Sunni-Syi’ah Sama-sama Muslim

KolomSunni-Syi'ah Sama-sama Muslim

Lagi-lagi, jagad dunia maya diributkan oleh isu Sunni-Syiah. Kali ini, Habib Husein Ja’far yang diserang oleh akun-akun yang kerap menebarkan wacana anti-Syiah. Kepopuleran ‘habib millennial’ yang mewarnai panggung dakwah dianggap ancaman bagi masyarakat Muslim! Tidak jelas apa yang sebenarnya berbahaya dari dakwah Habib Husein, tidak diterangkan. Mereka menuduh dakwahnya sesat hanya karena Habib Husein disebut-sebut sebagai Syi’ah. Cacat retorika semacam ini memang merupakan ciri khas wacana yang isinya menyesat-nyesatkan dan menanamkan kebencian antar sesama umat Nabi SAW.

Mayoritas Muslim Tanah Air adalah masyarakat yang toleran, terbuka dan menyadari bahwa penganut Sunni maupun Syiah itu hanya berbeda mazhab teologi, dan tetap sama-sama berstatus Muslim. Namun, ada saja oknum-oknum yang terus menyuarakan asumsi keliru tentang Syi’ah yang biasanya dibingkai sebagai ‘bukan Islam’ atau ‘sekte sesat’. Hal itu telah lama mengakibatkan kebencian sosial terhadap penganut Syiah, dan tidak jarang berakhir pada tindakan diskriminasi dan persekusi. 

Seperti halnya keberagaman aliran fikih, Syafi’iyah, Malikiyah, Hanabilah, Hanafiyah, Ja’fariya, dan lain sebagainya, Islam juga mengakui perbedaan aliran pemikiran teologi, yang terbesar diantanya ialah mazhab teologi Sunni dan teologi Syi’ah. Memang pada dasarnya, keberagaman adalah kultur alami bagi berkembangnya tradisi keilmuan Islam. Hal ini bukanlah suatu kerugian, tetapi justru menguntungkan karena dengan begitulah Islam dapat merangkul lebih banyak umat dari latar belakang sosial-budaya yang berbeda-beda. Untuk itu kita diajarkan untuk memandang perbedaan sebagai satu hal positif, “perbedaan adalah rahmat.”

Sunni dan Syiah adalah dua mazhab (aliran) teologi yang sama-sama sah dalam Islam. Bahkan merupakan madzhab kalam yang paling banyak dianut oleh seluruh umat muslim di dunia saat ini. Berdasarkan sebuah penelitian Pew Research Center pada tahun 2015, Islam memiliki 1,8 miliar penganut, atau sekitar 24,1% populasi dunia. Di dalam buku Islamic Beliefs, Practices, and Cultures, penulisnya Marshall Cavendish, mengatakan Sunni umumnya mendominasi total populasi Muslim, yakni sekitar 70%, dan Syiah sebanyak 20%.

Sebagai mazhab atau aliran, tentu terdapat perbedaan dan persamaan prinsip, serta cara pandang. Namun, perbedaan Sunni-Syiah, di luar ranah politik, tidak begitu jauh dan bahkan pada dasarnya memiliki kesamaan yang lebih banyak. Secara substansi  antara  Sunni dan Syiah sama-sama berpegang pada sumber primer yaitu al-Quran dan Sunnah.

Dalam sejarah awal Islam, setidaknya sebelum pertengahan abad ke-4 H, hubungan Sunni-Syiah berjalan harmonis.  Kedua mazhab besar Islam ini sama-sama berjasa bagi perkembangan Islam, khususnya di bidang Ilmu pengetahuan. Semua keharmonisan tersebut tercipta melalui penghargaan terhadap perbedaan, serta kesadaran bersama untuk menghindari fanatisme madzhab. Kita tidak perlu heran, di masa lampau, ulama kita yang bermazhab Sunni, berguru pada Ulama bermadzhab Syi’ah, begitupun sebaliknya. Masing-masing memiliki corak dan produk keilmuan yang saling memperkaya khazanah peradaban Islam.

Baca Juga  Membersihkan Ruang Sosial dari Diksi Kafir

Al-Bukhari, seorang ulama hadits terkemuka madzhab Sunni, memiliki seorang guru dari kalangan Syi’ah bernama Ubaidullah ibn Musa al-Absi. Selain itu, cukup banyak diketahui bahwa Abu Hanifah, Imam besar madzhab Sunni bidang fikih, juga berguru pada Imam Ja’far ash-Shadiq, seorang ulama terbaik syi’ah. Dalam bidang tafsir al-Quran juga, sudah menjadi kelaziman bahwa literatur Syiah turut mewarnai referensi penafsiran ulama Sunni, tidak lain untuk memperkaya penafsiran. Kultur ini bahkan terus lestari hingga kini. Di antara contohnya ialah Quraish Shihab, yang merujuk pada tafsir al-Mizan karya Thabathaba’i, dalam penulisan Tafsir al-Misbahnya.

Sejarah damai Sunni-Syiah merupakan kearifan tatanan sosial Islam yang amat berharga. Islam menaungi Sunni dan Syiah, kedua madzhab ini merupakan kekuatan intelektual dan spriritual besar umat Islam. Barnaby Rogerson dalam bukunya The Heirs Of The Prophet Muhammad: And the Roots of the Sunni-Shia Schism (2006), mengomentari kemiripan Sunni dan Syiah dalam ibadahnya. Ia menemukan bahwa saat menguji praktik keagamaan muslim Sunni dan Syiah untuk mencari perbedaannya, variasinya sangat kecil. Sunni-Syiah mengakui al-Quran yang sama, melaksanakan shalat, kalender yang sama, praktik puasa yang sama dan ritual haji yang sama.

Mengkafir-kafirkan atau menyesat-nyesatkan keyakinan Syiah, seolah mereka bukan Islam, merupakan tindakan tidak masuk akal. Bahkan, pada tahun 2005 telah dibuat kesepakatan Ulama tingkat dunia untuk menegaskan bahwa Sunni, Syiah, Ibadi, az-Zahiri, Asy’ariyah, sufisme, dan salafi sejati adalah Muslim. Oleh karena itu, haram untuk saling mengkafirkan satu sama lain. Ijma’ atau kesepakatan ini dikenal dengan nama The Amman Message atau Risalah Amman, yang dilaksanakan di Yordania dan diikuti oleh ratusan Ulama abad ke-21 dari 50 negara.

Selain itu, Iran sebagai negara beraliran Syiah juga tergabung dalam organisasi Islam tingkat dunia, seperti OKI bersama 60 negara muslim lainnya. Hal ini membuktikan bahwa keyakinan Syiah yang dianut oleh mayoritas masyarakat Iran diakui sebagai bagian dari Islam juga, serta diterima oleh seluruh negara muslim lainnya.

Maka dari itu, Syiah adalah bagian dari Islam, sebagaimana Sunni. Ajaran untuk saling membenci, bukanlah ajaran agama, melainkan narasi kepentingan dan rekayasa politik. Mereka yang mengusung permusuhan Sunni-Syi’ah hanyalah oknum yang tidak menyukai kondisi damai dan stabil. Provokasi dan hasutan untuk saling bermusuhan di antara kita lebih layak ditentang daripada dituruti. Mari terus jaga persaudaraan sesama umat Rasulullah SAW dengan senantiasa saling menghormati keberagaman mazhab dalam Islam. Mari jaga persaudaraan yang melampaui batas-batas sektarian dan terbebas dari fanatisme madzhab.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.