Dakwah Arif Wali Songo Harus Ditiru

KolomDakwah Arif Wali Songo Harus Ditiru

Sebuah video yang memerlihatkan seorang pria menendang sesajen di lokasi erupsi gunung Semeru viral sejak tempo hari. Video berdurasi 30 detik itu mendapat banyak kecaman dari masyarakat. Selain menyakiti hati penduduk setempat, tindakan tadi juga berpotensi menimbulkan gesekan antarumat. Sesajen tersebut adalah salah satu tradisi warga lokal sekitar Semeru yang dilakukan dalam rangka ruwatan pasca bencana erupsi. Kita boleh tak percaya bahkan tidak suka pada ritual tertentu, tapi jangan menghinanya atau memaksakan keyakinan kita pada orang lain. Islam adalah agama yang arif dan toleran. Dalam proses penyebarannya di Nusantara, Islam mampu berdialog secara damai dengan khazanah lokal yang direpresentasikan oleh dakwah Wali Songo.

Islam dapat diterima secara luas di Nusantara lantaran dakwah Wali Songo yang bijak, strategis, lentur, dan akomodatif. Para wali paham betul fikih dakwah, di mana kondisi masyarakat dan taraf pemahaman mereka sangat dipertimbangkan dalam menyampaikan ajaran agama. Sebelum Islam tiba, masyarakat kita hidup dalam tradisi Hindu-Budha dan aliran kepercayaan yang kokoh dan mapan. Tentu bukan perkara mudah menawarkan ajaran baru dan asing pada pemeluk teguh suatu keyakinan.

Wali Songo melakukan pendekatan melalui kebudayaan yang telah lama dipegang masyarakat setempat, seperti sistem religi dan kepercayaan, kesenian, pengetahuan, organisasi kemasyarakatan, mata pencaharian, dan lain sebagainya. Yang dengan itu upaya islamisasi mereka mendapat sambutan baik dari masyarakat. Para penduduk lokal tidak merasa terancam akan keberadaan juru siar Islam ini karena sikap akomodatif mereka.

Paling tidak ada dua ciri menonjol dari strategi dakwah Wali Songo di bumi Nusantara. Pertama, bertahap (tadrij). Islam tidak diajarkan secara terburu-buru dan mendadak. Semua melalui proses penyesuaian. Kadang kala secara lahiriah nampak berseberangan dengan Islam, tapi itu semata-mata proses dan strategi. Misalnya, pada fase tertentu masyarakat masih dibiarkan minum tuak. Karena paksaan tak akan membuat seseorang terketuk bahkan untuk sekadar menengok ajaran yang dibawa para wali.

Kedua, tidak menyakiti (‘adamu al-haraj). Islam yang dibawa para wali tidak disebarkan dengan cara mengusik budaya masyarakat lokal, bahkan keyakinan mereka juga tidak dihakimi. Mereka dirangkul, bahkan budaya dan keyakinan mereka diperkuat tapi dengan cara dan penanaman nilai-nilai Islam. Ada proses akulturasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal sehingga membentuk corak keislaman yang khas negeri ini. Para wali sangat menyadari bahwa keragaman budaya, etnis adalah keniscayaan sekaligus karunia Allah yang mesti disyukuri dan dipelihara, bukan diberangus atas nama kesucian agama.

Dalam dakwahnya mengenalkan Islam, Sunan Kalijaga sering mengadakan pertunjukan wayang yang amat digemari oleh masyarakat yang umumnya masih menganut kepercayaan lama. Lakon wayang yang merupakan dewa-dewa dengan kisah perjalanan ruhaninya kemudian diisi dengan ajaran tasawuf. Sunan Kalijaga juga mereformasi bentuk-bentuk wayang yang semula berbentuk gambar manusia menjadi gambar dekoratif dengan proporsi tubuh tak mirip manuisa.

Ia adalah dalang dengan kemampuan menakjubkan dalam memainkan wayang. Pertunjukan wayang bermotif dakwah ini ia lakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Bagi masyarakat yang hendak nanggap (menggelar) wayang tidak diminta bayaran berupa uang, melainkan dengan dua kalimat syahadat. Dengan taktik ini Islam pun berkembang cepat. Kisah mengenai dewa-dewa yang akrab dengan masyarakat tidak dihabisi, tapi dihidupkan dengan cara islami.

