelum turunnya risalah, ada budaya di mana masyarakat Madinah merasa keberatan makan bersama orang yang memiliki keterbatasan fisik, karena dianggap kotor dan jijik. Atas realitas ini, turunlah wahyu untuk menghapus kebiasaan diskriminatif ini, Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak pula bagi orang pincang, tidak pula bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan bersama-sama mereka (QS. an-Nur:61).

Substansi QS. an-Nur ayat 61 tersebut menunjukkan bahwa ajaran penghapusan diskriminasi sosial. sebagaimana pendapat syaikh Ali As-Shabuni dalam kitab tafsirnya, tidak ada dosa dan jangan pandang sebagai suatu yang buruk, jika orang-orang yang punya uzur dan keterbatasan untuk makan bersama orang-orang yang normal, sebab Allah membenci kesombongan dan orang-orang sombong yang merasa kelompok lain lebih rendah. Allah SWT menyukai kerendahhatian hamba-Nya. Inilah ayat yang mempersatukan masyarakat terkucil dengan masyarakat umum dalam bingkai kesejajaran.

Baca Juga  Muhammad Kace Merusak Keindonesiaan

Keadilan merupakan misi revolusioner Islam, dalam memerdekakan setiap kaum tertindas dan melepaskan dirinya dari belenggu diskriminasi. Diskriminasi umumnya terjadi pada kalangan lemah, minoritas atau terasing. Namun, diskriminasi sebagai wujud ketidakadilan, sebenarnya tidak memandang lapisan sosial. Pernah terjadi, peristiwa perselisihan antara orang kaya dan orang miskin dihadapan Rasulullah SAW. Nabi SAW saat itu cenderung ingin membela orang miskin tersebut, karena iba akan kemiskinanya. Namun, Allah tidak ridha kecuali bila beliau tetap bersikap adil antara yang kaya dan yang miskin.  

Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu, yang kaya atau pun miskin (QS. an-Nisa: 135). Inilah ayat tentang keadilan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Ayat di atas mengajarkan kita agar mencegah diskriminasi yang cenderung terjadi lantaran membela diri atau seseorang bukan karena kebenarannya, namun karena alasan-alasan ikatan keluarga, rekan, maupun karena lapisan sosialnya. Diskriminasi harus dihapuskan demi meratanya keadilan dan kesejahteraan manusia, tanpa melihat perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, maupun perbedaan ras.

Al-Quran sebagai pusat spiritual umat Islam, mengandung inspirasi dalam porsi yang sempurna. Hanya di dalam al-Quran, kita bertemu ayat yang penuh dengan toleransi dan lapang dada, menganjurkan persatuan agama. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. al-Baqarah: 62)

Ayat ini dengan lantang menyuarakan agar agama jangan diklaim dan dimonopoli suatu golongan, sebagaimana penafsiran Buya Hamka. Ia menulis bahwa, siapapun hendaklah selalu menyiapkan jiwa untuk mencari hakikat kebenaran, Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti oleh amal yang shalih. Mentalitas ini amat diperlukan dalam dunia modern. Kaum agama hendaklah mencipta perdamaian dengan mencari dasar kepercayaan serta membuktikannya dengan amal shalih.

Dengan demikian, al-Quran yang turun pada umat manusia yang diciptakan beragam, bahkan dalam konteks peradaban yang masih mempraktikkan perbudakan, telah membuktikan dirinya memiliki spirit anti-diskriminasi. Hal ini merupakan inspirasi besar bagi umat Islam, mengadopsi kesediaan untuk menerima keberagaman, hidup secara toleran pada tatanan masyarakat yang berbeda suku, gologan, agama, adat, hingga pandangan hidup. Itulah yang akan meneguhkan gelar umat Islam sebagai Khairul Ummah, sebaik-baiknya umat.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.