Gus Baha: Jangan Remehkan Orang Suka Shalawat tapi Tak Shalat

BeritaGus Baha: Jangan Remehkan Orang Suka Shalawat tapi Tak Shalat

Mendapati orang yang tak shalat, tidak jarang tersisip kecurigaan dalam hati kita. Karena merasa telah menunaikan shalat seolah kita berhak meremehkan mereka yang tak mendirikannya. Bukan sikap yang elok, sebab sekalipun secara fisik orang itu tak nampak beribadah, namun bagaimana hatinya kita tidak mengerti dan tak berhak menghakimi.

Dalam salah satu ceramahnya, Gus Baha berkisah tentang seorang pemabuk yang mencintai Nabi. Pemabuk tersebut bernama Abdullah. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan khimar. Nabi SAW sering dibuat tertawa karenanya. Ia adalah pemabuk berat, bahkan tak segan mabuk di masjid Nabi. Para sahabat yang geram dengan kelakuan Abdullah, menyebutnya fasik dan menyuruhnya untuk tak bermaksiat di masjid Nabi. Pemabuk itu mengatakan jika tak melihat Nabi ia merasa tidak nyaman.

“Singkat cerita ada sahabat yang mengomentari perilaku Abdullah yang dinilainya tak pantas, ‘Wahai Khimar, kamu itu orang yang dilaknat Allah’”, tutur Gus Baha. Mendengar hal tersebut Nabi marah dan bersabda, Kamu jangan melaknat dia, sebab dia menyukai Allah dan Rasul-Nya. Meskipun dia seorang peminum khamr, tapi ada Allah dan Rasulullah di hatinya. Terlepas dari itu, Nabi tetap profesional dalam memberikan hukuman yang semestinya bagi Abdullah karena minum khamr.

Gus Baha memberikan penjelasan lebih lanjut mengutip dari kitab Ihya ‘Ulumiddin, bahwa pemabuk tersebut tidak dihilangkan sifat cintanya (mahabbah) kepada Allah dan Rasul hanya karena maksiat. Dari sini Ahlussunnah menyepakati bahwa orang maksiat itu bukan berstatus memusuhi Allah dan Rasulullah. Karena maksiat adalah bawaan kelemahan, kebodohan, dan lalainya manusia.

Baca Juga  Ngaji Pemikiran Keislaman Bung Karno: Api Islam Motor Terbesar Umat Manusia

Kesalahan adalah utuh kesalahan. Tapi tidak menjadikan kafir, dan bukan berarti pula kita tidak cinta Allah dan Rasul-Nya. Maksiat bukan penghalang untuk mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, misalkan ada seseorang bertampang preman, penuh tato, nampak jarang shalat tapi menghadiri majelis shalawat itu bukanlah masalah, karena memang ia menikmatinya. Barangkali berkah shalawat Nabi justru bisa menjadi sebab hidayah baginya. Karenanya jangan ada komentar meremehkan, seperti menganggap tak berguna shalawat karena ia tak shalat. Tidak ada yang tahu, perkara apa yang akan menjadi penyelamat kita di akhirat kelak. Amal ibadah kita barangkali bukan apa-apa dibanding shalawat salam dan cinta pada Nabi. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.