Baca Juga  Kiai Said: Yang Bukan Ahli Agama Jangan Bicara Agama

Corak pendidikan juga menjadi unsur budaya yang dimanfaatkan untuk instrumen dakwah. Sunan Giri adalah salah satu yang bergerak di bidang pendidikan. Ia mengembangkan sistem pesantren yang diikuti banyak santri dari berbagai daerah mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Makassar, hingga Flores. Pesantren adalah model pendidikan Islam yang mengadopsi bentuk pendidikan asrama atau biara yang digunakan para biksu dan pendeta untuk kegiatan belajar mengajar dalam tradisi Hindu-Budha. Dengan kata lain, pesantren adalah medium dakwah Islam yang merupakan wujud penyesuaian dengan kultur pendidikan masa itu.

Baca Juga  Meninggalkan yang Haram, Demi yang Halal

Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan terbuka dengan menciptakan tembang yang sangat digemari masyarakat sebab berisi ajaran ruhani yang tinggi. Berbagai tembang dan permainan anak yang kita kenal sampai sekarang, seperti cublak-cublak suweng dan jamuran adalah buah karya Sunan Giri yang dikembangkan sebagai medium dakwah yang menggembirakan namun berisi nilai-nilai Islam.

Sebagaimana sang ayah, Sunan Kalijaga, Sunan Muria mendakwahkan Islam juga melalui pendekatan kultural. Budaya bancakan dengan tumpeng (sesajen) yang biasanya dipersembahkan untuk roh atau dewa di tempat-tempat mistis dan angker digeser menjadi tradisi kenduri. Dalam kenduri orang-orang berkumpul di rumah yang memiliki hajat, lalu digelar doa bersama untuk leluhur atau orang yang sudah mati atau untuk tujuan-tujuan lain dengan doa-doa islami, seperti yasin dan tahlil.

Antara Islam dengan budaya lokal hampir selalu dimungkinkan terjadi proses akulturasi timbal balik. Kaidah ushul fikih yang menyatakan al-‘adah muhakkamah (adat itu dihukumkan) adalah sebentuk pengakuan terhadap kemungkinan proses akulturasi tersebut. Abdul Wahab Khallaf dalam ‘Ilm Ushul al-Fiqh menuturkan, bahwa adat istiadat atau kebiasaan suatu masyarakat adalah bagian dari sumber hukum Islam. Kaidah ini adalah bukti kearifan Islam, yang mana nalar Islam selalu terbuka dengan kebudayaan.

Sebagai wahyu langit, Islam bertugas memfilter unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan prinsip Islam. Adapun unsur budaya yang baik tetap dipertahankan. Pada kerangka dialog dan filterisasi inilah Islam menemukan makna eksistensinya serta fungsi transformatifnya. Islam pun benar terasa kehadiran dan maknanya di suatu wilayah atau tempat. Sebab, tiap komunitas masyarakat memiliki pengalaman jahiliahnya masing-masing, sebagaimana kejahiliahan bangsa Arab saat Rasulullah SAW diutus, lalu Islam datang dengan agenda transformasi sosial secara bijak.

Adanya akal budi, pikiran, dan perasaan pada manusia membentuk mereka menjadi makhluk berbudaya. Dengan perangkat tersebut manusia terus berproses secara dinamis, menyejarah hingga membentuk tradisi dan peradaban. Islam pun hadir untuk membimbing manusia dengan segala produk budayanya menuju arah yang lebih baik. Di sinilah dakwah ramah budaya menjadi sangat penting karena watak manusia yang inheren dengan budayanya. Jika keyakinan baru ditawarkan secara paksa dan kasar, yang terjadi hanyalah konflik.

Kejadian perusakan sesajen di bekas erupsi Semeru dengan dalih memberantas kemusyrikan tidaklah bisa dibenarkan. Alih-alih simpati pada Islam, yang ada adalah kecaman dan ekses yang kontraproduktif dari tujuan dakwah. Usaha dakwah Walisongo merupakan formulasi cerdas nan kreatif, yang berakar dari kedalaman pemahaman ajaran Islam, sehingga mampu tampil mengajak penuh kearifan. Tidak mendikte, tidak juga konfrontatif. Demikian adalah strategi dakwah yang bijak, santun, dan mesti ditiru. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.