Petempur Asing dalam Konflik Rusia-Ukraina dan Ancaman Stabilitas Keamanan

KolomPetempur Asing dalam Konflik Rusia-Ukraina dan Ancaman Stabilitas Keamanan

Konflik Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda akan berakhir setelah dua pekan lebih berlalu. Invasi Moskwa–di mana Vladimir Putin lebih memilih istilah operasi militer khusus–yang mulai dilancarkan sejak 24 Februari 2022 ini memunculkan kenyataan baru berupa membludaknya milisi bayaran dari Suriah yang diangkut ke Ukraina. Realitas tersebut oleh Musthafa Abdurrahman, seorang wartawan pengamat Timur Tengah, disebut sebagai jalur neraka yang membentang dari Timur Tengah menuju Ukraina. Diksi neraka setidaknya merujuk pada ancaman stabilitas keamanan bagi Ukraina dan sejumlah negara terkait yang akan ditimbulkan milisi hasil impor dari Suriah tersebut ke depannya.

Di Suriah sendiri, milisi asing bersenjata dari berbagai faksi masih bercokol hingga kini, pasca sebelas tahun perang berlalu di sana. Keberadaan mereka menyebabkan keresahan tak berujung, karena sampai sekarang pun masih gemar merusuh, melakukan serangan, atau bahkan bertikai satu sama lain antarpetempur. Belum ada kata usai untuk prahara Suriah yang salah satunya ditengarai keberadaan milisi bersenjata tersebut.

Rekrutmen bagi pemuda Suriah untuk diterjunkan dalam peperangan guna membantu Rusia sudah aktif dibuka. Mengutip dari Harian Kompas, Selasa (8/3/2022) yang menyebut, bahwa al-Sharq al-Awsath, harian berbahasa Arab, mengungkap adanya 23.000 pemuda Suriah yang telah terdaftar sebagai petempur bayaran untuk menyokong Rusia dalam menghadapi Ukraina. Konon mereka merupakan milisi yang tergabung dalam Satuan Pertahanan Nasional bentukan Iran pada 2012 dan Batalyon al-Bustan pimpinan Rami Makhluf, sepupu dari Presiden Bashar al-Assad.

Pertemuan dewan keamanan nasional Rusia pada Jumat (11/3/2022) juga menguatkan tren pelibatan milisi bayaran dari Suriah tadi. Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, mengatakan bahwa milisi itu dalam beberapa tahun terakhir telah membantu Rusia dalam memerangi ISIS di Suriah. Pendek kata, dua kelompok tadi adalah loyalis pemerintah Bashar al-Assad dalam perang Suriah selama ini, yang membantu melawan oposisi, di mana termasuk di dalamnya kelompok teroris seperti ISIS dan Jabhat al-Nusra. Dan kini pasukan loyalis Assad itu berpindah ke Ukraina dengan tugas utama menjaga lokasi-lokasi strategis di beberapa kota di Ukraina yang telah direbut pasukan Rusia.

Kontrak yang mereka teken untuk gaji sebesar Rp 100 juta mensyaratkan dua hal, yaitu para milisi dilarang pulang ke Suriah selama masa tujuh bulan bertugas di Ukraina dan kontrak tersebut tak ada hubungannya dengan pemerintah Suriah.

Di lain pihak, sebagai sekutu Kiev, AS diduga kuat bakal mengirim milisi ekstremis ke Ukraina untuk membantu pasukan Ukraina melawan Rusia. Wakil Menlu Suriah, Bashar Jaafari, sejak awal Maret telah memprediksi bahwa milisi ISIS serta Jabhat al-Nusra dari Suriah akan dikirim oleh AS ke Ukraina. Mengingat, mengirim petempur bayaran–teroris sekalipun–di kawasan konflik adalah praktik yang telah mapan bagi AS.

Perkiraan tersebut pun dikonfirmasi oleh Harian al-Mayadeen pada Selasa, (8/3/2022). ‘Jihadis’ dari Idlib telah tiba di Ukraina untuk melawan serangan Rusia. Turki menjadi jalur yang mereka lewati untuk mencapai Ukraina. Mereka adalah para ekstremis dari kelompok teror Hayat Tahrir al-Sham (branding baru dari Jabhat al-Nusra). JN berganti nama sebab telah resmi dimasukkan dalam daftar teroris oleh PBB.

