Menasehati, Bukan Menghakimi

KhazanahHadisMenasehati, Bukan Menghakimi

Islam memiliki ajaran legal formal yang perlu ditaati oleh umatnya. Seperti, kewajiban Shalat, puasa, atau  larangan zina, mabuk, mencuri, mendurhakai orang tua merupakan etik utama yang disepakati dalam Islam. Kita, dianjurkan untuk saling menasehati dan memotivasi sesama umat Islam untuk teguh menjalankan ketentuan ini. Namun, perlu diingat bahwa dalam menyampaikan aturan-aturan ini, kita harus melakukannya dengan ketulusan dan kerendahan hati. Nasihat berarti memberikan perhatian yang tulus untuk kesejahteraan fisik, mental, dan spiritual kita semua, di kehidupan ini dan di akhirat. 

Menasehati sangat jauh berbeda dengan menghakimi, mempersekusi pelaku dosa, atau memusuhinya. Nabi SAW bersabda, Agama adalah nasehat baik yang tulus (HR. Muslim). Ibnu Daqiq menjelaskan bahwa nasehat baik terhadap kaum Muslim berarti “menjaga mereka dengan dakwah yang indah, meninggalkan niat buruk dan rasa dengki terhadap mereka. Mencintai kebaikan bagi orang lain sebagaimana yang dia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci kejahatan yang dia benci untuk dirinya sendiri.” (Syarah Arba’in an-Nawawiyah, 1:52)

Nasihat kita kepada orang lain harus selalu datang dari hati yang penuh kasih sayang. Memperbaiki perilaku orang lain dimaksudkan untuk menguntungkannya, bukan mempermalukan atau merendahkannya. Mengajak pada kebaikan dan melarang kejahatan harus dilakukan dengan kelembutan dan kerendahan hati, bukan dengan kekerasan dan kesombongan. Menggunakan bahasa yang vulgar, jelek, atau menyinggung hanya akan membuat orang marah dan menutup diri terhadap nasihat, sehingga menggagalkan tujuan dari nasehat itu. 

Kita dapat melihat hikmah tentang nasehat yang tulus dari sunnah Nabi. Dalam suatu riwayat, Nabi SAW didatangi seorang pria yang meminta izin untuk melakukan zina. Nabi tidak mencelanya, melainkan mengajaknya bernalar. Pemuda itu berkata kepadanya, “Ya Rasulullah, izinkan aku berzina.” Nabi SAW berkata, “Apakah kamu rela kalau ibumu dizinai orang lain? Laki-laki itu berkata, “Tidak, demi Allah”. Nabi SAW berkata, “demikian pula orang-orang tidak akan menyukainya untuk ibu mereka”. Nabi SAW terus menanyakan pertanyaan seperti ini, tentang bagaimana jika putri, saudari kandung, bibi, atau perempuan anggota keluarganya juga berzina dengan orang lain. Hal itu membuat pria tersebut berpikir lebih panjang. Pada akhirnya, Nabi SAW meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya.” Doa beliau dikabulkan dan lelaki itu pergi dengan tekad untuk tidak melakukan dosa lagi. (HR. Ahmad)

Baca Juga  Vaksinasi, Sarana Hifzun Nafs
Baca Juga  Politik Islam dan Islamisme Politik

Nabi SAW lebih memilih berdialog dan mengajak pria itu untuk berpikir logis, cara tersebut menumbuhkan empati alami dan rasa kesopanan. Beliau sama sekali tidak mencelanya, meskipun fakta bahwa meminta izin untuk berbuat dosa sangat keterlaluan. Seorang mukmin harus mwnjaga hubungan dengan orang yang tersesat di dalam dosa. Mereka yang bergumul dengan kebiasaan dosa adalah orang yang membutuhkan bantuan dan bimbingan, bukan bullying.  

Kedengarannya agak klise, tapi Islam memang mengajarkan kita untuk mencintai orang berdosa dan membenci dosa. Ini bukanlah ajaran yang dibuat-buat yang diimpor ke dalam Islam. Sebaliknya, inilah yang disimpulkan oleh para pendahulu yang saleh dari Al-Qur’an dan Sunnah. 

Ibn Rajab menulis dalam kitabnya Jami’ al-Ulum wa al-Hikam  (Vol. 1, h. 308), “Beberapa dari para pendahulu yang saleh berkata, orang-orang yang mencintai Allah melihat dengan cahaya Allah dan mereka menyayangi orang-orang yang mendurhakai Allah. Mereka membenci tindakan dosa tetapi menunjukkan belas kasihan kepada pendosa sehingga melalui nasihat mereka, pelaku dosa mungkin akan bertaubat. 

Jadi, ketika kita berbicara untuk menasehati seseorang tentang etika Islam, tentang larangan zina, mabuk dan lain sebagainya, di hadapan orang yang melakukannya, tujuan kita adalah untuk membimbing orang menjauh dari perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain, menghindarkan dia dari kerusakan fisik, emosional, psikologis, dan spiritual. Hal itu harus dilakukan dengan cara yang sehalus mungkin, inklusif dan tidak menghakimi. Aturan itu dimaksudkan untuk menjaga kita tetap aman, secara individu dan kolektif, bukan untuk melumpuhkan atau mencekik kita. Nasihat harus selalu bersumber dari hati yang penuh kasih sayang.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.