Dalam al-Mayadeen disebutkan, ada sekitar 450 ekstremis Arab serta warga negara asing yang telah sampai di Ukraina. 300 di antaranya adalah warga negara Suriah dari pedesaan Idlib dan Aleppo. Milisi bersenjata ini kebanyakan adalah veteran perang Suriah yang telah menyebabkan masalah di Idlib. Sementara 150 petempur lain berasal dari Perancis, Belgia, Tunisia, Maroko, Chechnya, China, serta Inggris. Sebagai kompensasinya, milisi Suriah dikatakan akan menerima uang antara $1200-$1500. Tapi kurang jelas berapa bayaran yang akan diterima petempur dari negara yang lain.

Baca Juga  Ramadhan Bulan Syahrul Ukhuwah

Untuk diketahui, Idlib merupakan kawasan di barat laut Suriah yang menjadi basis kelompok-kelompok pemberontak dan ‘jihadis’ yang selama ini ingin menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Seperti disebutkan sebelumnya, di Suriah ada banyak faksi milisi bersenjata. Negeri tersebut menjadi ladang subur beragam kelompok milisi yang dipelihara sejumlah pihak yang berkepentingan sejak gejolak Arab Spring.

Dalam konteks perang Rusia-Ukraina, milisi bersenjata Suriah nampak terbagi menjadi dua. Satu pihak dari pasukan loyalis Bashar al-Assad berdiri di pihak Rusia. Peluang menjadi tentara bayaran di Ukraina dengan gaji besar tentu menjadi pilihan menggiurkan bagi pemuda Suriah. Terutama di tengah perokonomian Suriah yang kacau akibat perang sejak 2011. 90 persen dari 17 juta penduduk Suriah hidup dalam garis kemiskinan menurut laporan PBB. Sebab itu, meskipun riskan, tawaran menjadi tentara bayaran ini banyak peminatnya.

Syahdan di pihak lain ada kelompok pemberontak serta ‘jihadis’ yang kontra rezim Assad siap maju membela Ukraina dalam pertempuran. Milisi yang didatangkan dari rahim kelompok teror inilah yang sangat potensial mengancam stabilitas keamanan dan bisa menjadi bom waktu bagi Ukraina.

Bukan tidak mungkin Ukraina akan menjadi ‘surga baru’ bagi petempur dari Suriah juga sejumlah negara lain. Perang yang belum menunjukkan tanda akan berakhir itu dapat menyeret Ukraina bernasib laiknya Suriah atau Libya yang terkoyak karena intervensi pihak luar dan menjamurnya milisi bersenjata yang ikut campur dalam persoalan dalam negeri mereka. Baik Suriah maupun Libya harus menanggung ekses perang selama bertahun-tahun. Teror dan aksi kekerasan bisa terjadi kapanpun.

Melansir dari Harian Kompas Senin (14/3/2022), Hassan Abou Thalib, seorang pengamat politik Mesir dalam harian al-Sharq al-Awsath edisi Selasa (8/3/2022), mengingatkan dampak buruk dari kehadiran milisi asing di Ukraina. Menurutnya, Ukraina bisa seperti Afghanistan pada tahun 1980-an ketika milisi asing dari beberapa negara Arab datang berbondong-bondong untuk membantu mujahidin Afghan menghadapi pasukan Soviet. Usai perang berakhir pada 1989, para petempur asing yang mengantongi pengalaman perang tadi pun malah mengancam keamanan negara masing-masing dengan melancarkan beragam aksi kekerasan.

Masih menurut Abou Thalib, milisi asing yang membanjiri Ukraina sekarang, sangat mungkin mengancam keamanan Eropa setelah perang Ukraina nanti berakhir. Sepertinya relevan untuk mengetengahkan dampak yang dialami Indonesia disebabkan para veteran perang yang pulang dari Timur Tengah (foreign fighter returnees). Dalam jurnal Politica (2020) dijelaskan adanya ancaman asimetris dari kembalinya para WNI yang menjadi kombatan perang di Suriah. Di antara alumni perang Suriah itu menjelma menjadi kekuatan teror yang mengancam stabilitas keamanan negeri ini, sebab mereka memiliki keterampilan militer, kekuatan jaringan internasional, taktik serangan lone wolf, serta indoktrinasi ekstremisme kekerasan.

Dengan demikian, mengacu pada pengalaman perang Afghanistan dan perang Suriah juga Libya, campur tangan petempur asing dalam suatu konflik dapat mengancam stabilitas keamanan secara dua arah. Yakni ancaman bagi negara yang didatangi para milisi, dalam hal ini Ukraina, serta negara asal masing-masing petempur yang terlibat. Keterlibatan milisi asing dalam konflik Moskwa-Kiev ini dikhawatirkan sejumlah pihak akan memiliki dampak panjang. Ketika stabilitas keamanan terancam, maka domain kemanusiaan akan menjadi pertaruhan. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.